
"Eughhh.....," Tommy membuka kedua matanya pelan-pelan, mencoba untuk menggerakkan kakinya, tetapi seperti di timpa beban yang berat. Tom melirik di sebelahnya ada Aira yang bobok menyusup ke dada bidangnya, dan kakinya menimpa kakinya Tom, meskipun tidak berat tetapi membuatnya tidak tega untuk memindahkannya.
Melihatnya Aira bobok dengan pulas, ada rasa yang bahagia sulit untuk Tom ungkapkan, inilah pagi terindahnya yang dulu hanya jadi angan-angannya, sekarang seperti mimpi tetapi nyata di sebelahnya.
Tom memindahkan kaki kecilnya Aira ke sampingnya, pelan-pelan beranjak dari ranjangnya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam, sesekali Tom memandangi Aira-nya yang nampak jelas bobok nyenyak.
Setelah cuci muka dan gosok gigi, Tom keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya. Melirik sekilas ke arah ranjang, Aira-nya masih bermimpi indah. Sejenak menghampiri Aira dan mencium keningnya, dan membetulkan selimutnya.
Dirasakan tidak ada pergerakan dari Aira, Tom mengecek ponselnya sembari duduk di kursi tempat biasanya buat duduk Intan, Tom duduk dengan sangat tenang tetapi pandangan matanya tidak pernah lepas dari jangkauannya Aira.
Semenjak mereka bertemu, ada rasa tersendiri di hatinya yang membuncah bahagia, Aira adalah sumber kebahagiaannya, Intan adalah ibu dari Anak-anaknya atau akan ada Adik-adiknya Aira kelak😁😁😁
Flashback
"Coba tebak om bawa apa, sayang?" Kata Tom memberikan pertanyaan untuk Aira-nya, senyumnya Tom tidak pernah lepas dari bibirnya, melihat ekspresinya Aira membuat Tom sangat gemas ingin sekali menciuminya dan mencubitnya.
"Aila ndak au, Om!" Ucap Aira menyengir-kan giginya yang putih, bersih, dan rapi. Aira mengerucut bibirnya, yang menurutnya Tom sangat lucu sekali.
"Aila nyelah aja Om." Tutur Aira yang berbicara dengan nada lesunya, wajahnya sudah di tekuk, tangannya di letakkan di sofa ruang tamu.
"Tom memberikan bingkisan nya, tepat di depan wajahnya Aira. Yang di kasih hadiah tidak berkutik sama sekali, wajahnya yang nampak masam seperti Aira tidak di kasih jajan sama mamanya."
"Kenapa, Aira sakit?" tanya Tom sedikit khawatir melihat perubahan mimik wajah Aira, yang mudah banget berubah-ubah.
"Aira menggeleng, ndak Om."Jawabnya Aira yang tidak bersemangat.
"Lindu anget ama Papa-nya Aila, yang udah ama-ama ndak puyang-puyang Om! alau Aila nanyain Papa ke Mama, telus Mama nangis jadi Aila ndak au Mama Tan angis agi." Tutur Aira yang sedih menceritakan Mamanya, karena Aira tahu Mamanya suka menangis setiap kali Aira menanyakan keberadaan Mamanya.
"Mau ndak Om jadi Papa-nya Aila alam ini? Aila ingin melasakan bobok ama Papa sepelti celita teman-teman Aila belmain." Tutur Aira yang penuh dengan harapan, mendapatkan jawaban dari Om hanteng-nya.
"Pleass Om.....!" Kata Aira dengan puppy eyes andalannya.
"Iya sayang, Om akan jadi Papa-nya Aira selamanya!"
"Plomise Om....." Aira menunjukkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Promise. plomise....." Keduanya menautkan jari kelingkingnya, bertanda mereka setuju untuk menikmati malam bersama seperti bapak dan anak.
💚💚
Sedangkan di balik tembok kamarnya Aira, Intan sedang menghapus air matanya yang sudah bercucuran, rasanya hatinya sesak melihat ucapan Aira-nya yang polos dan terlalu jujur.
Intan tahu mungkin Aira sedang kangen dengan Papa-nya, membuat Aira berbicara sangat jujur dengan Om hanteng-nya. Ada rasa bersalah di hatinya Intan, setelah melihat Aira-nya yang sedang ingin seperti teman-temannya, yang merasakan mempunya seorang Bapak*.
Hatinya tercentil, mendengar suara Aira yang menceritakan keinginannya untuk bertemu sang Papa, tetapi Aira tidak mau membuat dirinya menangis.
