Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Sesion 2 part sembilan


__ADS_3

Selesai Tommy menerima panggilan telepon dari Yudha sahabatnya, sekaligus majikannya, Kini sudah berbalik badan memperhatikan keduanya lebih intens.


Tidak jemu-jemu Tommy memandangnya, sekarang Dia sudah duduk di bangku kosong, tetapi tatapan matanya tidak pernah lepas dari kedua perempuan yang berjarak tidak lebih dari seratus meter dari pandangannya. Dari jauh Tommy senyum-senyum sendiri, melihat gadis kecilnya begitu menyayangi Mamanya.


Niat awalnya datang ke mall untuk makan siang, tetapi niatnya buyar melihat seorang gadis kecil yang menangis tersedu-sedu mencari Mamanya. Walaupun sudah di tempat Foodcourt, tetapi Tommy tidak berselera untuk makan. Melihat gadis kecilnya makan sangat lahap, membuatnya kenyang sendiri.


Ingin rasanya Tommy menghampiri dua orang perempuan yang mengusik pikirannya, niatnya di urungkan Tommy tidak ingin mengganggu keduanya yang sedang melepas rindu, walaupun berpisah beberapa jam saja sepertinya, seperti bertahun-tahun lamanya.


***


"Ma, Aila capek ayo Ma duduk duyu ambil nunggu om-nya selesai telepon." Ujar Aira mengajak Mamanya menunggu sembari duduk di bangku kosong.


Intan mengikuti langkah kaki Aira yang terus saja menggeret tangan Mamanya. Sebenernya Intan ingin memprotes tindakan Aira, tetapi Intan urungkan, Intan ingin melihat usaha Aira bisa sampai ke tempat duduknya.


Setelah menemukan bangku kosong, Aira berhenti dan mempersilahkan Mamanya untuk duduk duluan.


"Huffttt, capeknya Ma." Ujar Aira mengusap keringat yang besarnya sebiji jagung di dahinya.


"Aila haus Ma! au minum ail dingin." Tutur Aira yang terus saja mengusap keringatnya, yang terus saja bercucuran. padahal tempatnya ber-AC, tetapi Aira nampak berkeringat sendiri.


"Aira duduk di sini ya, Mama tinggal dulu untuk pesan minum! Aira jangan kemana-mana nanti Mama nangis lagi cari-cari Aira-nya hilang." Tutur Intan sedikit merajuk, dan sedikit ada rasa takut.


"Iya Mama," Aira manggut-manggut.


***


Ketakutan kehilangan itu pasti ada di benaknya Intan, apalagi kehilangan Putri kecilnya Aira. Entah apa yang terjadi, apabila Aira-nya tidak di ketemukan. Pasti Intan tidak akan beranjak dari Mall ini, sebelum menemukan Aira-nya.


Intan yang mengandung sembilan bulan, Intan pula-lah yang bertaruh nyawa untuk melahirkan putrinya.


"Maafkan Mama ya sayang! Mama pernah mau membunuh Aira waktu Aira masih di dalam perutnya Mama." Ucap Intan lirih. Intan memperhatikan Anaknya yang sedang menopang dagunya, dan kakinya yang tidak bisa diam.


"Mbak minumnya dua ya yang dingin." Ucap Intan memesan minuman.


"Iya mbak! mau di antar apa di bawa sendiri?" tanya Mbak pramusaji dengan sangat ramah, dan tersenyum tulus.

__ADS_1


"Di antar saja Mbak."


Setelah memesan minuman, Intan berlalu meninggalkan Airnya yang duduk sendiri. Intan bertolak ke belakang, ke kamar mandi karena dari tadi Intan sudah menahan untuk ke kamar mandi.


Bruujkkk....


Intan menyenggol bahu seseorang, Intan berjalan sedikit tergesa-gesa karena Intan takut Aira-nya menunggunya lama. Tidak memperhatikan jalanan, ketidakseimbangan tubuhnya membuat Intan tersandung dan jatuh, apabila tidak di topang oleh lengan seseorang yang di senggolnya.


"Maaf Pak." Tutur Intan berusaha bangkit dari dekapan seseorang.


"Tidak apa-apa, Mbak."


Intan Mendongakkan wajahnya, melihat wajah orang yang di senggolnya. Wajahnya Intan langsung berubah tidak enak hati, pria yang di tabraknya adalah pria yang menolongnya waktu bingung mencari Aira-nya.


