
Jakarta Hotel Pradipta
Di kursi kebesarannya Tommy bergerak gelisah, pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan membuatnya mengeram kesal, tetapi Tommy sudah mengirimkan mata-mata untuk mengawasi Intan di sana.
Tommy tidak mau sampai harus kehilangan jejaknya lagi, dua orang kepercayaannya sudah berada di Singapura, setiap hari Tommy menerima kabar kegiatan Intan dan Aira.
"Papa akan menjaga Aira dan Mama, walaupun jauh dari jangkauan tetapi kalian berdua di hatinya Papa." Tom membatinnya dengan ucapan penuh pengharapan.
Flashback
Satu bulan yang lalu, Tommy sudah melakukan cek DNA. Dan hasilnya 99% cocok dengannya, Aira adalah anak kandungnya. Gadis kecilnya yang hadir di mimpinya yang selalu memanggil dirinya dengan menyebut nama Papa.
Rasanya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata atau cinta, yang Tom rasakan rasa bahagia bisa bertemu dengan putrinya kembali.
Singkat cerita, waktu itu Aira sedang main dengan tetangga sebelah rumahnya, orang suruhannya menyamar sebagai penjual mainan gratis secara diam-diam mereka memberikan mainan gratis, dan tanpa di sadari tangannya mengelus rambutnya Aira dan mengambilnya pelan-pelan.
Satu minggu semenjak kepulangannya ke Indonesia, Tommy sudah menyuruh menempatkan Dua orang bodyguard di dekat rumahnya Intan.
Flashback Off
Semenjak mengetahui Aira anak kandungnya, Tommy tidak akan menyerah memperjuangkan hak-haknya sebagai Papa biologis dari Putri kandungnya.
"Maafkan papa terlambat menemuimu, sayang! papa janji akan memperjuangkan kalian berdua, terutama hati mama Intan." Tom membatinnya.
Walaupun Aira lahir di luar pernikahan, tetapi bagi Papa dan mama Aira bukan kesalahan, Aira adalah anugerah terindah yang dikirim Tuhan. Aira akan selalu jadi gadis kecilnya Papa, belahan jiwa dan buah cinta Papa Mama.
Tom sudah menyiapkan berbagai keperluan yang di perlukan gadis kecilnya, mulai dari akte kelahiran dan kartu keluarga. Semua sudah Tom persiapan-kan tidak membuatnya kesusahan untuk mengurus segala keperluan anaknya, karena uang yang berbicara dengan uang segala macam akan dipermudah.
***
Drttt... drttt...
__ADS_1
Ponselnya Intan bergetar dan ada notifikasi pesan masuk, Intan yang sedang sibuk tidak memperhatikan ponselnya yang terus saja bergetar. Fokusnya Intan sekarang segera menyelesaikan pekerjaan, dan bisa langsung pulang bisa bertemu dengan Aira-nya.
Jam pulang kantor selesai, tetapi ponselnya Intan terus saja bergetar. Ada beberapa notifikasi pesan masuk, tetapi Intan lebih memilih mengangkat telepon yang tertera nama Bunda. Belum juga Intan selesai menggeser layar ponselnya, panggilan telepon terputus begitu saja.
"Tumben bunda telepon, semoga semuanya baik-baik saja,." Tutur Intan di dalam sanubarinya.
Intan terdiam sejenak, mencoba menghubungi bundanya tetapi nihil hanya suara operator yang di dengarnya. Intan tertarik ingin membacanya beberapa notifikasi yang masuk, buru-buru Intan membukanya.
"Kak, bunda sakit! katanya kangen kakak dan cucunya Aira! Kakak pulang ya." Itu kira-kira isi pesan dari Adik bungsunya.
Alangkah terkejutnya membaca notifikasi dari Bundanya, bahwa bundanya sedang sakit merindukan dirinya. Tanpa bisa di bendung lagi, Intan menumpahkan tangisnya yang merasa bersalah menjauh dari keluarganya, dan membuat Bundanya sakit.
"Nak, pulanglah bunda sangat menyayangimu! Bunda juga rindu sama Aira cucu Oma." Begitulah isi pesan notifikasi dari Bundanya.
Pukul 17.00 waktu Singapura, Intan beranjak dari duduknya sembari menghapus air matanya yang turun tanpa bisa berhenti. Intan sangat membutuhkan pelukan putrinya, karena Aira lah sumber kekuatan Intan untuk menjalani hari-harinya.
