
Setelah selesai dibersihkan, Kania di pindahkan ke kamar rawat inap VVIP yang terletak di ruang Catelya lantai tiga. Mendengar Bundanya telah di pindahkan Kenzi tersenyum sumringah, ingin cepat-cepat ketemu Bundanya, dan Adik kembarnya.
"Ayo Nek, ketemu Bunda dan Adik kembal." Tutur Kenzi menggeret tangan Neneknya, seperti orang tidak sabaran.
"Bentar ya! Bunda lagi di pindahkan, sayang." Sahut Neneknya membelai surai rambut cucunya.
Setelah mendengar ucapan Neneknya, Kenzi langsung diam dan duduk kembali, Kenzi seperti orang dewasa yang duduk, dan berdiri kembali berjalan mondar-mandir menunggu kabar Bundanya.
Di ruang bayi ada Yudha yang sedang mengadzani kedua buah hatinya secara bergantian.
Kedua tangan Yudha terasa bergetar, dan kaku pertama kali mengendong buah hati bergantian. Karena keduanya belum di kasih nama, Yudha menunggu istrinya terlebih dahulu.
Memegang tubuh mungil dengan lidahnya yang menjulur-julur. Tangan mungilnya memegang Jari jemari Daddy-nya sangat erat, begitu kecil, dan sangat lembut.
"Mau ***** ya, sayang." Tutur Yudha.
Seperti tahu saja kalau di ajak bicara Daddy-nya, Kedua buah hatinya membalasnya dengan senyum manisnya, dan menggerakkan tangan, dan kakinya.
Yudha yang melihat keduanya sangat aktif, dan tidak menangis. Membuat Yudha mengecup seluruh wajah keduanya bergantian.
"Oooeeekkk... suara keduanya sangat nyaring, membuat sang suster masuk ke ruang bayi untuk melihat bayi-bayi yang berada di ruang bayi, dan mencari sumber suara tangisannya yang begitu memekik telinga."
Yudha mundur sedikit untuk memberikan ruang kepada Suster-nya, untuk menenangkan kedua buah hatinya. Setelah keduanya anteng, Yudha di persilahkan ke luar dari ruang bayi.
Setelah istrinya sudah di pindahkan ke ruang rawat, Yudha berjalan menghampiri istrinya yang berada di lantai tiga, di ruang Catelya, kamar nomor tiga.
"Sayang...." Yudha mengelus pipi tembem istrinya, yang tidurnya sangat tenang.
Tetesan cairan infus mengalir ke dalam Vena istrinya, dan menjadi keseluruhan tubuh. Dengkuran halus suara tidur Kania terdengar begitu teratur. Yudha mengecup kening Kania lama, sebelum meninggalkan kamar inapnya untuk mengabari keluarganya yang mungkin masih menunggu di depan kamar persalinan.
"Bagaimana, Nak?" Ayahnya langsung bangkit berdiri menghampiri putranya yang keluar dari kamar bersalin.
"Alhamdulillah lahir dengan sehat dan selamat Anak-anakku dan istriku, Yah." Ucap Yudha tersenyum memeluk Ayahnya, dan bergantian memeluk Mama-nya.
"Daddy! Bunda ama Adik kembal-nya ana?" tanya Kenzi yang celingak-celinguk mencari keberadaan Bundanya.
Yudha yang gemas melihat ekspresi Anaknya, langsung mencubit pipinya yang tembem seperti bakpao yang enak di makan mumpung masih hangat hehehehe.
Yudha berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Kenzi. Yudha mengusap-usap rambut Kenzi, dan mengecup keningnya lama.
Baru beberapa jam berjauhan dengan Kenzi, Yudha sudah rindu dengan putra pertamanya yang sangat penurut, dan jarang menangis. Yudha berulang-ulang mengecup pipinya, bibirnya Kenzi.
__ADS_1
"Ishh Daddy! sukanya tium-tium kakak." Protes Kenzi yang mengusap bekas kecupan Daddy-nya.
"Hahahaha......." Tawanya Yudha langsung pecah melihat Kenzi yang protes dengan kecupan Daddy-nya.
"Bunda lagi istirahat."
"Adik kembarnya lagi di ruang bayi."
Mendengar perkataan Daddy-nya, Kenzi mengangguk, dan tersenyum sumringah ternyata Adiknya sudah lahir.
Yudha mengajak kedua orang tuanya, dan Kenzi untuk makan dulu di kantin rumah sakit, sembari menunggu istrinya istirahat terlebih dahulu.