"Kamu, Mbak." Ucap sang pria.


"Eh iya pak! Maaf Pak." Sahut Intan sedikit sungkan dan ada rasa gugup ketika harus bertemu kembali dengan orang yang sama.


"Berarti kita jodoh, Mbak." Ujarnya sang pria tersenyum tipis.


**Deggg


Deggg


Deggg**


Jantungnya Intan terasa di hantam batu besar, dunianya seakan runtuh. Belahan jiwanya tidak ada di tempatnya, Aira-nya hilang kembali, itu tidak luput dari kesalahannya yang ceroboh meninggalkan Aira-nya duduk sendiri.


Sampai di tempatnya Intan celingak-celinguk mencari Aira-nya, Aira-nya sudah tidak ada di tempat duduknya yang semula. Ada rasa bersalah di hatinya, meninggalkan putrinya yang sedikit agak lama. Intan tidak mempertimbangkan keburukannya dan resiko yang terjadi baru beberapa jam yang lalu.


Cukup lama Intan mondar-mandir di tempat Foodcourt, kedua matanya terus saja mencari putrinya. Intan sudah berkaca-kaca kedua matanya, rasanya ingin menangis meraung-raung meratapi kesalahannya, yang meninggalkan Anaknya sendirian.


Dari jarak seratus meter, Intan melihat putrinya sedang berbicara dengan seorang pria, yang dari penampilannya seperti bukan orang sembarangan. Ada rasa takut di hatinya, Aira-nya ketemu dengan orang yang jahat, orang yang mau menculiknya.


***

__ADS_1


"Mama..." panggilan Aira membuat Intan kembali ke dunia nyata. Kedua matanya Intan lalu memandangi tubuh Anaknya yang tidak apa-apa, malah Aira-nya tersenyum bahagia.


"Cini Ma! Aila kenalin ama Om hanteng-nya." Ujar Aira yang memanggil Mamanya, supaya Mamanya mau mendekat menghampirinya.


"Iya sayang." Sahutnya Intan menanggapi panggilan Aira.


Intan berjalan dengan langkah kaki yang begitu berat, hatinya terus saja bergetar, degup jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Rasanya Intan akan bertemu dengan seseorang di masa lalu, tetapi siapa ya? Yudha kah? Tetapi nggak mungkin karena Yudha sangat mencintai istrinya dan Anak-anaknya.


"Mama duduknya di cebelahnya Aila, Aila au kenalin sama Om hanteng-nya."


"Cini Ma." Tutur Aira bergeser duduk di sebelahnya.


Intan yang melihat Aira dengan matanya yang berbinar penuh bahagia, menjadi tidak tega walaupun ada rasa sungkan duduk dengan orang yang belum di kenal sebelumnya. Dengan sangat terpaksa Intan menuruti putrinya, duduk di sebelah Aira di depan Om hanteng-nya Aira.


Sedangkan Tommy sibuk dengan gadget-nya tidak menyadari kalau ada seseorang perempuan duduk di depannya. Ada beberapa email yang masuk dan harus segera di balas berhubungan dengan pekerjaan.


Tommy mengangkat wajahnya mendengar panggilan gadis kecilnya yang memanggil dirinya, buru-buru menutup gadget-nya dan memberikan senyuman terindahnya.


"Om hanteng, kenalin ini Mamanya Aila." Tutur Aira mengulurkan tangan Mamanya untuk berjabat tangan dengan Om hanteng-nya.


"Intan...." Ucapnya dengan lirih.


"Tommy Wijaya..." sahut Tommy dengan nada tegas.


**Deg


Deg


Deg**


Ada rasa yang tidak biasa antara Intan dan Tommy, jantung keduanya terpacu dengan sangat cepat, pandangan mata mereka saling bertemu, ada rasa yang sulit untuk di ungkapkan.


"Cie...ie...ie.., Mama kok tangannya ndak di lepas dali Om hanteng-nya." Tutur Aira menggoda Mamanya. Intan yang di goda Anaknya jadi salah tingkah, dan pipinya sudah memerah seperti tomat.


"Mama ambah tantik pipinya ada melah-melah-nya." Ujar Aira yang bersorak-sorak

__ADS_1


__ADS_2