Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 149


__ADS_3

"Saya Intan..." Tutur Intan yang mengulurkan tangannya untuk saling bersalaman dengan Kania.


"Senang berkenalan denganmu, Mbak Intan!" Tutur Kania yang memberikan senyuman terbaiknya.


"Kakak Kenzi Salim dulu sama Tante Intan." Ujar Kania yang lembut mengelus puncak kepala Anaknya.


"Iya Unda." Sahut Kenzi Anaknya.


"Akak Enzi." Tutur Kenzi mengulurkan tangannya, dan mencium punggung tangan tantenya.


"Tante Intan."Sahutnya Intan yang menerima uluran tangan dari keponakannya, sembari mengusap surai rambutnya.


"Keponakan Tante sudah besar! Kenzi sudah sekolah belum?" tanya tantenya Intan.


"Issshhh bukan Enzi, tetapi akak Enzi, Nte!" Jawabnya Kenzi yang Nampak memberengut kesal.


"Iya-iya! Kakak Kenzi sudah sekolah belum?" Tutur Intan yang mengulangi pertanyaannya, karena di protes Kenzi.


"Udah ante! kelas TK." Jawabnya Kenzi.


"Kenzi sama bibik dulu ya, Daddy, dan Bunda mau bicara dulu sebagai orang dewasa sama Tante Intan." Tutur Yudha yang menjelaskan ke Anaknya.


"Iya Daddy." Jawabnya Kenzi yang mulai turun dari pangkuan Bundanya.


"Bik, ajak Kenzi ke belakang dulu ya." Tutur Yudha.


"Baik Pak." Jawab Bik Siti.


Setelah mengajak den Kenzi ke taman belakang, mereka bermain di gazebo belakang dengan mobil-mobilan yang di ambil bik Siti dari ruang bermain.


"Apek nya bik." Tutur Kenzi yang mengusap keringat di dahinya.


"Sini bibik bersihkan keringatnya." Jawab Bik Siti.


Setelah lelah bermain mobil-mobilannya, Kenzi minta makan, dan minum. Bik Siti membawa Kenzi ke dapur tanpa melewati ruang tamu.


Di dalam dapur Kenzi makan dengan lahapnya. "Akak Enzi lapel, bik." Tutur Kenzi dengan makanan yang penuh di mulutnya.


Selesai makan, bik Siti membawa Kenzi ke taman belakang kembali, mereka berdua berkebun. Kenzi kelihatan sangat senang dengan keceriaannya.


***

__ADS_1


"Ada perlu apa mencariku, Intan?" tanyanya Yudha yang sudah sedikit emosi melihat muka manisnya yang di buat-buat.


"Aku kangen kamu! Ingin memelukmu." Jawabnya Intan yang tidak punya dosa, dan mengabaikan istri Syah nya Yudha.


"Kamu sudah tahukan? saya sudah menikah, sebentar lagi saya akan punya Anak." Tutur Yudha yang sangat geram.


"Kita bisa berkencan di belakang istrimu! Intan siap kok." Sahutnya Intan yang percaya diri.


Kania yang duduk di sebelah suaminya meremas-remas ujung dressnya, dan sesekali mengelus perutnya.


"Apa berkencan denganmu? Lebih baik saya menduda daripada berkencan denganmu, Intan!" Ujar Yudha yang mulai terpancing emosi.


Tangan Kania terulur untuk mengengam tangan suaminya, untuk meredakan emosinya yang mulai terpancing


"Sayang sabar! jangan emosi." Bisik istrinya.


Yudha melihat istrinya yang sedang khawatir, berusaha untuk tersenyum tipis, "Mas baik-baik saja." Yudha berbicara dengan tatapan kedua matanya.


Melihat kemesraan di depannya, Intan jadi murka, dan mulai terpancing emosi juga.


"Bukankah Kenzi Anak dari mendiang Nena Kakak sepupuku? berarti saya berhak dong mengasuh keponakanku sendiri." Tutur Intan yang tidak mau kalah.


"Hahahaha......! sekarang kamu mengakui kalau Kenzi keponakanmu? Kemana saja tidak pernah menjenguknya, Sudah hampir 5 tahun!" Sahut Yudha yang tidak terima dengan ucapan Intan.


"Apa saya tidak boleh merindukanmu?" tanya Intan sedikit mengedipkan matanya.


"Tidak! karena saya sudah menikah!" Jawab Yudha singkat tetapi tegas.


"Jika kamu mau datang ke sini untuk menemui Kenzi! silahkan saya, dan istri tidak melarang." Ujar Yudha.


