Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Sesion 2 part Lima puluh Empat


__ADS_3

Sepasang suami istri Tommy dan Intan tengah berbahagia, menantikan sang buah hati yang akan lahir ke dunia. Seperti rumah tangga lainnya, mereka menjalani hari-harinya penuh dengan rasa bahagia, Intan sudah tidak sabar menunggu dede utun. Meskipun masih beberapa bulan lagi, tetapi Intan sangat menunggu anak kedua, dan ketiganya melihat dunia.


Kehamilan ini sangat berbeda, sedikit rewel, dan banyak ngidamnya. Beda halnya dengan Kaka Aira dulu, di ajak kerja masih oke karena waktu itu Intan harus hidup mandiri di negeri orang.


Jika mengingat masa sulitnya dulu pasti kedua matanya sudah berkaca-kaca, bila mengingat masa susah dulu hanya seorang diri di negara orang dengan perut yang semakin membuncit, Intan harus mencari nafkah demi kebutuhan sehari-hari nya.


Masa susahnya dulu sudah berlalu, sudah tergantikan dengan kebahagiaan yang sekarang, Intan di percaya untuk mengandung kembali buah cintanya dengan suaminya.


💚💚💚


Yudha terlihat mondar-mandir di kantornya, ponselnya tidak lepas dari telinganya. Beberapa kali ada suara sedikit membentak, terkadang juga suaranya sangat lembut beda sekali bila sudah di kantor maupun di rumahnya.


Jika sedang ada di rumahnya Yudha akan bersikap ke bapak'an, sangat menyayangi keluarganya terutama sang istri, dan ke lima buah cintanya.


Tetapi beda halnya bila Yudha sedang di kantor sifatnya langsung berubah 180% Celsius. Terutama kepada pegawainya yang suka mangkir dari kerja tanpa keterangan, pekerjaannya tidak sesuai ontime pasti Yudha seperti singa kelaparan, siapapun pasti akan di terkam-nya.


Di kantornya, Yudha sedang uring-uringan karena jadwal laporan masalah keuangan tidak sesuai yang di perintahkan atasannya, mereka malah menyepelekan perintahnya. Sedangkan Yudha sudah memberikan kompensasi dua minggu, tetapi pekerjaan tidak sesuai deadline.


"Ahhh rasanya kepalaku mau pecah..." teriaknya Yudha sembari menjambak rambutnya.


Ceklek...


"*Sayang... Sapa Kania yang baru saja membuka pintu melihat suaminya memegang kepalanya, membuat Kania begitu khawatir kalau sampai suaminya sakit.


"Ada yang Sakit?" tanya Kania dengan raut wajah penuh ke khawatiran.


"Sedikit pusing honey...." Jawabnya Yudha yang sudah menyandarkan kepalanya di dada sang istri.


"Aku pijetin mau Mas?" tanya Kania untuk memastikan.


"Yudha mengangguk dengan seutas senyum tipis*..."


Mereka berdua sedang duduk di sofa ruangannya Yudha, kepalanya Yudha sudah di letakkan di kedua paha sang istri. Pelukan sang istri yang membuat Yudha tenang, kenyamanan ini membuatnya memberikan vitamin kembali.

__ADS_1


Usapan lembut sang istri, membuat Yudha sedikit demi sedikit mulai memejamkan kedua matanya. Kepalanya semakin menenggelamkan di perut sang istri, membuat Kania tersenyum mendengar dengkuran halus sang suami.


Satu jam sudah Yudha tertidur di pahanya Kania, usapan lembut membuat Yudha semakin terlelap dengan mimpi indahnya.


Dengan sangat pelan Kania meletakkan kepalanya Yudha diatas sofa, Kania berniat untuk beranjak ke dalam kamar mandi untuk buang air kecil, belum juga kepalanya diletakkan pada bantal sang suami sudah terbangun terlebih dahulu.


"*Mau kemana honey?" tanya Yudha dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mau ke kamar mandi, mau ikut?" tanya Kania yang ingin menggoda suaminya.


"Ikut!" Yudha berniat untuk bangun, tetapi Kania menahannya supaya suaminya kembali berbaring dengan alasan tidak akan lama. Akhirnya Yudha menurut titah sang istri, dan memilih merebahkan badannya kembali.


15* menit Kania sudah keluar dari kamar mandi, wajahnya lebih fresh, dan rasa kantuknya sedikit menghilang. Kania berjalan pelan menghampiri Yudha, malah tangannya di tarik Yudha dengan posisi yang tidak siap, tubuhnya langsung menindih tubuh suaminya.


