
Setelah mengurus segala administrasi rumah sakit, Yudha berjalan sedikit tergesa-gesa untuk menemui istrinya di IGD. Yudha celingak-celinguk mencari keberadaan istrinya, tetapi cuma ada ranjang kosong yang tidak berpenghuni.
"Kemana kamu, sayang."batinnya Yudha.
Ada perasaan cemas, dan khawatir di benaknya. Baru saja di tinggal sebentar istrinya sudah tidak ada di brankar IGD.
"Maaf, apa Bapak keluarga pasien atas nama Ibu Kania?"
"Iya suster! Saya suaminya."
"Ibu Kania sudah di pindahkan ke bangsal Catelya, ruang VVIP Pak."
"Ruangannya dimana ya, Sus."
"Jalan lurus, kalau ada tulisan bangsal Mawar, Bapak belok kanan lurus terus, Sebelah kanannya ada tulisan bangsal catelya, Pak! nanti bapak bisa tanya sama perawat yang jaga di bangsal Catelya, Pak."
"Terimakasih Sus, informasinya."
Yudha berjalan seperti orang berlari kecil, beberapa kali mengumpat karena jaraknya sangat jauh dengan IGD. Beberapa kali juga Yudha, menarik nafas, dan membuangnya secara pelan-pelan.
Tiba di bangsal Catelya, Yudha bertanya sama salah satu perawat yang jaga di bangsal tempat istrinya di rawat.
"Kamar istri saya nomor berapa, Sus?"
"Atas nama siapa, Pak?"
"Kania, Sus."
"Mari saya antar, Pak."
Yudha mengikuti langkah kaki perawat yang mengantar ke tempat istrinya, beberapa perawat curi pandang ke arahnya, tetapi Yudha cuek saja, hatinya hanya untuk Kania seorang.
"Sudah sampai, ini kamarnya Pak."
"Terimakasih Sus."
Perawat mengangguk sembari tersenyum, dan mengucapkan kata permisi. Yudha langsung membuka kamar rawat istrinya, sedikit tidak sabaran, dan terburu-buru. Bagi Yudha ketemu istrinya lebih penting, tidak menghiraukan orang-orang sekelilingnya yang mungkin merasa terganggu.
"Sayang."
"Kania mau pulang Mas, kasihan Anak-anak di rumah."
"Anak-anak ada yang jagain, sayang! yang penting kamu sehat dulu."
"Enggak mau! pokoknya Kania mau pulang! kangen Anak-anak!"
__ADS_1
"Tetapi sayang."
Kania malah menangis sangat kencang, bulir-bulir air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya, dan merengek seperti anak kecil yang tidak di kasih uang jajan.
"Mas pulang! Aku kangen Anak-anak."
"Besok ya! malam ini istirahat di sini dulu! biar kamu sehat ya."
"Enggak mau! pulang sekarang titik."
Yudha berulang-ulang mengusap wajahnya, dan mengucapkan istighfar berkali-kali. Istrinya bener-bener sangat manja, apapun keinginan-nya bila tidak di penuhi akan menangis sejadi-jadinya.
"Besok pagi kita pulang sebelum Anak-anak bangun, Oke sayang."
"Janji ya." Kania dan Yudha menautkan jari kelingkingnya, untuk kata kesepakatan keduanya....
Yudha mengusap-usap rambut istrinya, lama kelamaan dengkuran halus terdengar sangat merdu di telinganya, menandakan istrinya sudah tertidur sangat pulas.
*****
Yudha merogoh ponselnya untuk menelepon Anak-anak bahwa Bundanya di rawat di rumah sakit, besok pagi baru Bundanya pulang. Tidak lupa juga Yudha mengabari kedua orang tuanya, untuk menginap di rumahnya untuk membantu menjaga Anak-anaknya dirumah.
Pagi buta pukul 02.00, Kania sudah terbangun dan merengek minta pulang, alasannya kangen sama Anak-anak dan sudah sehat.
"Sayang, bangun ayo kita pulang! ini sudah Pagi pasti Anak-anak sudah nungguin."
Kania kembali menggoyang-goyangkan lengan suaminya, dan merengek kekanakan seperti Kalila, Membuat Yudha tidak tega dan akhirnya Pukul 04.30 Yudha dan Kania sudah tiba di rumahnya, ketiga Anaknya masih tertidur sangat pulas.
Keesokan harinya ketiga Anaknya memasuki kamar Daddy dan Bundanya, dengan raut wajah bahagianya.
