
"Dari kejauhan Aira sudah melihat Mamanya, yang penampilannya sedikit tidak baik-baik saja.
Ingin sekali Aira berteriak memanggil Mamanya, tetapi Aira urungkan, keadaan yang ramai membuatnya sedikit bersabar untuk tidak memanggil Mamanya.
Jarak semakin terkikis, Tommy berjalannya sudah lebih mendekat, di lihatnya perempuannya sedang tidak baik-baik saja. Tommy sedikit meringis, melihat seseorang yang akhir-akhir menganggu pikirannya.
Ada guratan lelah, kedua matanya yang sudah sembab, kedua pipinya yang memerah karena lama menangis. Rambutnya sedikit berantakan, penampilannya sedikit acak-acakan, tetapi masih terlihat cantik di matanya Tommy.
Berjarak tidak lebih dari sepuluh meter, Tommy mematung di tempatnya. rasanya sangat kaget bisa bertemu dengannya kembali.
"Ma.... Ma...." Ucap Aira turun dari gendongan om-nya. Aira menangis dengan air matanya yang mengalir seperti menganak sungai, melihat senyum sang Mamanya Aira langsung berlari cekikikan melihat Mamanya sudah merentangkan kedua tangannya dengan senyum manisnya.
"Ma...Ma Aila lindu." Tubuh kecilnya Aira langsung menubruk tubuh Mamanya. Intan sedikit terhuyung begitu tidak siap Aira-nya menubruk tubuhnya tiba-tiba. Tangannya Intan terulur untuk mengusap lembut rambut Aira dan mengecup wangi rambutnya, yang wanginya khas shampo bayi.
"Aila dali tadi cali-cali Mama, tetapi Aila ndak ketemu sama Mama, telus Aila angis di pojokan itu!" Tutur Aira panjang lebar dan menunjukkan tempat dimana Aira terduduk memeluk lututnya.
"Telus Aila di tolong sama Om hanteng, Om-nya ngasih Aila mam, beliin Aila es klim buanyak hanget ampai Aila henyang." Ujar Aira merentangkan kedua tangannya dan Aira menunjukkan sepuluh jari tangangnya, dengan senyum khas Anak kecil.
Aira terus saja berceloteh menceritakan pengalamannya terlepas dari Mamanya, dan Aira terus saja menceritakan Om ganteng-nya terus-menerus. Saking semangatnya Aira melupakan Om ganteng-nya yang masih berdiri di belakangnya, dan Aira tertawa cekikikan mengingat dirinya yang belepotan makan es krim.
Intan yang mendengarkan celotehan Aira, membuat kedua matanya sudah berkaca-kaca, bibirnya sudah mencebik siap untuk menumpahkan tangisnya. Intan beruntung bisa di pertemukan kembali dengan Aira-nya, dengan keadaan yang baik-baik saja, tanpa ada lecet atau terluka sedikitpun.
***
Tommy tidak menyadari Aira-nya sudah tidak ada di gendongan-nya, tetapi kedua matanya Tommy terus saja memperhatikan interaksi keduanya, dari dalam lubuk hatinya Tommy sangat membuncah bahagia. Intan wanitanya sudah sangat berubah, penuh kasih sayang, dan sekarang sangat keibuan.
Dari jauh Tommy masih saja melihat interaksi Ibu dan Anak, rasanya ingin guling di Mall saking bahagianya. Tomm tersenyum penuh arti, wanita yang dulu pernah di antarkan ke London, wanita yang mampu menggetarkan hatinya, wanita yang dicintainya secara diam-diam, wanita yang selama ini di carinya, sekarang berada di depan matanya.
"Apakah Aira Anaknya?" Tommy membatin.
"Apa gadis kecil nan cantik ini yang selalu hadir di mimpi-mimpi'nya?" Tommy berbicara di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kalau iya? berarti gadis kecilnya adalah Anaknya." guman Tommy lirih.
Pikiran Tommy melayang ke masa lalu, masa di mana cerita ini di mulai. Rasa yang dulu kesal, karena Intan terus saja menganggu Yudha sahabatnya, bergantian menjadi rasa tidak biasa. Bergantian keduanya yang sedang berinteraksi, Tommy memandangnya tidak berkedip, terus saja memperhatikan keduanya lebih intens.
Drttttttttttt.... drttttttttttt...
Ponselnya Tommy bergetar berulang-ulang di saku celananya, berusaha untuk tidak mendengar suara getaran ponselnya, tetapi nihil ponselnya tidak mau berhenti bergetar.
"Ahhh sial!! siapa sih yang menelepon di waktu yang tidak tepat." gerutuan Tommy, hanya dirinya yang bisa mendengarnya.