Yudha langsung menyambar bibir sang istri, awalnya hanya kecupan kecil lama-kelamaan ada lidahnya sudah saling bertukar saliva.


Kania membalasnya tidak kalah dengan permainan suaminya, terus saja menuntut untuk di puaskan sekarang juga, meskipun keduanya masih di kantor.


"*Mas pintunya sudah di kunci belum?" Bisiknya Kania.


"Dengan senang hati Suamiku..." Sahutnya Kania mengecup pipinya Yudha*.


Mendengar jawaban Kania, dengan semangat '45 Yudha langsung membopong tubuh sang istri untuk masuk ke kamar rahasia. Di lihat dari luar, nampak tidak ada kamarnya karena ditutup dengan kursi kerjanya.


Keduanya saling memandang penuh damba, banyak kata cinta yang ingin mereka ucapkan, tetapi bibirnya sangat keluh. Seperti halnya Kania yang biasanya cerewet, Kania mati kutu karena di tatap sang suami dengan tatapan matanya yang tidak berkedip.


Suara jeritan manja keduanya bagaikan melodi lagu nan indah, Yudha terus memacu menaikkan turunkan hormon adrenalin sang istri. Meskipun sudah mempunyai empat anak, dan sudah melahirkan juga tetapi bentuk tubuh tidak ada yang berubah, masih seperti yang dulu waktu Kania masih gadis.


"*Mas cepatan gerakannya, Kania sudah mau keluar..."


"Tunggu sayang, kita keluar bersama*..."


Yudha membalikkan badannya sang istri, dan mulai bermain dari belakang membuat tubuh Kania terlonjak-lonjak keatas.

__ADS_1


Sang suami terus saja memompa dengan kekuatan penuh, mereka berdua ingin segera dituntaskan.


Suara erangan keduanya menandakan bahwa mereka baru saja mencapai gunung tertinggi puncak nirwana.


Nafasnya terengah-engah, Yudha menggulingkan tubuhnya dari sang istri, dengan kecupan di kening, dan ucapan rasa terima kasih. Mereka akhirnya berdua tertidur berpelukan, tidak ingat bahwa sang istri meninggalkan Anak-anaknya bersama bibik dirumah.


Senyum kepuasan tercetak jelas sepasang pengantin lama dengan lima Anak, keduanya masuk ke dalam alam mimpinya dengan posisi ternyaman-nya saling berpelukan seperti Teletubbies.


💚💚💚


Setelah pulang dari kantornya, Tom berinisiatif mengajak putrinya menginap di rumah kedua orang tuanya, dan mengajak Intan untuk makan malam berdua di luar.


Tom juga sudah menghubungi pekerja rumahnya supaya tidak masak banyak, sudah beberapa hari ini Tom merencanakan untuk makan malam yang romantis, Tom ingin membuat istrinya tidak tegang untuk menghadapi persalinan.


Tom juga sudah menghubungi Intan, dan Aira untuk bersiap. Karena Tom ingin makan malam yang romantis berdua, rencananya Tom ingin menitipkan Aira ke rumah Opa Oma-nya dahulu.


Awalnya Aira tidak mau di tinggal, dengan iming-imingan mau di ajak jalan-jalan ke mall, dan bisa main atau beli apapun sepuasnya membuat Aira mau di antar ke rumah Oma, dan Opa-nya.


Setelah mengantar putrinya, mereka sudah sampai di restoran ternama di Jakarta. Tom sudah memesan ruangr VVIP untuk memulai makan malam yang romantis.


Ceklek


Intan terbelalak kaget melihat pemandangan dengan taburan bunga Lily, dan lilin kecil di sekitarnya sungguh kesannya begitu romantis. Intan meneteskan air matanya yang tidak bisa di tahannya untuk tidak keluar, saking bahagianya Intan tidak sadar meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil di kasih permen, padahal dirinya sedang mengandung.


"Yank, ada baby kita di dalam perut! jangan loncat-loncat..." Ucapnya Tom memeringati istrinya.


"Eeehhh Iya lupa..." Jawabnya Intan polos.


"Terimakasih suamiku..., untuk makan malam yang romantis, Aku bahagia banget malem ini, Yank..." Ucap Intan kedua matanya sudah berkaca-kaca.


"Sama-sama Yank mau menerima kekuranganku, Terimakasih juga mau mengandung Anak-anakku buah cinta kita..." Sahutnya Tom di dalam dekapan hangat sang istri.


__ADS_1


Mampir ke cerita autthor lainnya yuk, tinggal klik profil autthor nanti akan muncul di beranda lho.


__ADS_2