***
Sampai di depan rumahnya nenek Salma, Intan langsung menubruk tubuh Aira memeluknya sangat erat. Sedikit terisak-isak Intan terus saja mempererat pelukannya, dan Aira semakin terhimpit sesak nafas akibat pelukan Mamanya sangat erat.
"Mama lupa." Sahut Intan memberikan senyum palsunya.
"Tenapa Mama nangis? Aila Jadi cedih kalau Mama telus angis." tanya Aira yang penuh tanda tanya dan sedikit khawatir melihat keadaan Mamanya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Nek Sal ke mana, sayang?" tanya Intan mencoba mengalihkan pembicaraan tentang dirinya.
"Di dalam sedang mandi, Ma." Jawabnya Aira.
Mereka berdua menunggu Nenek Salma di teras depan, Intan ingin pamit membawa Aira pulang ke rumahnya. Kalau tidak pamit takutnya nenek Salma mencarinya, kasihan sudah berumur tetapi tidak mau merepotkan Anak-anaknya.
Setelah berpamitan dengan Nenek Salma, mereka berdua pamit pulang, dengan manjanya Aira minta di gendong Mamanya, kepalanya Aira di letakkan di ceruk lehernya Mama Intan.
__ADS_1
Hembusan nafasnya menerpa tengkuknya Intan, suara dengkuran merdu menjadi pertanda bahwa Aira-nya sudah bobok dalam gendongannya. Intan meletakkan Aira sangat pelan-pelan, takut gadis-nya terbangun, Intan terus saja memandangi wajah Aira mirip Papa-nya. Mulai dari alisnya, wajahnya, warna rambutnya , hidungnya bener-bener persip Papa-nya banget.
***
Keesokan paginya keduanya masih saja bergelung di dalam selimut, di luar rumahnya sedang turun hujan rintik-rintik, dari kaca jendela sangat jelas ada bekas titik-titik di jendela. Intan dan Aira saling merapatkan pelukannya, Intan menghujani ciuman di sekitar rambutnya Aira.
"Kalau Aira ketemu Papa, apa yang akan Aira lakukan? marahkah? atau bahagia?" tanya Intan yang masih memeluk Aira-nya.
"Aila pasti bahagia ketemu Papa, Ma." Jawabnya polos.
Mereka nampak diam untuk meresapi kata demi kata yang terlontar di bibirnya Mama Intan. Sedangkan Aira semakin menyusup ke dalam dada Mamanya, dan menenggelamkan tepat di sumber kedua kembarnya.
Setelah mandi dan sarapan, mereka saling memeluk sembari menemani Aira menonton televisi bersama.
"**Apakah Aira mau pulang ke Indonesia? ketemu sama Oma?" tanya Intan penuh khawatir dengan jawaban Aira.
"Mau...au...au, Ma**."
"Aila anyang Mama, nenek Salma dan Oma Indonesia." Yeeeehh Aila udah punya banyak teman.
"Aila uga anyang Papa! Aila lindu, Papa cepat pulang ya."
Satu minggu sudah berlalu pembicaranya dengan Aira Putri semata wayangnya, tentang Oma dan Papa-nya membuatnya sedikit mengurangi rasa takutnya. Aira sangat butuh Papa-nya, Intan tidak mau egois yang menjadikan anaknya kekurangan kasih sayang Papa-nya.
Intan sudah memikirkan masak-masak, dan penuh pertimbangan. Tekatnya Intan sudah bulat, Intan memutuskan kembali ke Indonesia di percepat waktunya dari kepulangannya jadwalnya kemarin.
Besok lusa Intan akan mengajukan surat permohonan resign, Intan akan mengundurkan dirinya dari tempat kerjanya mulai besok dengan alasan rindu kampung halaman.
***
Tom tersenyum sumringah mendengar kabar anak buahnya, bahwa intan dan Aira akan pulang ke Indonesia. Tom sangat berharap pertemuan keduanya akan berakhir indah seperti di novel-novel.
__ADS_1
Mendengar kabar barusan dari dua orang suruhannya, membuat hatinya Tommy berbunga-bunga seperti orang jatuh cinta. Hatinya begitu bahagia gadis kecilnya akan pulang, semoga takdir-Nya berpihak kepadaku.
💚Tidak ada yang kebetulan, semua sudah ada yang mengaturnya! Tinggal kita menunggu skenario Allah 💚