"Ternyata Aira-ku sangat menyayangi-ku, tidak mau dirinya menangis, meskipun Aira sedang ingin, tetapi Aira bisa menahannya." batinnya Intan.
Flashback Off
💚💚
Di dalam dapurnya Intan sedang sibuk membuat sarapan untuk dirinya, Aira-nya, dan Tommy. Sesekali Intan mengusap peluh di dahinya, menurutnya dirinya sangat gerah, dengan udara pagi yang membuatnya cuaca tidak mendukungnya.
Pagi ini Intan membuat sarapan kesukaan Aira-nya, Intan ingin membuat Anaknya tersenyum kembali seperti hari-hari kemarin. Intan ingin menebus kesalahannya, memisahkan Aira dengan Papa-nya.
Setelah selesai memasak, Intan menyajikan makanan di meja makan dan terhidang sangat rapi dengan berbagai lauk-pauk yang di masaknya, terutama untuk Aira-nya dan untuk Tommy tamunya.
Dirasa sudah rapi, Intan masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dulu, baru setelahnya membangunkan putrinya dan memandikannya.
Kreeet..., Intan membuka pintu kamar Aira bertepatan dengan Tommy keluar dari kamar mandi, yang bertelanjang dada hanya celana boxer menutup tubuhnya. Tommy tidak menyadari, kalau ada Intan di kamarnya Aira, kedua matanya Intan tidak berkedip melihat perut sobek-sobek milik Tom.
"***Nikmat mana lagi yang engkau dustakan, melihat pemandangan gratis perut sixpack, dada bidang uhhh sungguh bikin klepek-klepek." Intan membatin.
💚💚***
"Mengangumi, hemm..." Bisiknya Tom tidak di sadari Intan, Tommy sudah berdiri di sampingnya Intan nafasnya menerpa ceruk lehernya membuat Intan berdiri kaku.
Tommy menjintak dahinya Intan, membuat Intan sadar sedari tadi Intan sedang mengangumi sosok pria tampan di depannya. Ada rasa malu, karena telah terpesona dengan pria di hadapannya ini, pertemuan pertama tidak berakhir baik, pertemuan keduanya membuat Intan jatuh, sejatuh-jatuhnya memandangi maklum tampan ciptaan-Nya.
Intan tidak menanggapi Tom, dan memilih menghampiri Aira-nya yang sedang mimpi indah dengan bobok nyenyak-nya.
__ADS_1
"Sayang, bangun yuk udah pagi! Mama tadi masak kesukaannya Aira lho." Bisiknya Intan, tangan satunya merapikan poni rambut anaknya.
Setelah memandikan Aira dan sarapan bersama, Aira sangat nempel dengan Om hanteng-nya. Intan tidak di anggap sama sekali dengan putrinya, Aira sangat manja banget dengan om-nya, apa-apa harus sama om-nya, Mamanya nomor dua.
💚💚
Tom melihat gerak-gerik Intan yang tidak nyaman, karena tidak di anggap sama Aira, membuatnya senyum penuh kemenangan.
"Satu langkah lagi, Aku akan mendapatkan hati Mamanya Aira, sabar Tom sebentar lagi pasti akan jadi milikmu." Ucap Tom di dalam hatinya.
Tom terus saja memandangi Intan, sembari pandangan kedua matanya melirik Aira-nya yang tengah bermain dengan boneka pemberiannya.
"Sungguh manis, senyumnya Aira-nya persis mirip Mamanya, tetapi garis besar wajahnya sangat mirip dengannya." Tom melirik Intan dan Aira bergantian.
"Bapak nggak kerja apa kok jam segini belum pamit pulang?" Tukasnya Intan yang kesal, Aira di dominasi oleh-nya.
"Saya bisa kerja kapan saja." Tutur Tom to the point.
"Kenapa bapak masih di sini? ini udah siang lho!"
"Kamu mengusirku cantik...!"
"Ehh nggak!" Pipinya Intan muncul semburat merah di pipinya. Intan jadi salah tingkah dengan ucapan Tom yang bilang dirinya cantik. wanita mana yang tidak bahagia di puji pasangannya eh salah maksudnya temannya😁😁😁
🏵Hujannya rintik-rintik syahdu di kota Solo, cocoknya di temani dengan cerita Duda Keren Yang Tampan sebagai teman baca guys hehehe🏵
💚Tidak bosan-bosannya, Author mengingatkan, untuk selalu dukung terus cerita recehnya autthor dengan cara memberikan💚
LIKE👍
KOMENTAR👍
VOTE⭐⭐⭐⭐⭐
RATE-NYA⭐⭐⭐⭐⭐**
__ADS_1