Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 128


__ADS_3

...**Happy reading...


...Jangan lupa Rate-nya**...


Mereka tidur bertiga di tengah-tengahnya ada Kenzi yang sudah tertidur pulas memeluk bundanya, Yudha membolak-balikkan posisi tidurnya untuk mencari kenyamanan, tetapi matanya tidak bisa terpejam sama sekali.


Semenjak menikah Yudha sangat ketergantungan terhadap istrinya, apa-apa harus istrinya yang menyiapkan kebutuhan sehari-harinya.


Yudha sangat susah untuk tidur bila tidak memeluk istrinya, dan menghirup wangi lavender yang ada di tubuh istrinya yang sangat menenangkan untuknya.


Sangat manja bila bersama istrinya seperti anaknya yang tidak bisa lepas dari bundanya, malam ini Kania di kuasai anaknya yang sudah tidur pulas memeluk bundanya, Yudha bisa apa? tidak bisa berkutik sama sekali.


Kania terganggu dengan gerakan kecil di ranjangnya. Kaniamembuka matanya, melirik sekilas ke arah suaminya yang masih membolak-balikkan badannya untuk mencari posisi ternyaman-nya.


"Sayang, kok belum tidur." tukasnya Kania yang menguap, karena tidurnya terganggu dengan gerakan kecil suaminya.


"Nggak bisa tidur, Yank." Sahut Yudha yang sudah memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke wajah istrinya.


"Kenapa?" tanya istrinya.


"Mau di peluk, Yank." Ucap Yudha yang sedikit manja, karena tidak bisa tidur.


"Ada Kenzi, sayang." Sahut Kania.


"Nggak apa-apa,Yank! pastinya nggak dengar kalau kita pelan-pelan, Mas ingin tidur peluk Kamu." Tutur Yudha yang sudah menguap berkali-kali.


"Peluk dari belakang ya, biar Kenzi di pojok sendiri." Sahut Kania yang menepuk-nepuk tempat tidur yang kosong.


Yudha bangkit dari tidurnya, dan berpindah tempat ke samping istrinya, dan memeluknya dari belakang. Tangannya Yudha tidak tinggal diam sudah mulai menyusup ke baju Piyama nya, dan memulai bergerilya kemana-mana untuk mencari kenyamanan.


Setelah menemukan gunung kembarnya, tangannya terus memegang nya, hingga terdengar suara dengkuran halus yang mewarnai kamarnya Yudha yang masih lajang dulu.


Tangan Kania terulur mengusap-usap lembut rambut suaminya, dan memandangnya wajah suaminya yang nampak pulas dari tidurnya secara sekilas, sebelum ikut mereka berdua untuk memejamkan kedua matanya.


Pukul 01.00 dini hari Kania terbangun karena haus, niat Kania bangun untuk minum air putih yang berada di atas nakas meja kamarnya.

__ADS_1


Sedikit kaget karena tangan suaminya sudah melepas tali bra-nya, dan mulai bergerilya ke bawah ke pusat intinya, dan memainkan nya yang sudah sangat becek.


"Aakhhh....Mas." suara desahan Kania bagaikan nyanyian yang merdu, dan indah bagi suaminya.


Yudha membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap kepada nya, dan mereka saling memandang dengan berkabut gairah. mereka berdua saling mendamba, saling memberikan isyarat ingin segera di tuntaskan.


Suaminya langsung menyambar bibir istrinya, lalu Kania membuka mulutnya dan menginvasi ke rongga mulutnya untuk bertukar saliva.


Mereka menikmatinya tidak memikirkan suara akan menganggu tidur anaknya, dan terdengar sampai luar kamarnya. Yang mereka butuhkan untuk menuntaskan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya.


Tangan suaminya turun ke bawah, menyingkap piyama keatas sebatas leher istrinya.


Yudha memandangi penuh dengan minat, berkat olahraga nya nampak setiap hari terlihat bentuknya lebih besar, dan menggairahkan.


"Mas, jangan di lihatin Kania malu." Bisik Kania.


"Ini indah, sayang." sahut Yudha dengan suara pelan.


Yudha memandangi bentuk gunung kembarnya dengan tersenyum misterius, dan tidak berkedip sama sekali.


