
Happy reading
Selamat hari Kamis
Mobil yang di kemudikan Tom sudah memasuki pelataran villa, villa yang sudah Tom reservasi sejak kemarin, ini semua Tom lakukan demi bisa berlibur bertiga sebelum masa sibuk dengan pekerjaan yang menunggunya.
Di kaca spion mobilnya, Tom memperhatikan Aira yang memilih duduk di jok belakang tersenyum cerah, kedua matanya melirik kearah kanan kiri membuat ekspresi wajahnya yang begitu takjub melihat pemandangan villa yang begitu indah.
"Wow...! Kelen pa, Aila suka..." Serunya Aira dengan kedua matanya yang berbinar seketika melihat pemandangan perbukitan.
"Ayo Pa, Ma tulun! Aila udah ndak sabal." Ucapnya Aira. Aira beringsut turun dari tempat duduknya, tangannya terulur untuk membuka handel pintu mobil, tetapi tidak bisa di buka meskipun berulang-ulang Aira untuk membukanya.
"Pa, pintunya cucah, Aila ndak Ica! olongin Aila dong Ma." Tutur Aira dengan puppy eyes dan mengedipkan matanya secara lucu.
"Papa, Mama kok diam ndak antunin Aila untuk bukain pintunya cih." Ucap Aira yang merajuk dengan bibirnya mengerucut ke depan.
Merasa tidak ada tanggapan dari kedua orang tuanya, Aira memilih diam saja dengan wajah cemberut-nya, kedua tangannya sudah Aira letakkan di dadanya, bibirnya terus saja mengerucut dengan gerutuan khas anak kecil yang sedang badmood.
💚💚💚
Keduanya menoleh ke belakang melihat Aira-nya, bagi Intan itu sangat menggemaskan, ingin rasanya menguyel-uyel pipi gembil-nya. Tetapi hanya sebatas niatnya di dalam hatinya, karena Aira yang sekarang tidak seperti yang dulu, sekarang buat mencium saja sangat susah apalagi sekarang Aira memilih tidur di kamarnya sendiri.
Bila mengingat itu Intan jadi sedih, Aira-nya sudah beranjak dewasa semakin hari, Aira akan menjadi gadis yang dulu kecil akan menjadi gadis menuju dewasa dengan berjalannya sang waktu, dewasa itu pasti, dan tua itu pasti.
"Sayang....." Sapa Tom menepuk pundak istrinya.
"Iya, ada apa?" tanyanya Intan.
__ADS_1
"Kamu kenapa? malah tanya balik ke Aku, tadi malah diam saja di ajak turun tidak ada jawaban." Tutur Tom yang beruntun seperti truk gandeng.
"Nggak apa-apa Mas, ayo turun!" Intan mengalihkan pembicaraan.
Sang suami turun dari mobil terlebih dahulu, memutari mobilnya untuk membukakan pintu untuk istrinya dan Anaknya. Setelah mereka bertiga sudah berada di luar mobil, tiba-tiba ada pekerja villa yang datang tergopoh-gopoh dari arah samping.
"Selamat datang tuan Tom dan nyonya..." Sapa pekerja villa dengan membungkukkan badannya.
Makasih Mang Mamang." Ucap Tom dengan tulus. Intan juga memberikan senyum tulusnya juga, seperti yang suaminya lakukan.
"Hai Kakek....." Sapa Aira dengan melambaikan tangannya.
"Hai juga nona kecil, salam kenal dari Mang Mamang." Jawabnya sang Kakek.
"Mari tuan, nyonya, dan nona kecil Mamang antar ke dalam." Tutur mang Mamang. Mamang masuk ke dalam villa dan diikuti Tom, Intan, dan Aira. Mereka celingak-celinguk melihat sudut ruangan yang di tunjukkan mang Mamang, ruangannya sangat luas, ruang tamu minimalis, dua kamar yang menghadap langsung ke area perkebunan.
"Wow...! Aila suka Ma." Serunya Aira dengan wajahnya terus saja melempar senyum bahagianya.
💚💚💚
Satu jam berkeliling villa, ada binar bahagia di mata kedua perempuan yang dicintainya, ada rasa yang menghangat di hatinya.
"Sekecil-kecilnya usahamu bila itu di lakukan dengan ikhlas untuk membahagiakan pasangan, pasti akan selalu sampai ke hati ke orang yang kita sayangi."
