Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
S3 Part 6


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore, anak-anak sudah terbangun dari tidurnya, bukannya rewel atau apa? hanya yang paling bontot setiap bangun tidur pasti mencari Bundanya. Meskipun keduanya sudah bersekolah, bukan berarti mereka bisa lepas dari Bundanya, baginya Bundanya adalah dunianya.


Di kamar anak kembarnya terdengar sahutan tangisan keduanya yang saling bersahutan, mereka seakan-akan berlomba-lomba untuk mencari perhatian seisi rumah.


Sang bibi berjalan tergopoh-gopoh memasuki bos kecilnya, langkahnya yang tidak lagi seperti dulu membuatnya sedikit kesusahan dalam berjalan.


"Ada apa den kecil?" tanya bibi.


"Bun...da....!" jawabnya dengan suara sesenggukan.


"Sama bibi dulu ya, Bunda lagi istirahat!" Tutur sang bibi memberikan pengertian ke bos kecilnya.


"Bunda atit, auuuhhhh ya!" Ucap keduanya sembari satu tangannya mengusap air matanya. Meskipun keduanya sangat manja dengan sang Bunda, tetapi mereka juga sangat pengertian dengan keadaan Bundanya.


"Enggak sayang, mungkin capek." sahut bibi.

__ADS_1


Setelah mendapatkan bujukan mautnya dari mbak yang bekerja, akhirnya keduanya mau di mandikan sore, dan turun ke bawah untuk menonton berita sore kartun kesukaannya.


*****


Berbicara dengan ketiga kakaknya, mereka sudah beranjak remaja. Sudah mempunyai dunianya sendiri, jarang mereka seperti dulu, mungkin sudah ada sang adik ketiganya lebih mengalah.


Putra sulungnya, sekarang ini sibuk dengan sekolahnya. Puergi pagi, pulang pagi menjadi rutinitas sehari-harinya, maklum kakak Kenzi sudah memasuki gerbang sekolah tingkat pertama.


Fase remaja juga sudah dimulai, adik kembarnya juga sama, sama-sama juga sudah beranjak remaja. Meskipun memiliki sifat yang berbeda, bukan berarti mereka masih manja dengan Daddy-nya, atau Bundanya.


*****


Matahari sudah menyingsing ke barat meninggalkan gelap, dua orang dewasa masih saja nyaman bergelung dalam satu selimut.


Mereka sama-sama mencari kehangatan bersama, seakan-akan dunianya milik berdua yang lain, yang berada di rumahnya ngontrak semua.

__ADS_1


Kania mulai menggeliat tubuhnya, kedua matanya sudah terbuka menyipit, Kania ingin menyesuaikan cahaya yang masuk ke gorden kamarnya. Namun nihil semuanya nampak gelap, hanya warna jingga yang akan meninggalkan kesan indah, untuk tergantikan warna gelap.


"Akkhh auuhhh!" Kania meringis menahan nyeri di bagian intinya, rasanya sangat ngilu, benar-benar seperti malam pertama. Sensasi yang di rasakan lebih menusuk-nusuk ke dalam relung hatinya, sungguh susah di gambarkan dengan kata-kata.


Kania bangkit dari tidurnya beranjak ke kamar mandi, meskipun jalannya sedikit tertatih-tatih, tetap saja berjalan pelan supaya segera sampai.


Bau parfum tubuhnya sangat khas, membuatnya sedikit tidak nyaman, dan harus segera di bersihkan dengan guyuran air shower untuk menyegarkan fungsi otaknya kembali.


Selesai mandi, berganti pakaian, memoleskan wajahnya dengan bedak tipis-tipis, Kania membangunkan sang suami. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berjalan menuruni anak tangga.


Tibanya di lantai bawah, keadaan rumahnya sangat sepi, persis seperti sedang berada di hutan belantara.


"Anak-anak kemana ya, mas?" tanya Kania. kedua matanya celingukan mencari keberadaan anak-anak, tetapi tidak ada titik temu.


"Yudha hanya mengedihkan bahunya, bertanda dirinya tidak tahu apa-apa!"

__ADS_1


Terdengar suara telivisi yang menyala, akhirnya mereka menghampiri anak-anak berada di ruang keluarga, nampak asyik dan tidak melihat kedatangannya. Anak-anak sibuk dengan dunianya, sibuk dengan tayangan kartun yang berada di telivisi depannya.


__ADS_2