***
Setelah dari kantin, Yudha mengajak kedua orang tuanya, dan Kenzi ke lantai tiga dimana Bundanya di rawat di kamar 03 ruang Catelya. Yudha sengaja memilih lantai tiga, supaya istirahatnya Kania tidak terganggu dengan suara bising pembangunan di lantai dasar.
Ceklek.....
Yudha membuka pintu sangat pelan-pelan takut istrinya terganggu tidurnya. Melihat Kania yang sudah bangun, Yudha menghampiri Kania, dan mengecup keningnya.
"Sayang..masih sakit?"
"Kania menggeleng pelan."
"Kakak uga kangen Bunda, dan Adik kembal." Sahut Kenzi menghampiri Bundanya, dan minta naik ke atas ranjang Bundanya.
Kania mengecup seluruh wajah Kenzi berulang-ulang, tidak ada satu jengkal yang di lewatinya. Kania sampai melupakan keberadaan mertuanya, dan suaminya saking asyiknya dengan Kenzi.
"Maaf Ayah Mama." Ucap Kania merasa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, Sayang." Sahut Mama mertuanya.
"Selamat sayang! Sekarang sudah menjadi Ibu yang sesungguhnya." Tutur Mama mertuanya sembari memeluk Kania.
Tidak ketinggalan juga Ayah mertuanya memberikan selamat untuk kedua anaknya Yudha, dan Kania.
"Permisi! waktunya si adik ***** dengan Bundanya." Tutur Suster-nya mendorong box bayi.
Semua orang yang melihatnya gemas sendiri, dengan lidahnya yang menjulur-julur ingin mencari sumber ASI-nya yang ada di Bundanya.
Sudah sangat paham arti tatapan istrinya, Yudha mulai mengajak Ayahnya keluar kamar dulu, karena Kania tidak enak menyusui keduanya di lihat Ayah mertuanya.
__ADS_1
Kania mulai mengambil anak laki-lakinya dulu, dan mulai menyusuinya. Sedotan sangat kuat dan kencang, membuat Kania sedikit meringis, karena ini pengalaman pertamanya. Setelah kakaknya kenyang, dan mulai tidur dengan pulasnya. Kania meletakkan di dalam box bayi kembali.
Kania mengambil adiknya yang sangat cantik mewarisi wajah Daddy-nya, Kania mengecup pipinya. Kania memberikan sumber ASI-nya untuk adiknya yang tidak kalah kuatnya dengan kakaknya. Setelah kenyang, dan tertidur Kania meletakkan bayinya di dalam boxnya masing-masing.
Yudha dan Ayahnya mulai masuk ke kamar rawat, dan membawa beberapa makanan yang di belinya di kantin rumah sakit.
"Sudah ada nama belum untuk keduanya, Nak?" tanya mertuanya.
Kania melirik suaminya, mereka saling pandang. Akhirnya Yudha yang mulai memberikan nama untuk kedua buah hatinya.
"Kakak bernama Kama Azzam Pradipta."
"Adik bernama Kalila Azurra Pradipta."
Yudha berucap dengan bersemangat menyebutkan nama keduanya, dan menitikkan air mata kebahagiaan. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga Pradipta di karunia-Nya sepasang anak kembar pria, dan wanita.
Di sebelah Bundanya Kenzi terus memandangi kedua Adiknya, yang nampak tertidur sangat pulas.
Sedangkan kedua mertuanya, sudah pamit pulang karena ada rapat para investor dari Eropa.
Tinggallah mereka berlima, suasananya sangat hening karena Kakak Kenzi tidak jemu-jemu memandangi kedua Adiknya, tanpa berbicara satu patah katapun.
Tangannya mulai menyentuh pipi tembem kedua Adiknya, tetapi Kenzi urungkan karena Adiknya mulai mengerjap lucu, dan tersenyum kepada Kakaknya.
"Bunda hiyat Adik senyum sama kak." Seru Kenzi bersorak gembira melihat respon Adiknya.
Kania dan Yudha saling melempar senyum, melihat kakaknya yang sangat antusias menerima kedua Adiknya, dan berharap mereka dewasa nanti akan selalu akur, rukun, dan bahagia.
Tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali melihat tumbuh kembang ketiga Anaknya, dan kebahagiaan Anak-anak yang terpenting saat ini. Lengkap sudah kebahagiaan rumah tangganya dua anak cowok, dan satu anak cewek.
Tamat ya guyss, Pada setuju nggak nich☺☺
Kritik sarannya boleh, tetapi yang sopan bahasanya.
Terimakasih banyak yang mendukung cerita
"Duda Keren Yang Tampan"
Maaf bila ada kekurangan dari autthor, mungkin penulisan, cerita, atau tanda-tanda baca.
Jangan lupa mampir ke novelku kak.
__ADS_1