
Dua Minggu kemudian....
Setelah satu minggu yang lalu Intan mengajukan surat pengunduran dirinya, dan pada akhirnya di ACC dengan alasan kedua orang tuanya. Hari ini, hari terakhir Intan bekerja di kantor, bertepatan dengan awal bulan seperti biasanya Intan menerima gaji di awal bulan.
Setelah berpamitan dengan Aira dan Nenek Salma, Intan memesan taksi online, setelah menunggu tiga menit taksi pesanannya sudah datang tepat di depannya.
Tepat pukul 07.50 WIB, Intan sudah tiba di kantor. Seperti biasanya Intan selalu menyapa seluruh pegawai yang bekerja satu kantor yang sama dengannya.
Intan terkenal pegawai yang sangat ramah, tidak sombong, tidak membeda-bedakan teman dengan teman lainnya baginya Intan semua sama, dan suka menolong siapapun yang mengalami kesusahan.
Pagi ini semangatnya Intan berkobar-kobar seperti pahlawan Indonesia, sungguh pekerjaannya hari ini sangat ringan, hatinya penuh dengan bunga-bunga cinta, sebentar lagi Intan akan pulang ke Indonesia, bertemu dengan keluarganya orang yang sangat Intan rindukan.
Jam berputar sangatlah cepat, baru saja tadi makan siang sekalian pamitan dengan bagian divisinya. Banyak air mata kehilangan, bukan hanya satu atau tiga bulan Intan bekerja di perusahaan ini, Intan sudah menganggapnya keluarga sendiri.
Banyak pengalaman dan keluarga yang baru yang Intan dapatkan, semuanya tidak akan Intan lupakan. Karena perusahaan ini tempat Intan bergantung dengan hidupnya, menghidupi Aira, memberikan sedikit tanda terima kasih untuk nenek Salma.
"Tok.... tok!...!" Intan mengetuk pintu ruangan Direkturnya berkali-kali sampai terdengar suara seseorang.
"Iya, masuk...." Jawabnya dari dalam.
"Permisi, tuan."
"Silahkan duduk!"
"Ada apa, Tan?"
"Saya mau pamit, tuan! Hari ini, hari terakhir saya kerja di perusahaan ini, banyak pengalaman dan keluarga baru yang saya dapatkan di tempat ini, saya ingin mengucapkan rasa terima kasih telah mau menampung saya untuk bekerja di sini." Tutur Intan yang kedua matanya sudah berkaca-kaca, rasanya berat tetapi Intan tidak boleh egois.
"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Nak Intan, sudah mau bergabung dengan perusahaan saya ini, sungguh saya berat untuk melepaskan Nak Intan, tetapi kalau itu sudah menjadi keputusan Nak Intan, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk karier mu di tempat yang lain." Sahutnya tuan direktur yang panjang lebar kali luas, sembari memberikan senyuman terbaiknya.
Setelah berpamitan, Intan beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangannya. Intan berjalan ke divisi untuk merapikan meja tempat kerjanya, dan ruangannya yang sebentar lagi akan di tinggalkan Intan.
Intan melihat sekelilingnya yang menjadi ruangan tempatnya bekerja, sangat intens Intan menatapnya, mulai dari sudut ruangan selalu meninggalkan kenangan.
"Terakhir kalinya...." batin Intan.
Puas memandangi ruangannya, Intan bergegas meninggalkan ruangannya. Senyum Lebarnya Intan perlihatkan kepada semua orang yang menatapnya, ada senyuman, ada tangisan.
Intan memeluk sahabatnya yang sudah Intan anggap kakak, mereka berpelukan sangat erat, menumpahkan semua air matanya. Kehilangan itu pasti, tetapi ini pilihan yang sudah Intan ambil.
__ADS_1
"**Jangan lupa! kalau ke Indonesia mampir ke rumah, Nia." Tutur Intan menguraikan pelukannya.
"Pasti, Tan," Jawabnya Nia. Mengacungkan jari jempolnya**.
Pelukan mereka berdua terlepas, dengan senyuman tulus dan lambaian tangannya. Intan mulai meninggalkan tempat kerjanya, ada setitik air mata yang turun membasahi pipinya.
"**Take care, Tan." teriaknya Nia.
"Pasti Nia! jagalah Di baik-baik." Intan membalikkan badannya dan mengacungkan jari jempolnya.
"Semua akan baik-baik saja, Tan." guman Intan menyemangati dirinya sendiri**.
