
***Selamat pagi
Selamat hari Sabtu
Happy Weekand
Jangan lupa Rate-nya***
Tiga bulan kemudian..
Tidak terasa usia pernikahan Yudha, dan Kania memasuki bulan ketiga. Kedua sejoli nampak sangat bahagia, senyum tidak pernah luntur dari keduanya.
Kenzi Pradipta merupakan pelengkap keluarga kecil nan bahagia, Suka duka sudah mereka lalui bersama.
Perkenalkan yang lama membuat keduanya mudah untuk memahami satu sama lainnya, ibarat berjalan ada seseorang yang mendampinginya.
Bulan berganti menjadi minggu, minggu berganti menjadi hari, hari berganti menjadi jam, jam berganti menjadi menit, dan detik. Seperti halnya Jarum jam terus bergerak, dan berputar pada porosnya.
Perasaan baru kemarin kita menikah, mengarungi samudera kehidupan bersama. tepat hari ini, usia pernikahan kita tiga bulan, tidak menyangka takdir membawa kita ke dalam mahligai pernikahan.
Hari-hari yang saya jalani terasa lengkap, karena kehadiranmu istriku, menjadi pelengkap kekuranganku. Kamu wanita hebat di kala suamimu lelah butuh bahu untuk bersandar, kamu selalu bersedia menjadi tempatku untuk bersandar di dadamu.
Setelah pulang dari rumah mertuanya, Kania merasa mual, dan muntah terus menerus hingga badannya terasa lemas.
Mereka berdua sedang di kamar sembari menemani anaknya bermain mobil-mobillan, tetapi Kania tidak bersuara sama sekali, karena akhir-akhir ini badannya terasa lemas, dan tidak nafsu makan.
Kania sudah membekap mulutnya, dan langsung berlari menuju ke kamar mandi, Kania memuntahkan cairan saja, karena tidak ada asupan makanan yang masuk.
Huekkkk...... huek.... huekkkk
Kania terus menerus memuntahkan isi di dalam perutnya, Kania bersandar di dinding kamar mandi, dan mengusap sisa muntahan yang berada di sekitar bibirnya mengunakan punggung tangannya.
Brakkk...
"Unda tenapa? akit?" tanya Kenzi yang mengkhawatirkan keadaan bundanya, yang nampak lebih pucat.
"Iya sayang! Bunda mual ingin muntah terus." Jawab Kania yang berusaha untuk bangkit dari duduknya.
"Unda iam duyu, Enzi anggil ibik duyu." Tukas Kenzi meninggalkan bundanya di kamar mandi.
"Ibik, olong-olong Enzi, bik!" Tutur Kenzi berlari kearah dapur dengan nafas yang ngos-ngosan, dan keringat bercucuran di dahinya.
"Bik, olong-olong Enzi." Tutur Kenzi.
"Kenapa, sayang?" tanya bik Siti berjongkok menyamakan tingginya dengan bos kecilnya.
"Unda bik, uuntah-untah telus Enzi akut." Tutur Kenzi dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Bunda di mana, sayang?" tanya bik Siti yang sudah mengendong Kenzi.
"Di empat Enzi bermain, bik." Jawab Kenzi.
__ADS_1
Bik Siti sedikit berlari sembari mengendong Kenzi, untuk melihat keadaan bundanya Kenzi yang katanya muntah-muntah terus.
"Ya Allah...."
Ucap bik Siti melihat keadaan non Kania yang duduk lemas di lantai kamar mandi, dengan kedua matanya yang terpejam.
Unda... Hiks... Hiks...
"Un..da, ang..an akit!" Tutur Kenzi dengan suara sesenggukan.
Kania membuka kedua matanya, dan tangannya terulur mengelus surai rambut anaknya sembari tersenyum tipis.
"Bunda nggak apa-apa, sayang!" Ucap bundanya yang lirih.
Kania mengusap jejak air mata anaknya yang menangis seperti menganak sungai, Cup bunda nggak apa-apa.
"Mari non bibik bantu untuk ke kamar tidur." Tutur bik Siti yang sudah menaruh tangannya Kania keatas pundaknya.
"Pegangan ya non!" Ucap Bik Siti.
Kania menjawab dengan menganggukan kepalanya " makasih, bik." Ucap Kania tersenyum tipis walaupun sedikit pucat.
Kenzi mengekor di belakang bundanya, dan masih dengan suara sesenggukan, takut bundanya kenapa-napa.
Setelah bundanya di rebahkan diatas tempat tidurnya, Kenzi ikut naik ke atas tempat tidur untuk menemani bundanya, dan menaikkan selimutnya.