"Jangan sayang, Mas ingin melihatnya." sahut Yudha yang mencegah tangannya Kania yang sudah berada di atas piyma tidurnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Yudha segera menyusu ke kedua gunung kembar istrinya, dan tangannya mulai nakal mencari ke bawah, ke pusat inti tubuh istrinya.


Kania sudah bergeliat berkeliaran seperti cacing kepanasan karena rangsangan suaminya bertubi-tubi.


"Mas....."


Belum selesai Kania membuka mulutnya, dan menyelesaikan berbicaranya sudah di bekap mulutnya dengan bibir suaminya yang sangat intens menari-nari di dalam mulutnya.


Mereka berdua melepas pagutan bibirnya, dan nafas keduanya nampak terengah-engah, karena sedang menghirup oksigen. Bibir istrinya membengkak berkat ulah suaminya yang nakal, dan tidak sabaran.


"Sayang, Mas masih ingin ini." Ucap Yudha yang sudah memegang pusat inti istrinya yang di bawah.


"Nanti kalau Kenzi denger, gimana?" bisik Kania.

__ADS_1


"Nggak gimana-gimana, tetapi Masih pengen dimasukkan ke ini." Tutur Yudha yang sudah sangat bernafsu.


Yudha mengendong istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi, untuk menuntaskan hasratnya yang mulai menggebu-gebu, yang sudah tidak bisa di tahannya lagi.


Mereka berdua melakukan olahraganya di dalam kamar mandi dengan berbagai gaya, dan posisi yang menurut mereka berdua sangat enak, dan nikmat.


Keduanya mulai terengah-engah setelah menikmati klimaks secara bersamaan, dan mereka berdua saling berpelukan sambil duduk diatas closet, dan Yudha membalikkan badan istrinya untuk mulai ronde selanjutnya.


Mereka berdua melakukan tidak kenal waktu, mereka selesai hingga subuh menjelang, karena mendengar suara tangisan Kenzi yang sedang mencari bundanya.


Unda.... hiks.... hiks...


"Unda ana?" Suara Kenzi yang sudah menangis, karena bundanya tidak ada di sampingnya.


Mendengar suara tangis anaknya, Kania bergegas memakai jubah mandinya, dan keluar dari tempat persembunyian dengan suaminya.


Kania menghampiri anaknya, dan menepuk dengan pok-pok pantatnya, langsung terdengar suara dengkuran halus dari anaknya yang mulai tertidur kembali.


Dirasa anaknya sudah tertidur pulas, Kania melepas dekapannya pelan-pelan, untuk kembali ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang bercucuran keringat.


Ceklek....


Kania membuka pintu kamar mandinya, dan menutupnya kembali dengan sangat pelan. Kania menghampiri suaminya yang masih duduk di atas closet, dan mulai duduk diatas pangkuannya.


Akibat gerakan istrinya yang berada di pangkuannya, membuat yang di bawah terbangun, dan Kania bisa merasakan tonjolan di antara paha suaminya yang sedang mencari sarangnya.


Yudha mengendus-endus leher istrinya, memberikan tanda keunguan disekitar leher, dada, dan perut istrinya.


Menurut Yudha, istrinya sangat seksi bila sedang tidak memakai sehelai benang karena nampak sangat menggairahkan, dan membuat hasratnya tidak terkontrol sama sekali.


Setelah puas memandangi tubuh istrinya, Yudha kembali melanjutkan aksinya yang tertunda, karena suara anaknya yang menangis mencari bundanya.


Setelah olahraganya yang begitu melelahkan, senyum tercetak jelas di keduanya, karena kenikmatan mereka berdua untuk saling memuaskan, saling mendamba untuk menuju pulau nirwana.


Mereka berdua membersihkan tubuhnya, dan kembali ke kamarnya. Mereka tidur dengan saling berpelukan, suara dengkuran halusnya yang menandakan mereka berdua sudah tidur dengan pulas, nafasnya yang saling berlomba-lomba saling bersahutan.

__ADS_1


Berharap hari esok akan lebih baik, lebih membahagiakan lagi untuk rumah tangganya yang baru seumur jagung. Masih harus belajar lagi untuk meraih kebahagiaan yang hakiki.


__ADS_2