***
Setelah bekerja seharian, Tom membereskan meja kerjanya karena sudah waktunya jam pulang kantor. Tom berjalan sembari bersiul, wajahnya berseri-seri, dan sudut bibirnya selalu tersenyum tulus.
Banyak karyawan yang menatapnya heran, ada yang berbisik-bisik membicarakan Tommy sekertarisnya Yudha. Semua karyawan tidak bisa berkata-kata dengan berubah yang signifikan, tidak biasanya Tom murah senyum, wajahnya pun juga sangat berbeda tidak seperti biasanya yang garang, kali ini lebih berseri-seri sangat kelihatan kadar ketampanannya.
***
Intan sudah sampai rumah tepat senja mulai meninggalkan kenangan, warna langit juga sudah berubah warna, hari juga sudah petang.
Air matanya tidak bisa Intan bendung lagi, air matanya mengalir begitu sangat deras membasahi pipinya. Berat rasanya Intan harus pulang ke Indonesia, tetapi Intan tidak boleh egois, Aira berhak kenal Opa Oma-nya.
Intan juga ingin mengenalkan Aira ke keluarganya, cepat atau lambat keluarganya pasti tahu keberadaan Aira-nya.
"Mama...." panggil Aira yang ingin berlari ke tempat Mamanya berdiri, yang tidak jauh dari tempat Aira berdiri.
"Iya sayang..." Intan berjongkok merentangkan kedua tangannya, sesekalii tangannya mengusap air matanya supaya Aira tidak tahu, kalau dirinya habis menangis.
Aira berlari dengan kedua tangannya yang merentangkan, Aira tertawa, tersenyum dengan sangat lucu.
"Hap...Hap..." Intan memeluknya sangat erat dan menciumi bertubi-tubi di seluruh wajahnya Aira.
"Jeli ma... jeli Aila....." Aira beringsut untuk melepaskan pelukan Mamanya, tetapi susah karena pelukannya cukup erat.
Keduanya tertawa bersama di bawah langit Singapura, Intan sangat bahagia melihat tawanya Aira, gadis kecilnya sudah tumbuh besar, dulu sembilan bulan Intan mengandungnya membawanya kemana-mana, susah senang, suka duka mereka lewati bersama.
Intan juga tidak akan bisa bila harus di pisahkan dengan Aira, yang merupakan jantung hatinya, belahan jiwanya, hidup matinya hanya untuk putrinya Aira.
__ADS_1
Intan mengendong Aira, dan membawanya masuk ke dalam rumahnya. Rumah ini yang sebentar lagi tinggal kenangan, akan di tinggalkan pemiliknya.
"Aira udah makan belum?"
"Belum Ma, Aila nunggu Mama pulang duyu! Aila au mam ama Mama"
"Aira, sudah pamit sama nenek Salma belum?"
"Sudah Ma!"
"Pintarnya anak Mama." ucap Intan yang memujinya.
"Aila itu lho, Ma." Ujar Aira membanggakan dirinya.
Keduanya memutuskan untuk makan di luar, karena Intan menghabiskan hari-hari terakhirnya di Singapura, di negara ini Intan mempunyai kehidupan baru, keluarga baru, di negara ini Aira lahir dan di besarkan dengan kedua tangannya dan bantuan nenek Salma, Aira tumbuh jadi gadis gembil yang menggemaskan.
***
Soal Papa kandungnya Aira, jauh-jauh hari Intan sudah memikirkan langkah apa yang harus di ambil setelah mereka berdua sampai di Indonesia.
Suatu hari nanti, Aira berhak tahu Papa kandungnya. Intan tidak mau kalau sekolah nanti, Aira di ejek teman-temannya yang tidak mempunyai ayah, sebagai seorang ibu Intan sangat tahu, sosok seorang ayah sangat penting untuk tumbuh kembang putrinya.
Ayah adalah cinta pertama bagi Anak perempuan. Ayah merupakan orang pertama yang mengungkapkan rasa cintanya untuk Anak perempuannya, meskipun Ayah tidak melahirkannya, tetapi perhatiannya dan kasih sayangnya sama besar dengan sosok seorang Ibu.
Part selanjutnya mau lanjut cerita Tom vs Intan?
Atau lanjut cerita Yudha vs Kania?
Ada yang rindu dengan keluarganya Pradipta Nggak nich?
Hayooooo dong dukung cerita autthor😁😁 caranya mudah kog, klik pusat misi dan pilih hadiahnya atau votenya.
Jangan lupa kasih autthor semangat
LIKE👍
KOMENTAR👍
VOTE👍
__ADS_1
RATE-NYA⭐⭐⭐⭐⭐