
Suara adzan subuh berkumandang, membangunkan dua insan yang saling berpelukan, dan saling mendamba satu dengan yang lainnya.
"Sayang, bangun kita sholat subuh dulu." Tutur Kania membangunkan suaminya, yang masih mengeratkan pelukannya.
"Hmm, bentar 5 menit lagi." Sahut suaminya yang masih memejamkan kedua matanya, tetapi mendengarkan suara istrinya.
Kania melepaskan pelukan hangat suaminya, beranjak turun dari tempat tidurnya untuk membersihkan badannya kembali, karena olahraga malamnya yang membuatnya tidak nyaman.
Setelah mandi wajib, Kania keluar dari kamar mandinya hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Kania bergegas keluar dari kamar mandi untuk membangunkan suaminya, yang masih aja tertidur pulas dengan memeluk anaknya.
"Sayang, bangun yuk keburu siang." Tutur Kania mengguncang bahu suaminya sangat pelan.
Yudha langsung membuka kedua matanya, setelah mencium bau wangi lavender yang di pakai istrinya.
Melihat pemandangan istrinya yang hanya menggunakan handuk saja, Membuatnya tersenyum mesum, dan menelan salivanya.
"Sayang, gendong." Tutur Yudha yang sangat manja, dengan merentangkan kedua tangannya.
"Udah tua masih aja manja! nggak malu sama anak." Sahut Kania yang sudah mengomeli suaminya.
"Yank, pengen itu!" Tutur Yudha yang menunjukkan ke badan istrinya, yang masih diam mematung dengan handuk melilit ke tubuhnya.
"Mesum." Sahut Kania melempar bantal ke tubuh suaminya.
"Yank, mau Hap Yudha memeluk tubuh istrinya, dan mulai mengendus-endus lehernya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sekitar lehernya.
"Mas, Kania sudah mandi wajib." Tutur Kania yang menghindari perlakuan suaminya, yang tidak pernah merasa puas bila cuma sekali saja.
"Pilih dapat sekarang, tetapi cuma sekali! apa nanti malam sampai Mas puas." Tawar Kania terhadap suaminya, karena Kania sangat malas menghadapi sikap suaminya yang sangat mesum.
"Mas pilih nanti malam saja, kan sampai puas." Sahut Yudha yang terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi.
Kania hanya geleng-geleng menghadapi sikap suaminya, yang semakin hari semakin menjadi tingkat kemauannya.
Kania memasuki walk in closed untuk memakai baju daster rumahan. Kania mengelar sajadah, dan mengambilkan baju Koko, dan sarung untuk suaminya. karena mereka berdua akan melaksanakan sholat berjamaah.
__ADS_1
Setelah memakai baju Koko, dan memakai kain sarungnya. Yudha tengah bersiap menjadi imam untuk istrinya, dan untuk calon adik-adiknya Kenzi kelak.
Mendengar bacaan sholat subuh suaminya, membuatnya sangat terharu, dan ini sekian kalinya Kania berkaca-kaca setiap mendengar suaminya menjadi imam untuknya.
Setelah mengucapkan salam, Kania langsung mencium tangan suaminya sebagai baktinya istri kepada suaminya, dan Yudha mencium kening istrinya sangat lama, dan meniup ubun-ubun nya.
Mereka berdua saling berpelukan, dan mencium bibirnya sekilas takut mereka kebablasan.
Dirasa cukup, mereka melepas pelukannya, dan saling tersenyum lebar yang penuh damba.
Setelah merapikan sajadah, mukena, sarung, dan baju Koko suaminya. Kania turun ke bawah untuk membantu bibik masak di dapur.
"Mau masak apa, bik?" tanya Kania dari pintu masuk ke dalam dapur.
"Ehh! non Kania, bikin bibik kaget saja." Jawab Bik Siti, yang nampak mengelus dadanya yang sedikit kaget.
"Bibik masak ayam chicken kesukaan den Kenzi, sayur asam, sambal terasi, dan ikan goreng non Kania." Jawab Bik Suti yang menyebutkan satu persatu menu masakannya.
"Boleh Kania bantu, bik?" tanya Kania yang meminta ijin terlebih dahulu, sebelum memulai membantunya memasak.
