Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Sesion 2 Part EnamPuluh satu


__ADS_3

Happy reading


Selamat membaca


Keesokan paginya mertuanya, kedua orang tuanya, dan Kakak Aira datang ke rumah sakit, ke tempat Adik kembarnya di lahirkan, dan menjenguk Mamanya.


Kreeetttt...


Pintu ruang rawat Intan di buka sedikit keras, menampilkan giginya yang putih dengan cengiran khasnya.


"Mama...." Sapanya sedikit berlari kecil menghampiri Mamanya yang masih terbaring di tempat tidur.


"Hai kak, ke sini sama siapa?" tanya in celingak-celinguk mencari keberadaan orang lain di belakang Aira.


"Kakak ke cini ama dua Oma, dua Opa uga, mah... " Jawabnya dengan menghitung hari kecilnya, menunjukkan ada empat orang.


"Mana Kak?" tanyanya Intan lagi.


"Masih di lual, tadi Kaka lali-lali bial cepat sampai tempat Mama, Papa, dan Adik..." Jawabnya.


"Adik kembalnya Kaka, mana mah kok Kaka ndak lihat.." Tutur Aira yang celingak-celinguk mencari keberadaan Adik bayi-nya.


"Adik lagi bobok, Kak..."


"Bobok dimana? mah kok Kaka ndak lihat di cini!"


"Diruang bayi kak, entar juga di antar kesini sama mbak perawatnya , kalau Adik sudah kehausan seperti kaka dulu pasti nangis kan...


"Oooo..."

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban sang Mamanya, Aira sedikit diam memperhatikan ruang rawat Mamanya yang luas seperti kamar Mama Papa di rumah.


Tidak berselang lama pintu ruang rawat Intan di buka kembali, ternyata suaminya yang datang membawa kantong plastik di sebelah tangannya. Diikuti kedua orang tuanya, dan juga mertuanya turut hadir menjenguknya, dan buah tangan yang di bawanya.


"Ehhh kakak udah di cini, kok nggak bareng Oma dan Opa, Kak?" tanya Tom sedikit berpikir keras menghadapi Putri semata wayangnya.


"Hihihi tadi Kaka lali-lali bial cepat ketemu Mama, dan Adik Papa?" Jawabnya Aira tegas dan mantap.


"Besok-besok nggak boleh lagi ya, takut entar ada yang nyulik Kaka gimana?" tanya Tom sedikit menakut-nakuti, supaya kejadian ini tidak terulang kembali.


"Maap Kaka calah, ndak ulangin lagi..." Jawabnya sedikit ada rasa bersalah.


"Good girl..."


Aira langsung berlari memeluk Papa-nya, dan mengecup pipinya bertubi-tubi.


"Kaka lindu tauk!"


💚💚💚


"Hai Sayang, ada yang sakit?" tanya Mamanya untuk mencairkan suasana.


"Sedikit Mah..." Jawabnya Intan.


Mereka larut dalam obrolan ringan, tentang pengalaman melahirkan Baby twins yang penuh perjuangan, dan semangat '45.


Rasanya sangat berbeda melahirkan bayi tunggal, lebih tegang, deg-degan melahirkan Baby twins. Rasa sakit itu tergantikan kala melihat kedua putranya lahir dengan selamat, sehat, dan tidak kurang dari suatu apapun.


Kretttt...

__ADS_1


Tiba-tiba pintu terbuka, dua perawat masuk ke ruangannya dengan mendorong box bayi. Suara tangisan sangat meleking, yang berada di ruang rawat pun ikut merasakan aura-aura baby twins kehausan, dan minta untuk di letakkan di sumber ke Mamanya.


"Uluhhhh uluh gantengnya Mama haus ya?mau minum ya?" Ucap Intan mengambil si kakak di dalam box. Kakaknya begitu keras seperti tidak sabaran menghisap sumber makannya dari Mamanya.


Setelah kenyang giliran si adik yang di ambilnya, sedang kakaknya sudah di kasihkan ke suaminya.


Intan tersenyum tipis melihat suaminya, dan Kaka Aira yang antusias untuk menepuk-nepuk pantat si kakak.


Selesai memberikan sumber makanan ke dua jagoan, tiba saatnya Intan beristirahat mulai menikmati makanan yang sudah di beli suaminya, dan makanan yang di bawa kedua orang tuanya, dan juga mertuanya.


Setelah memberikan sumbernya, Intan merasa kelaparan. Dua jagoannya begitu sangat kehausan, membuatnya harus ekstra sering makan supaya sumbernya cukup buat dua jagoannya.


Kaka Aira tidak kalah bahagianya, melihat sang kembar yang sangat lahap menghisap sumber makanannya. Tangannya Aira terus saja mengelus lembut pipi sang adik, duo jagoan pun merespon apa yang di lakukan kakaknya dengan tersenyum tipis, dan kedua matanya yang merem melek.


"Ma, lihat Adiknya Senyum ke Kaka.." Seru Aira yang kegirangan melihat respon sang adik.


"Intan menanggapinya dengan senyum manisnya, dan satu tangannya terulur mengelus puncak rambutnya Aira.


"Iiihhh Mama belantakin lambutnya Kaka..." Tutur Aira yang mengerucut bibirnya lima sentimeter.


Semua yang ada di ruang rawat Intan, semua tertawa terbahak-bahak menertawakan Aira dengan mode gaya cemberut-nya.


Aira yang merasa di tertawa-kan semua orang, malah ikut tersenyum tipis melihatkan deretan giginya yang putih. Cemberut-nya langsung hilang, tergantikan dengan senyum mataharinya.


Maaf ya part sedikit.


Di tunggu next part-nya


Jangan lupa untuk mampir ke cerita autthor lainnya ya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak untuk selalu Like, komentar, vote, dan Rate-nya untuk semua cerita autthor ya di tunggu sebanyak-banyaknya.


__ADS_2