Kenzi mendial nomer Daddy-nya pakai ponsel bundanya, yang tergeletak di atas nakas meja samping kamar tidurnya.
"Kenapa sayang?" tanya Yudha yang khawatir melihat anaknya yang menangis.
"Unda akit! Daddy ulang!" Tutur Kenzi dengan suara seraknya, karena terlalu lama menangis.
"Ok Daddy pulang!" Yudha memutuskan panggilan teleponnya, dan membereskan pekerjaan kantornya untuk di bawa ke rumah, dan bergegas meninggalkan kantor dengan terburu-buru.
"Net, saya pulang tidak kembali ke kantor." Ucap Yudha.
"Tetapi Pak! siang nanti ada meeting dengan perusahaan X." Tutur sekertarisnya.
"Persetan dengan meeting! istriku sedang sakit!" Ucap Yudha begitu frustasi.
"Undur pertemuannya, kalau tidak mau batalkan saja! karena keluarga lebih penting." Ucap Yudha berlalu dari hadapan sekertarisnya Nety.
Di perjalanan Yudha berkali-kali menelepon sahabatnya, untuk datang ke rumah, untuk memeriksa keadaan istrinya.
Dering kelima panggilan baru di angkat.
"Hallo bro." sapa sahabatnya.
"Ada apa? tumben menelepon?" tanya sahabatnya
"Periksa istriku dirumah, istriku tidak enak badan." Tutur Yudha
__ADS_1
Tut...Tut...Tut.
Panggilan telepon terputus, karena Yudha sedang menyetir mobilnya, dan sangat terburu-buru bila mengingat air mata anaknya.
30 menit kemudian Yudha tiba di rumah dengan selamat.
"Bik, Kania sama Kenzi di mana?" tanya Yudha yang khawatir.
"Di kamar Pak." Jawab bik Siti.
"Makasih, bik! Yudha ke kamar dulu." Tutur Yudha berlalu, dan sedikit berlari untuk naik ke lantai atas kamarnya.
Brakkk...
Yudha membuka pintu sedikit tergesa-gesa, dan tidak sabaran mengakibatkan kerusakan sedikit di handel pintunya.
Melihat pemandangan mereka berdua, membuatnya sedikit lega. Ibu, dan anak tidurnya saling berpelukan.
Yudha berjalan menghampiri keduanya, dan mengusap, dan mencium keningnya satu persatu bergantian.
Dirasa sudah cukup memandangi Istrinya, dan anaknya. Yudha berlalu untuk masuk ke dalam kamar mandi, dan membersihkan tubuhnya yang habis keluar dari rumah.
Tidak butuh waktu lama untuk mandi, Yudha membuka pintu kamar mandi, bertepatan dengan suara ketukan pintu dari arah kamarnya.
Tok!...tok!...
"Masuk." Jawab Yudha yang baru saja keluar dari walk in closet.
Muncullah Dokter ganteng sahabatnya Yudha, Dulu mereka berkenalan waktu masih sama-sama kuliah di luar negeri.
"Hi bro! Apa kabar?" Sapa sahabatnya sembari menanyakan kabarnya, yang sudah 2 bulan tidak bertemu.
"Baik, cepat periksa istriku!" Tutur Yudha yang tidak mau basa-basi.
Mendengar suara ribut-ribut, Kania, dan Kenzi terbangun dari tidurnya. Kania mulai melirik ke arah suaminya yang semakin hari semakin tampan, membuat Kania membayangkan fantasinya.
"Sayang, kangen! peluk." Ucap Kania sedikit manja, dan tidak tahu malu di samping suaminya berdiri pria berjas Putih.
"Diperiksa dulu! baru Mas peluk." Jawab Yudha menghampiri istrinya, da anaknya.
"Rebahan dulu, Buk! saya periksa." Tutur dokternya.
Setelah memeriksa keadaan pasiennya, dan mereka duduk saling berpandangan menunggu jawaban sahabatnya.
"Ibu bulan ini sudah kedatangan tamu bulanan belum?" tanya dokternya.
"Belum dok, kayaknya telat 3 minggu." Tutur Kania sembari mengigit bibirnya.
"Kemungkinan besar ibu hamil, yang usianya sekitar 4 minggu." Jawab dokternya.
Setelah saya periksa tidak ada penyakit yang serius, ibu cuma kurang asupan makanan, setelah ini Ibu periksa ke dokter kandungan, untuk memastikan usia kehamilannya.
__ADS_1
"Selamat bro!" Ucap sahabatnya mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat menjadi Daddy lagi.