Lalu Tommy merogoh ponselnya di saku celananya, tertera nama Yudha sebagai pemanggilan, menggeser layar ponselnya dan menempelkan di daun telinganya.
"Halo, ada apa?" tanya Tommy tanpa embel-embel Pak atau bos.
"Kamu lagi dimana? tumben belum memberi kabar kalau sudah sampai Singapura dengan selamat." Tanyanya Yudha balik. Bukan Yudha namanya yang tidak tanya balik, sedangkan dirinya yang di tanya saja tidak ada jawabannya.
"Di Mall cari makan siang! kalau masalah pekerjaan laporannya nanti kalau sudah pulang ke Indonesia." Jawabnya Tommy asal dan sedikit kesal.
Tommy dibuat semakin kesal, seolah-olah lelucon yang pantas untuk di tertawa-kan, Yudha sedang menertawakan dirinya.
"Udah dulu Aku matiin bos, lagi makan nich."
Klik sambungan telepon di putus Tommy, kedua matanya beralih menatap Intan dan Aira bergantian yang masih saja berinteraksi. Ada rasa bahagia, senang, rindu dan rasanya seperti permen nano-nano. Senyumnya Tommy tidak pernah lepas dari keduanya, ada rasa iri menyelimuti hatinya, melihat kedekatan keduanya.
***
Intan tidak sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan seseorang, Intan terus saja berinteraksi dengan putrinya Aira yang terpisah beberapa jam. Rasa syukur tercurahkan kepada junjungan-Nya, dan rasa terbahagia bisa kembali di pertemukan dengan Putri tercintanya.
Dengan binar bahagia di matanya, Aira terus saja menceritakan pertemuannya dengan Om ganteng. Intan dengan seksama mendengarkan cerita Aira yang panjang lebar, pengalamannya terpisah dengan Mamanya hanya beberapa jam, dan berakhir di pertemukan dengan Om ganteng yang menolongnya.
"Om ganteng? siapa?" guman Intan yang hanya mampu berbicara dalam batinnya, tanpa mampu mengutarakan secara langsung, takut menyinggung perasaannya Aira.
__ADS_1
"Aira udah makan belum, sayang?" tanyanya Intan sembari tangannya merapikan rambut Anaknya yang sedikit kuncirnya agak berantakan.
"Udah Ma! Mam ama Om hanteng, tadi Aila di suapin lho! Aila seneng banget, Ma." Jawabnya dengan matanya mengerjap-ngerjap sangat lucu.
"Ohhhh iya! Mama kok nggak di ajak sich." Tutur Intan yang pura-pura merajuk, dengan bibirnya sudah mengerucut ke depan.
"Hahahaha Mama sepelti Aila aja, alau sedang malah." Sahutnya Aira menertawakan Mamanya yang persis seperti dirinya.
Keduanya tertawa bersama menumpahkan rasa bahagia, rasa bisa bersama lagi, tidak henti-hentinya Intan mencium pipi gembil-nya Aira, dan seluruh wajahnya tidak luput dari kecupan Mamanya.
Setelah tawanya sedikit reda, ada sedikit jejak air mata di pipinya, membuat Aira gerak cepat mengusap air mata Mamanya.
"Hangan angis, Ma." Ucap Aira memeluk erat Mamanya.
"Mama ndak nangis, Mama bahagia di pertemukan kembali dengan Putri Mama Aira, kebahagiaan mama, detak jantungnya Mama, Mama sayang Aira." sahut Intan membalas pelukan putrinya yang tidak kalah eratnya, Intan menangis bahagia.
"Ohhh Iya! Mama kok nggak di kenalin sama Om ganteng-nya?" tanya Intan dengan senyumnya.
"Ohhh! Aila ampai lupa." Aira menepuk jidatnya sendiri.
Aira menoleh ke belakang, tempat dimana Aira minta di turunkan dari gendongan om-nya. Ekor matanya mencari keberadaannya, nah itu om-nya sedang mengangkat telepon membelakanginya.
"Itu Ma Om hanteng-nya!" tunjuk tangan Aira yang lurus mengarah ke tubuh om-nya.
"Ayang om-nya agi telima telepon ya, Ma." Ujar Aira sedikit lesu.
"Mungkin om-nya lagi menerima teleponnya penting, jadi tidak melihat ke Aira."
"Iya Ma."
"Sepertinya bukan orang jahat, penampilan seperti pekerja kantoran dan bukan orang biasa." Intan bergumam dalam hatinya, tatapan matanya tidak lepas dari tubuh tegap yang di sebut Om ganteng-nya Aira.
__ADS_1