Mereka memesan makanan, yang sengaja di datangkan khusus untuk melayani tuan Tom dan keluarga. Tom ingin menikmati masa-masa bulan madu dengan istri dan anak, Tom ingin membalas waktu yang dulu yang belum Tom sempat membahagiakan istri dan anaknya.
Tom ingin membayar waktu yang dulu, tidak menemani masa-masa kehamilan istrinya, dan tidak menemani masa-masa perjuangan istrinya dalam melahirkan buah cintanya. Bila mengingat masa-masa itu ingin rasanya mengulang kembali masa lalu, menjadi masa yang sekarang.
__ADS_1
Makanan yang di pesannya sudah di hidangkan, tertata rapi dengan berbagai menu spesial yang khusus Tom pesan untuk makanan kesukaan istri dan anaknya.
"Mas mau makan dengan apa? Intan ambilkan." tanyanya Intan yang sudah mengambil nasi di piring suaminya, Intan menunggu jawaban suaminya dengan sangat sabar.
"Sama ayam goreng kremes aja deh, Yang." Jawabnya Tom bersemangat, air liurnya sudah mengucur deras melihat sambalnya yang menggugah selera makannya.
Setelah mengambil makanan untuk suaminya, Intan mengalihkan perhatian dengan putrinya yang dari tadi masih bingung memilih dengan menu makanan apa? baginya semuanya menggugah semangat makannya, di tambah lagi ada hidangan makanan kesukaannya yang membuat Aira tidak bisa tahan tidak makan.
"Aila au ama ayam sepelti Papa, Ma." teriaknya Aira tetapi tidak dengan nada keras, hanya dengan suara pelan.
"Iya sayang..." Jawabnya Intan.
Setelah meladeni suaminya, anaknya dengan urusan perutnya. Intan sendiri mengambil makan, yang perutnya dari tadi minta diisi, menu di depannya membuatnya khilaf melupakan program dietnya. Suaminya lebih suka dengan tubuh berisi-nya, maka dari itu semenjak menikah Intan tidak pernah ikut program diet lagi, sekarang tubuhnya lebih berisi dan agak gemukan.
Setelah menikmati hidangan makanan, mereka bertiga jalan-jalan sebentar supaya nasinya tidak menumpuk di tubuhnya. Ketiganya menikmati udara sore di sekitar villa, ada beberapa petani sayuran dan buah yang sedang memanen hasil kebunnya.
Ketiganya berkeliling sampai senja datang tergantikan gelap, Aira juga sudah tertidur di gendongan Papa-nya, rasa lelah tidak Tom pedulikan yang penting nanti malam Tom bisa menggarap sawah istrinya. Rasanya Tom sudah tidak sabar, bila mengingat sawah istrinya yang membuatnya mabuk kepayang, rasanya melayang-layang di langit ke tujuh, menuju puncak nirwana.
Setelah sampai villa, Tom menidurkan Aira di kamar sebelah, selesai menyelimuti tubuh Aira dan mengecup keningnya. Tom menutup pintu secara pelan, dan meninggalkan Aira untuk tidur sendiri.
Jalannya mengendap-endap langsung menerkam tubuh istrinya dari belakang, bibirnya sangat lihai memainkan leher istrinya meninggalkan jejak keunguan, dan tangannya menyusup ke dalam bajunya, memainkan benda kenyal kesukaannya. Lalu tangannya melepas pengait penutup benda kenyal, dan melucuti pakaian istrinya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, keduanya sudah tidak mengenakan pakaian sama sekali. Melihat istrinya yang lebih montok, membuatnya tidak sabaran ingin membuat istrinya meneriakkan namanya.
Setelah proses penyatuan tubuh keduanya, Tom sangat semangat menggarapnya, memberikan benih-benih cinta mereka berdua, berharap benihnya tumbuh berkembang di sawahnya Intan.
Keduanya mengulang beberapa ronde, tidak ada kata lelah mereka seperti di mabuk cinta terus dan terus. Keringat sudah mengucur deras membasahi dahinya, dan tubuhnya Intan terlonjak-lonjak, karena permainan suaminya yang begitu tidak ada kata lelah. Pada akhirnya keduanya terengah-engah menikmati akhir permainannya, nampak jelas senyum di sudut bibir keduanya sangat terpuaskan dengan aktivitas mereka lakukan.
__ADS_1
**Partnya gimana nich? kalau ada yang mau kasih Krisannya di persilahkan ya. Jangan sungkan-sungkan autthor tidak galak Hahahaha😁😁😁
Terimakasih yang sudah kasih vote,like, komentar, dan Rate-nya**.