
Bismillahirrahmanirrahim
Setelah menyelesaikan sedikit masalah di Hotel Pradipta cabang London, malam harinya Tom meninggalkan negara London untuk kembali ke Indonesia. Di Bandara ini Tom mengantar Intan kembali ke keluarganya, di tempat ini pula Tom merasakan perasaan berat untuk meninggalkan Kota London, hatinya selalu ingin menetap di sini, tetapi pekerjaan di Indonesia sudah menunggunya.
Tom sudah prepare untuk penerbangan pesawat nanti malam, sebelum pulang ke Indonesia, Tom mendatangi tempat dimana pernah melewati malam indahnya di sebuah Hotel terkenal di Kota London, jarang Bandara dengan Hotelnya tidak terlalu jauh, jadi Tom hanya berjalan kaki.
Berulang-ulang melihat arloji di tangannya, ahh masih ada waktu 2 jam untuk penerbangan ke Indonesia. Tom menyempatkan dirinya untuk mengunjungi Hotel berbintang terletak di tengah kota, berbekal dengan ingatan Tom menemukan hotelnya.
Dari luar gedung Tom memandangi hotelnya, panas terik matahari tidak jadi masalah buat Tom, asalkan bisa mengumpulkan kepingan puzzel masa lalu di hotel yang berada di depannya ini.
Menikmati sore hari di balkon Apartemen kamarnya, Tom menghisap sebatang rokok di temani dengan secangkir kopi hangat. Selesai menghabiskan satu batang rokok, dan secangkir kopi. Tom menggeret kopernya untuk keluar dari Apartemen-nya, di lobby utama sang sopir sudah menunggu bosnya di lobby bawah.
Setelah menempuh perjalanan tidak sampai satu jam, Tom sudah sampai Bandara, dan sudah bording. Sepuluh menit lagi, pesawat take off, Tom sudah memasuki kabin pesawat.
"Selamat tinggal London!"
"Semoga ada jodoh di antara kita! semoga takdir-Nya mempertemukan kita kembali, dengan keadaan yang lebih baik."
"Apabila Intan mengandung benihku, jika iya, Jagalah Anakku! tunggu Papa sayang."
Pesawat sudah Take off meninggalkan Bandara internasional Heathrow, pesawat sudah mengudara di langit London untuk menuju pulang ke Indonesia.
****
Di Negara Indonesia...
Keluarga Yudha sedang menikmati sarapan pagi bersama, mereka menikmati sarapan dengan khidmat. Daddy dan Bundanya selalu mengajarkan kepada Anak-anaknya, kalau sedang makan tidak ada yang boleh berbicara, kecuali itu urusan penting dengan catatan makanan yang masuk ke dalam mulutnya harus di telan dulu.
Yudha dan ketiga Anaknya tengah menyelesaikan sarapannya, mereka berangkat sekolah selalu berempat terkadang berlima dengan mang Ujang sebagai sopirnya, apabila Daddy-nya sedang tidak ingin memakai mobil.
"Bunda, kakak berangkat ya." Tutur Kenzi berpamitan, tidak lupa selalu mencium punggung tangan Bundanya.
__ADS_1
"Unda, akak Ama belangkat uga." Tutur Kama berpamitan dengan Bundanya, dan mencium punggung tangan Bundanya.
"Adik Ila uga belangkat uga, Unda." Tutur Kalila mengambil tangan Bundanya, dan mencium punggung tangan Bundanya.
"Iya sayang!" Kania mengecup pipi Anaknya bergantian."
"Dadada....dada... Adik! Kakak belangkat sekolah duyu, ental kalau kakak sudah pulang nanti main lagi ya."
Seakan-akan kedua Adiknya tahu, apa yang kakaknya bicarakan, membuat kedua Adik kembarnya tertawa. Kaki dan tangannya tidak bisa diam, kakinya terus saja seperti sedang berlari maraton.
Kenzi sudah memasuki mobilnya terlebih dahulu, baru Kama dan Kalila masuk ke dalam mobil. Ketiganya duduk anteng menunggu Daddy-nya keluar dari rumahnya, ketiganya nampak anteng, walaupun Kenzi dan kama memiliki sifat yang lebih pendiam, sedangkan Kalila sangat manja, beda dengan kedua kakaknya.
Setelah ketiga Anaknya masuk ke dalam mobil, Yudha mulai mendekati istrinya, dan Cup Yudha mengecup bibir istrinya singkat, sembari tangannya merengkuh pinggang istrinya.