"Kamu masih muda! masa depanmu masih panjang! kembalilah ke negara asalmu! biarkan saya bahagia dengan kehidupan saya yang sekarang." Tutur Yudha yang luas kali lebar, kali panjang persegi.


Berkali-kali Yudha menarik nafasnya untuk meredakan emosinya, dan berusaha menahannya supaya tidak terjadi keributan, yang tidak baik untuk psikis Kenzi, dan istrinya Kania yang sedang mengandung buah cintanya.


"Hiks... Kamu jahat!" Sahut Intan yang sudah menangis.


Yudha merogoh ponselnya di saku celananya, dan mendial nomer ny a Tom.


"Hallo Tom! kerumah sekarang! saya tunggu." Tutur Yudha di telepon.


Yudha memutuskan sambungan telepon, dan menghela nafasnya, sesekali melirik Intan yang terdiam dengan kepala menunduk, mengusap lelehan air matanya.

__ADS_1


Tidak kurang dari 30 menit, Tom sudah datang dengan berjalan sedikit tergesa-gesa.


"Ada apa, Dha?" tanyanya Tom yang tidak tahu keberadaan Intan.


"Yudha memberikan jawaban dengan lirikan matanya."


Pulanglah, temukan bahagiamu dengan orang yang mencintaimu, dan menyayangimu dengan tulus, Sampaikan salamku untuk Aunty, dan uncle.


Intan Mendongakkan wajahnya untuk menatap wajahnya satu persatu, dan Intan mencoba mengikhlasankan hatinya untuk iklas menerima takdir-Nya.


"Bolehkah saya memelukmu untuk yang terakhir kalinya." Tutur Intan sedikit takut-takut di tolak Yudha, dan tidak di bolehin istrinya.


Yudha yang mendapat anggukan dari istrinya, menyetujuinya permintaan Intan yang ingin memeluknya terakhir kali.


Intan sudah berdiri ingin menghampiri Yudha, dan siap untuk memeluknya, tetapi di kejutkan dengan suara Kenzi yang ikut menimpali, dan ingin di peluk Daddy-nya.


Ada rasa geli menyelimuti hatinya Kania, yang tiba-tiba Anaknya muncul di antara mereka, yang membuatnya mereka berpelukan bertiga, tetap ya? Kenzi selalu di tengah-tengah.


Melihat drama pelukan di depannya, membuat Kania menitikkan air mata bahagianya, ternyata suaminya memilih bersama ku, dan Anak-anaknya.


"Jangan menangis! harus tersenyum, raihlah cita-citamu! Kamu tetap Adikku, Intan." Tutur Yudha.


Tom yang akan mengantarmu sampai ke negara asalmu, jangan khawatir dia pria yang baik, dan bertanggung jawab. Dia tidak akan macam-macam terhadapmu, kalau macam-macam cubit saja perutnya Hahahaha.... Tawa Yudha menggelegar.


Dengan berat hatinya, Intan mengalah, mundur teratur demi kebahagiaan pria yang pernah di sayangi nya, yang memilih untuk berbahagia dengan wanita pilihannya.


"Kak Yudha! Intan pamit ya,."


"Mbak Kania! Intan pamit."


"Kakak Kenzi! Tante pamit ya! sekolah yang pintar."


Intan mencium seluruh wajah Kenzi, dan mengucapkan permintaan maaf, dan kata terimakasihnya.


Setelah Intan berpamitan, tinggallah mereka bertiga yang sangat lega, yang akhirnya badai rumah tangganya yang ada kerikil-kerikil kecil bisa di lalui nya.


"Terimakasih suamiku sayang! Sudah memilihku untuk tetap bertahan di sisiku." Tutur Kania yang kedua matanya sudah berkaca-kaca.


"Sama-sama sayang! sudah menjadi kewajibanku, dan tanggung jawabku! untuk memilihmu membesarkan Anak-anak kita bersama, membina rumah tangga yang bahagia sampai kita menua bersama." Sahutnya Yudha yang menimpali perkataan istrinya.


Mereka bertiga saling berpelukan menyalurkan rasa bahagia nya, sang penganggu telah pergi, dan tidak tahu apakah ada pengganggu lainnya yang menggoyahkan rumah tangganya Yudha dan Kania.

__ADS_1


Menurut teman-teman kalau autthor ceritanya di endingkan seuju nggak? atau cukup sampai disini ceritanya?.


Tolong ya kasih masukan, biar author punya ide untuk melanjutkannya.


__ADS_2