
...Selamat pagi...
...Selamat hari Minggu...
...Jangan lupa Rate-nya...
Pagi ini di dalam sebuah kamar ketiganya masih bergelung di dalam selimut tebalnya, Kenzi semakin mengeratkan pelukannya ke bundanya, Daddy-nya juga sama seperti Kenzi memeluk bundanya tidak kalah eratnya.
Matahari nampak malu-malu menampakkan sinarnya, yang pagi ini masih bersembunyi di dalam peraduan.
Pukul 05.00 Kania terbangun karena perutnya seperti di aduk-aduk, rasanya ingin sekali memuntahkan isi didalam perutnya.
Kania membekap mulutnya yang tiba-tiba mual-mual nya semakin bertambah, dan mulai melepas pelukan dari keduanya.
Bangkit dari tidurnya, terus sedikit terburu-buru masuk kamar mandi, dan menutup pintunya sedikit kasar.
Huekkkk....... huekkkk..... huekkkk....
Suara muntahkan Kania terdengar di telinga suaminya, membuat suaminya bergegas bangun dari tidurnya, walaupun masih mengantuk, untuk melihat keadaan istrinya di dalam kamar mandi.
"Sayang." sapa Yudha.
Huekkkk.....
Yudha memijat tengku istrinya berulang-ulang, untuk meredakan muntahnya, dan memberi kenyamanan.
"Jangan Mas bau." Tutur Kania berusaha untuk mengusap sudut bibirnya, yang terkena sedikit muntahan.
"Nggak apa-apa, sayang." Sahut Yudha yang masih sibuk membersihkan sisa-sisa muntahan istrinya, walaupun yang keluar cuma air, Yudha sangat telaten membersihkannya.
"Udah sayang muntahnya?" tanya suaminya.
Kania mengangguk "udah Mas." Jawab istrinya dengan lirih.
Yudha memapah istrinya untuk berbaring kembali ke tempat tidurnya.
"Mau minum teh anget?" tanya suaminya.
"Mau Mas." Jawab Kania berusaha memberikan senyuman.
"Mas tinggal dulu ke bawah ya." Tutur Yudha.
"Iya Mas." Sahut Kania.
Cup...
Yudha menaikkan selimut tebal istrinya sebatas dada, dan mengecup keningnya lama.
Setelah sampai di dapur, Yudha melihat bik Siti yang sedang mencuci sayuran, senyumnya langsung terbit.
"Bik, Yudha minta tolong bikinkan teh manis hangat untuk Kania." Tutur Yudha yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Baik Pak! mau bibik antar ke kamar atau kemana Pak?" tanya bik Siti.
"Biar saya tunggu di sini , bik!" Jawab Yudha sembari melihat bik Siti menyiapkan teh manis hangatnya.
Menunggu 5 menit saja tehnya sudah siap "Ini Pak tehnya." Ucap bik Siti meletakkannya di atas meja.
"Makasih bik." Jawab Yudha berlalu dari hadapannya Bik Siti.
__ADS_1
"Sayang, minum tehnya dulu untuk mengurangi mual." Tutur Yudha.
Kania langsung membuka kedua matanya, dan bersandar di sandaran tempat tidur, sesekali melihat anaknya yang tidurnya sangat pulas.
Kania menyeruput tehnya sedikit demi sedikit, kalau kebanyakan takutnya muntah seperti tadi.
"Udah Mas." Ucap Kania berusaha menyingkirkan tangan suaminya, yang masih berusaha meminumkan tehnya.
"Nanti agak siangan kita ke dokter ya." Ucap Yudha yang sudah duduk di samping ranjang, dan tangannya terulur untuk mengelus puncak kepalanya.
Dirasa istrinya sudah memejamkan kedua matanya kembali, Yudha bergerak pelan bangkit dari duduknya untuk meninggalkan kamarnya, dan berjalan ke ruang kerja yang ada di sebelah kamarnya.
Yudha menyibukkan dirinya di ruang kerja, dan menyelesaikan pekerjaan kemarin yang di bawanya pulang ke rumah.
5 jam di ruang kerja, dan pekerjaannya sudah selesai. Yudha kembali ke dalam kamar untuk melihat anak, dan istrinya.
"Kakak udah bangun?" tanya Yudha kepada Kenzi, yang sedang bermain mobil-mobilannya.
"Udah dong Daddy." Jawab Kenzi yang menampilkan giginya yang rapi.
"Jagoan Daddy tambah pintar sebentar lagi mau jadi kakak." Ucap Yudha yang sudah mengendong anaknya untuk ke kamarnya Kenzi.
15 menit bermain, Yudha memandikan anaknya, dan Yudha mandi untuk dirinya sendiri.
Sesudah rapi, Yudha mengajak anaknya turun ke bawah, ke ruang keluarga untuk menonton acara televisi Upin Ipin kesukaan Kenzi.
"Kakak disini ya! Daddy mau melihat bunda di kamar atas sebentar." Tutur Yudha yang sangat lembut.
"Iya Daddy."
10 menit menunggu Daddy-nya tidak kembali, Kenzi berinisiatif berjalan ke dapur untuk mencari bik Siti, karena perutnya sudah bunyi minta diisi.
Bik Siti mendudukkan Kenzi di kursi makan, dan sembari mengambilkan nasi untuk bos kecilnya, bik Siti membiarkan Kenzi untuk memilih sendiri lauk pauknya.