"Yeeeehh! Unda udah Puyang." Sorak gembira gadis kecilnya.
"Ila pijatin ya Unda! yang akit yang ana?" tangan kecilnya bergerak begitu lincah memijat kaki Bundanya.
Kenzi dan kama kedua Kakak beradik, ikut memijat tangan, dan kaki Bundanya menyusul Kalila yang terlebih dahulu memijatnya.
Kania mengulum senyum tipis, dan kedua matanya sudah berkaca-kaca saking bahagianya, ketiga Anaknya sangat perhatian, dan menyayangi Bundanya sangat tulus.
"Terimakasih ya, Nak." Tutur Kania mengusap puncak kepalanya bergantian.
Ketiganya mendapatkan balasan dari Bundanya, tersenyum bahagia terutama Kalila yang selalu menebar senyumnya. Anak gadisnya yang biasanya manja, hari ini sungguh berbeda begitu sangat menyayangi-nya seperti kedua kakaknya.
Yudha melihatnya dari jauh ikut berkaca-kaca kedua matanya, dan terharu melihat ketiga Anaknya yang begitu perhatian dengan Bundanya.
Yudha langsung menghampiri Anaknya, dan istrinya. Mereka saling berpelukan berlima, saling melempar senyum, saling menguatkan, dan saling menyayangi sampai akhir hayat nanti.
__ADS_1
***
Satu minggu sudah Kania keluar dari rumah sakit, satu minggu pula Kania terbaring di tempat tidur bukan karena sakit serius, tetapi karena mual muntah yang berlebihan mengakibatkan tubuhnya sangat lemas.
"Huekkkk.... huekkkk..."
"Sayang, kamu kenapa?" raut wajahnya Yudha sudah penuh ke khawatiran, seperti memikul beban berat.
"Mual Mas! pengen muntah terus sejak tadi pagi."
"Ke dokter ya, Yank."
Kania menggeleng, menenggelamkan wajahnya di pelukan suaminya yang menurutnya begitu menenangkan.
Suaminya memutuskan tidak berangkat ke kantor, melihat kondisi Kania membuatnya tidak tega meninggalkan di rumah dengan duo kembar, dan pekerja yang bekerja di rumah.
Akhirnya Yudha memutuskan untuk tidur kembali sembari memeluk istrinya, keduanya nampak nyaman saling memberi, dan menerima.
Matahari sudah meninggi, tetapi kedua pasangan suami istri masih saja nyenyak dalam tidurnya.
Gedoran pintu duo kembar, tidak membangunkan keduanya malah semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan di luar sudah bete, karena Daddy Bundanya tidak bangun-bangun, padahal pintunya sudah di gedor-gedor.
***
Pukul 10.00 pagi Kania menggeliat dan membuka kedua matanya, Kania berniat untuk bangun dari tidurnya yang tiba-tiba perutnya mual ingin muntah, tetapi seperti tertahan di tindih beban berat 10 Kg.
Kania melirik ke samping mendapatkan suaminya yang tertidur pulas memeluk dirinya.
"Mas bangun! Kania ingin muntah."
Yudha langsung membuka kedua matanya, dan melepaskan pelukannya. Kania turun dari ranjang sedikit kesusahan karena rasa lemasnya yang belum hilang-hilang.
"Huek......huek.....huek..." Kania hanya memuntahkan cairan bening saja berulang-ulang, saking lemas-nya Kania duduk di closet dengan kedua matanya yang terpejam.
Satu detik, sepuluh menit, sampai tiga puluh menit Kania belum juga keluar dari kamar mandi.
"Sayang." panggil Yudha sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
Yudha memutuskan mendobrak pintu kamar mandi, menemukan istrinya bersandar di dinding kamar mandi dengan matanya yang terpejam.
Air matanya Yudha sudah bercucuran membasahi pipinya, tidak butuh waktu lama Yudha membopong istrinya untuk di bawa ke rumah sakit.
Setelah sampai rumah sakit, Kania langsung mendapatkan pertolongan pertama pemasangan infus. Selesai memilih kamar dan menyelesaikan administrasi, Kania langsung di pindahkan ke kamarnya.
Kania juga di ambil sampel darahnya untuk mengecek penyakitnya, dan dokter pun curiga dengan tanda-tanda-nya kehamilan.
__ADS_1
"Pasiennya seperti sedang hamil," Batin Dokternya.