Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bonus Part


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga yang Yudha dan Kania jalani bertambah bahagia dengan hadirnya putra-putrinya yang sangat manis dan lucu. Sebagai seorang ibu Kania sangat bersyukur mempunyai suami yang sayang sama anak-anak, dan dirinya sendiri.


Kania sangat bahagia punya suami yang sangat pengertian, mau berbagi tugas merawat anak-anak meskipun tugas kantornya sangat padat, tetapi Yudha tidak melupakan kodratnya sebagai seorang ayah dari ke lima anak-anaknya.


Setelah makan malam, dan anak-anak juga sudah tidur duluan mungkin karena kekenyangan, dan kecapekan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka menyelami mimpi indah di pulau kapuk kamarnya.


Tinggallah sepasang suami isteri sedang berbincang-bincang di ruang tamu, Kania bersandar di dada bidang sang suami, tangannya mulai bergeliya memainkan kancing kemeja suaminya.


"Bun, jangan memancing singa yang kelaparan." Yudha berusaha menurunkan tangan sang istri, supaya tangan jahil nya berhenti untuk memancing nya untuk bertindak lebih jauh.


"Emang nya kenapa mas? bukannya Kania terbiasa memainkan kancing ini!" Kania tidak mau mengalah, tetap pada pendiriannya karena menurutnya itu hal yang biasa Kania lakukan bila sedang berduaan.


"Gerakan tangan membangunkan yang dibawah, Bun." Yudha berusaha mati-matian menahan sesuatu yang mendesak, celananya tiba-tiba terasa sesak, jantungnya pun semakin deg-degan tak menentu.


"Di bawah apa mas? kan Kania mainin kancing mas." Dengan polosnya Kania malah mengajukan pertanyaan yang ambigu untuk di dengar.

__ADS_1


"Ahhhhhkkkkhhhh..." Yudha mengerang menahan gejolak yang meletup ingin segera di keluarkan dari sarangnya.


"Mas kenapa? ada yang sakit?" Kania di buat bingung sendiri dengan jeritan kesakitan sang suami.


"Enggak pa-pa, cuma yang di bawah ini udah kangen sama sawahnya." Ujar Yudha menunjuk dengan jari bagian bawah. Yudha meringis menahan ringisan akibat ulah sang istri yang menggodanya.


"Tanggung jawab Bun!" ajak Yudha menggeret tangan sang istri untuk masuk ke dalam kamarnya.


Kania melongo mendengar kata tanggung jawab, sedangkan dirinya tidak merasa membuat suaminya terluka.


"Bantuin bun." Tutur Yudha yang sudah memegang bagian bawah nya.


Mendengar perkataan suaminya, Kania baru ngeh ternyata yang di maksud sang suami adalah bermain bersama diatas ranjang.


Mengingatnya saja sudah bergidik ngeri, membayangkan saja aksi sang suami yang tidak pernah puas bila hanya satu ronde, pasti akan ada ronde-ronde lainnya.

__ADS_1


💚💚💚💚💚


Tanpa pikir panjang, Yudha langsung menggarap sawah yang sudah beberapa hari ini tidak Yudha sambangin.


Kania hanya bisa pasrah di perlakukan sang suami dengan manis, siapa yang tidak terlena dengan sikap, dan sifat yang membuatnya nyaman.


Permainan yang mereka berdua mainkan sangatlah Apik, sampai-sampai mereka tidak sadar sudah melakukan permainan beberapa ronde.


Dengan suara nafas yang memburu, dan gerakan yang sangat cepat menandakan keduanya akan mencapai pulau tertinggi puncak nirwana.


"Ahhk.." erangan mereka berdua membuatnya tersenyum puas, bisa berbagi cinta, bermain di sawah yang sudah halal untuk mereka daki bersama.


Setelah menggarap sawah, mereka nampak bahagia dengan wajah yang berbinar, dan berseri karena baru saja mendapatkan vitamin kesehatan.


"Terimakasih sayang ku." Yudha mengecup kening sang istri lama, dan membisikkan kata-kata cinta.

__ADS_1


"Kania membalasnya dengan senyuman, sama-sama mas ku." Kania membalas mengecup pipi sang suami kanan kiri bergantian.


__ADS_2