Kenzi melihat menu makanan diatas meja, membuatnya tidak berkedip, dan berulang-ulang menelan ludahnya.
"Kenzi mau makan dengan apa?" Tanya bik Siti.
"Emuanya enak, akak Enzi ingung bik." Jawab Kenzi tertunduk sedikit lesu, karena bundanya tidak ikut makan disini.
"Lho.. lho... Kenapa wajahnya kok di tekuk begitu?" tanyanya Bik Siti.
"Unda akit, bik! akak Enzi mam sendili." Jawab Kenzi yang sudah mulai wajahnya berseri-seri, mengingat dirinya akan segera mempunyai Adik, dan menjadi kakak.
"Akak Enzi au mam ama ayam goyeng, bik." Tutur Kenzi sangat bersemangat, dengan binar bahagia di matanya.
Setelah Kenzi selesai sarapan menjelang makan siang, Yudha dan Kania menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi, mereka berdua menghampiri anaknya yang baru saja selesai makan.
Keduanya duduk di samping anaknya, mengelus surai rambut anaknya, dan merapikan rambutnya.
"Daddy! Unda!" Sapa Kenzi yang langsung memeluk bundanya.
"Daddy unda au ke ana? Unda tantik, Daddy ndak kelja." tanya Kenzi penuh selidik.
"Kakak Kenzi mau ikut Daddy Bunda ke rumah sakit untuk melihat debay nggak?" tanya bundanya.
"Au au au unda." Seru Kenzi bersorak gembira.
Sesuai kesepakatan bersama, Siang ini Yudha sengaja libur dari kantornya, untuk mengajak, dan menemani istrinya untuk ke rumah sakit, untuk memastikan usia kehamilannya.
__ADS_1
Mereka bertiga berada di dalam mobil, dengan Yudha sebagai sopirnya, Kania di samping kemudinya, sedangkan Kenzi duduk di belakang biar geraknya lebih leluasa, karena Kenzi geraknya sangat aktif, kalau duduk dengan bundanya takut menendang perut bundanya.
Kenzi nampak antusias melihat jalanan yang sedikit lengang, melihat gedung-gedung yang tinggi yang berjajar di sepanjang pinggir jalan.
"Unda edungnya inggi sepelti onas." Seru Kenzi bersorak bahagia, karena sudah lama tidak jalan-jalan.
"Iya sayang." Jawab Kania mengelus rambutnya Kenzi.
Setelah sampai rumah sakit yang menjadi tujuannya, Yudha turun terlebih dahulu untuk membuka pintu untuk istrinya.
Mereka berdua berjalan beriringan, satu tangan Yudha untuk mengendong Kenzi yang tertidur pulas, saling menautkan jari jemarinya berjalan ketempat dokter yang sudah di boking Yudha sejak tadi pagi.
Ceklek...
Yudha membuka pintunya pelan, dan masuk ke dalam ruangan yang ber-AC, menurut Yudha ruangan sangat luas.
"Ada keluhan apa, Pak?" tanya dokternya.
"Istri saya telat datang bulan sudah 3 minggu, kata sahabat saya yang berprofesi sebagai dokter, mengatakan bahwa istri saya hamil, Dok!" Jawab Yudha panjang kali lebar.
"Ibu berbaring di atas brankar, biar saya cek dulu." Tutur dokternya.
Perawat wanita sedang menaikan dasternya Kania, dan menutupi bawahnya dengan selimut, mengolesi gel di sekitar perut Kania, di rasa cukup.
Dokter wanita meletakkan kursor diatas perut Kania, dan menggerakkan tangannya untuk memastikan kehamilannya. Setelah menemukan titiknya dokter memberhentikan kursornya.
"Lihat Pak, Buk ada titik kecil itu merupakan janin ibu, dokter mengerakan kursornya lagi ternyata ada dua titik di rahim ibu, usianya sudah 5 minggu." Ucap dokternya.
Perawat membersihkan sisa-sisa gel nya, dan merapikan kembali dasternya.
"Makasih sus." Ucap Kania dengan tulus.
Yudha Kania duduk di depan dokternya, senyum tipis tidak pernah lepas dari bibirnya, sama halnya dengan Yudha.
"Selamat Pak! istri Anda hamil anak kembar." Ucap dokternya.
"Kembar, Dok." Seru kedua pasangan suami istri saking bahagianya, karena mendapatkan baby twins.
"Iya Pak, Buk." Ucap dokter sembari tersenyum tipis.
"Ada yang di tanyakan?"
"Boleh nggak berhubungan, Dok?" tanya.
"Boleh, tetapi jangan sering-sering atau gaya yang macam-macam, kandungan istri Bapak masih rentan untuk trimester pertama, di kurangi ya Pak." Tutur dokternya sembari mengulum senyum.
Kania mencubit perut suaminya, "Auuuhh sakit sayang." Ucap suaminya yang pura-pura menahan sakit di perutnya.
Kania malu tanya begituan di hadapan dokternya.
"Nggak apa-apa, buk! hal biasa pertanyaan begitu, berarti suami ibu tidak mau cari enaknya sendiri." Ucap dokternya.
"Dijaga kehamilannya, karena ini hamil kembar, Buk." Tutur dokternya.
"Pasti, Dok!" Jawab Kania
"Kalau begitu saya, dan istri permisi dulu! Terimakasih , Dok." Tutur Yudha sembari mengendong anaknya yang tertidur.
__ADS_1