"Mas, berangkat sayang." pamitnya Yudha sembari tangannya, mengusap-usap rambut istrinya dan mengecup puncak kepalanya Kania. Tidak lupa Kania mengecup punggung tangan suaminya.
"Mas, hati-hati ya."
Setelah suaminya berangkat ke kantor, dan Anak-anaknya berangkat ke sekolah. Kania melanjutkan jalan ke kamarnya, yang tangan kanan kirinya mendorong stoler Baby gempil twins.
Kania mulai mengangkat si kakak untuk di letakkan di sumbernya, sedangkan si adik masih anteng memainkan jempol tangannya, sembari memainkan air liurnya, dan memainkan dengan menyembur-nyembur.
Kania meletakkan si kakak di box bayi, setelah si kakak kenyang. Lalu Kania melanjutkan mengambil sang Adik, yang masih asyik dengan dunianya.
"Pintarnya Anak Bunda tidak menangis, tidak rewel." Tutur Kania mengecup pipi gembil-nya Kaynuna, biasanya di panggil Nuna.
Nuna tertawa simpul, melihat dan mendengar suara Bundanya. Tangan Nuna mengapai-gapai wajah Bundanya, dan kakinya tidak bisa tinggal diam, terus saja bergerak seperti sedang naik sepeda onthel.
Setelah bermain sebentar dengan keduanya, Anak-anaknya mulai tertidur pulas, Kania mulai merebahkan tubuhnya di samping Anaknya, dan sampingnya ada tembok yang menjadi penghalang apabila Anaknya terjatuh dari kamarnya. Ketiganya bobok-nya sangat nyenyak, dengkuran halus ketiganya menandakan tertidur bener-bener pulas.
*****
__ADS_1
Setelah mengantar Anak-anaknya ke sekolah, Yudha kembali memacu mobilnya untuk berangkat ke kantor, yang kebetulan satu arah dengan kantornya.
Pagi ini, pertemuan pertamanya dengan Tom. Baru saja semalam Tom mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, paginya Tom sudah harus berangkat ke kantor, walaupun nantinya Tom akan ijin pulang dulu.
Setelah semalam tiba di Bandara Soekarno-Hatta, rasanya badannya pegal-pegal semua, di karenakan waktu dalam pesawat, Tom tidak bisa memejamkan kedua matanya. Pikirannya melalang buana, banyak yang di pikirkan, banyak yang ingin di cari dan temui, tetapi kesibukannya membuat Tom tidak bisa fokus untuk mencari keberadaan seorang wanita yang ada di masa lalunya.
Tiba di kantor, Tom langsung masuk ke ruangan Yudha. Tom menyerahkan beberapa berkas pekerjaan di London.
"Hai bro apa kabar? sehatkan! kok wajahnya di tekuk seperti Kalila saja." Tutur Yudha yang dari duduknya, dan menghampiri Tom yang sedang duduk di sofa ruangannya.
"Baik!" Jawab Tom singkat.
Yudha mendengar penjelasan Tom, sembari memeriksa berkas-berkas keuangan di London. Yudha tersenyum simpul melihat grafik hotel Pradipta yang merangkak naik, membuat Yudha semakin bahagia, tidak rugi Tom di kirim ke London, untuk membenahi hotel cabang.
"Kamu bisa di andalkan, Tom." Yudha menepuk pundaknya Tom.
*****
Di Negara Singapura atau lebih di kenal dengan julukan Negeri Singa. Intan sedang bermain dengan Aira, Aira sudah mulai pintar memainkan air liurnya, dan memasukkan jempol tangan dan kaki ke dalam mulutnya.
"Makin pintar, Nak."
"Oeeekkk. oek..." Aira mulai menangis, karena Aira ingin tengkurap tetapi belum bisa, membuatnya jengkel sendiri.
"Cup .... Cup...." Intan mengecup jejak air mata Aira, dan mulai membuka kancing bajunya dan memberikan sumber nutrisi dari Mamanya.
Ajaibnya Aira langsung diam, tangan kecilnya mulai menggapai wajah Mamanya, Intan gercap mengecup tangan kecil Anaknya, membuat Aira melepas sumbernya dan tertawa.
Intan sangat beruntung ada Aira di hidupnya, hari-hari Intan sangat berwarna semenjak lahirnya Aira, Putri semata wayangnya. Yang dulu pernah ada niat ingin mengugurkan Aira dalam kandungan.
Sabar ya! nikmati alurnya Tom akan bertemu kok dengan Putri kecilnya, tetapi nanti ya. Di tunggu saja😁😁😁
__ADS_1