"Kalau Mas Yudha marah! Kania yang tanggung jawab, bik." Sahut Kania yang melihat ekspresi bik Suti yang sedikit menegang raut wajahnya.
Setelah perdebatan alotnya dengan bik Suti, akhirnya bik Suti mengalah mengizinkan non Kania membantunya memasak, tetapi cuma membantu memasaknya yang ringan-ringan saja, takut istrinya den Yudha kecapekan.
Mereka berdua memasak dengan saling bertukar cerita ini itu, hingga tidak terasa masakan telah selesai, tinggal mencuci bekas yang kotor.
Kania meletakkan semua menunya diatas meja makan, dan menatanya sangat rapi, dan tidak pernah ketinggalan adalah kerupuk udang kesukaan suaminya.
"Bik, semua sudah Kania letakkan di meja makan, dan sudah Kania tata juga."
"Kania tinggal ya, bik! Kania mau mandi." Tutur Kania berlalu dari hadapan bik Suti yang tengah membereskan barang-barang yang kotor bekas masaknya.
Setelah selesai menyelesaikan membantu bik Suti memasak, Kania berjalan ke taman belakang yang berada di rumah mertuanya, menghirup oksigen sedalam-dalamnya, dan menghembuskan secara berlahan.
Setelah di tinggal istrinya ke bawah, Suaminya melanjutkan tidurnya dengan memeluk anaknya, yang nampak tidak terganggu sama sekali.
__ADS_1
Sesekali Yudha mengecup pipi anaknya yang semakin montok, berkat ketelatenan Kania menyuapi nya makan, dan memasakkan menu makan kesukaannya, menjadikan tubuh anaknya semakin subur.
Setelah memandangi wajah anaknya yang semakin menggemaskan, Akhirnya membuatnya menguap berkali-kali, Yudha masuk ke alam mimpi bersama anaknya, mereka berdua saling bertukar kehangatan dalam pelukan.
Mereka berdua tidur saling berpelukan kurang lebih satu jam, tidurnya terusik karena sinar matahari yang nampak malu-malu.
Kuk..kuk...kuk....
Suara ayam berkokok membuat Kenzi terbangun dari tidurnya, dan merasakan berat di perutnya, karena ada tangan kekar Daddy-nya diatas perutnya.
"Iihhh! Daddy epas, Enzi au tulun." Tutur Kenzi yang sudah mengalihkan tangan Daddy-nya, agar turun dari atas perutnya.
Daddy-nya malah mengeratkan pelukannya, dan tersenyum tipis karena sedang menunggu reaksi anaknya.
"Epas Daddy, Enzi au pipis, au ke unda." Tutur Kenzi yang sudah mencebikkan kedua bibirnya.
Daddy-nya tidak tahan, tidak untuk tertawa melihat reaksi anaknya yang siap untuk menangis, karena kedua matanya nampak memerah menahan tangisnya.
Yudha beranjak dari tempat tidurnya untuk masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya karena mandi pagi itu menyehatkan badan.
Daddy-nya keluar dari kamar mandi, bertepatan pintu kamarnya terbuka dari luar, melihat istrinya memakai daster rumahan, membuatnya semakin seksi.
"Au di mandiin unda." Ucap Kenzi yang merentangkan tangannya, yang minta di gendong bundanya.
"Jagoan bunda udah bangun, hmm." Tutur Kania yang menghampiri anaknya yang masih duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Udah dong unda, Enzi itu lho." Ucap Kenzi yang sangat percaya diri membanggakan dirinya sendiri, padahal tidak tahu artinya.
"Jagoan bunda yang ngajarin siapa, sayang?" tanya bundanya yang sudah mengacak-acak rambut anaknya yang masih berantakan efek bangun dari tidurnya
Ndak au, Enzi uma bicala." Jawab Kenzi yang menampilkan giginya.
Setelah memandikan anaknya, dan Kania sendiri. mereka bertiga keluar kamar, saling bertautan jari tangannya.
Kedua orang tuanya melihat kemesraan anaknya, dan menantunya membuat keduanya membuncah rasa bahagia.
__ADS_1
Kemesraan anak, dan menantunya jangan cepat berlalu.