
Yudha dan Kania melongo melihat tingkah Kenzi yang semangat, padahal baru saja Kenzi bangun dari tidurnya, lalu berbinar mendengar kata stasiun.
"Kenzi tunggu daddy dan bunda dulu!" Ujar Yudha mencekal lengan tangannya Kenzi yang akan turun dari mobil.
"Kenzi denger daddy ngomong nggak?" Ujar Yudha dengan nada suara yang lembut, supaya anaknya tidak takut kepadanya.
"Iya daddy Enzi dengel!" Ujar Kenzi menundukkan kepalanya ke bawah, takutnya daddy-nya marah-marah.
Kenzi akhirnya duduk di kursi mobil, menunggu daddy dan bundanya keluar dulu baru Kenzi ikut turun dari mobil.
"Sini sama daddy, kasihan bunda kamunya berat." Ujar Yudha yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk mengendong anaknya.
"Ndak au! itut unda." Ujar Kenzi yang memeluk kaki bundanya, tidak mau lepas semenjak turun dari mobil.
"Sama anak itu mengalah kenapa sih pak?" tanya Kania sedikit jutek mendengar drama daddy dan anak, yang tidak pernah akur bila sedang bersama, ada aja drama yang diciptakan mereka.
Kenzi tertawa cekikikan mendengar daddy-nya di marahin bundanya. Yudha mendengus sebal di marahin di tempat umum seperti anak kecil minta mainan.
Daddy kalah wlek....wlek...
Kenzi yang kalah, beraninya di ketiak bundanya wlek...
"Unda, daddy-nya akal." Ujar Kenzi yang mengadu kepada bundanya, karena Kenzi merasa terancam akan kejahilan daddy-nya.
Sudah-sudah kalian berdua sama saja, tidak ada yang mau mengalah yang besar tidak mau mengalah sama yang kecil.
Kania berjalan melewati Yudha yangsatu tangannya menggeret kopernya, dan satu tangannya menuntun Kenzi berjalan di sampingnya.
Yudha terbengong-bengong di tinggal Kania dan Kenzi, "Kania, tunggu!" Ujar Yudha yang berusaha mengejar Kania dan Kenzi yang berjalan duluan.
__ADS_1
Kenzi menoleh ke belakang melihat daddy-nya yang berjalan mengejarnya, menjadi tidak tega membiarkan daddy-nya kecapekan. Kenzi menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang lagi.
"Kenapa sayang?" tanya Kania mensejajarkan tingginya dengan Kenzi, dan mengusap surai rambutnya.
"Kasihan daddy unda hiyat itu!" Ujar Kenzi menunjukkan tempat daddy-nya yang nampak ngos-ngosan mengimbangi jalannya Kania dan Kenzi.
Kania dan Kenzi berhenti menunggu di kursi tunggu pihak kereta api, supaya Yudha cepat menyusulnya. Melihat Yudha yang nampak ngos-ngosan menjadi merasa bersalah.
Kania merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Yudha yang sudah menyusul ke ruang tunggu, "Capek!" Ujar Kania mengusap keringat di dahinya.
Yudha menggeleng kepalanya, mencoba untuk tersenyum dan mengatur nafasnya yang memburu.
Melihat Kania yang berkaca-kaca karena merasa bersalah dengan daddy-nya Kenzi, membuat Kenzi ikut-ikutan mau menangis.
"Daddy apain unda?" tanya Kenzi mendorong daddy-nya yang sedang memeluk bundanya sangat erat.
Hiks....hiks...
Cup Cup Cup...
Sayang bunda nggak apa-apa! lihat bunda, tadi bunda cuma membantu Daddy untuk mengusap keringatnya daddy saja, Daddy nggak marahin bunda kok.
"Benelan unda!" Seru Kenzi dengan binar bahagia di matanya, walaupun ada bekas air matanya tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Iya sayang! peluk bunda." Ujar Kania yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk memeluk daddy-nya dan anaknya.
Cup...Cup..Cup......
Kania mengecup pelipisnya Yudha dan Kenzi bergantian, lalu mereka saling melempar senyum dan tertawa bersama.
__ADS_1
"Ayo siap-siap sebentar lagi keretanya berangkat." Ujar Kania melepas pelukannya, tetapi di tahan oleh Yudha.
"Ada apa?" tanyanya Kania penuh harap ingin tahu.
Cup...
Terimakasih.
"Enzi au sepelti unda." Seru Kenzi melihat bundanya di cium oleh daddy-nya, membuat Kenzi ingin di cium juga.
Cup...
Yudha mencium hidungnya Kenzi dengan gemasnya.
Suara Kania memecahkan keheningan diantara mereka, membuat Yudha tersadar mereka sedang di stasiun.
"Ayo!" Ujar Yudha mengandeng tangan Kania, dan menggeret kopernya, sedangkan Kenzi di ganteng bundanya.
"Keluarga yang serasi, yang cewek cantik, anaknya tampan seperti Bapaknya." bisik-bisik orang-orang yang melewati jalan di sampingnya.
Yudha dan Kania mendengar bisik-bisik hanya tersenyum dan saling melempar pandangan dengan Yudha.
Mereka berjalan terus bergandengan tangan, saling menggenggam, saling menguatkan sebelum hari esok tiba.
Terimakasih teman-teman yang sudah mendukung cerita ini, yang sudah memberikan like, koment, votenya.
tanpa kalian semua cerita autthor tidak akan mencapai 350k.
#Part selanjutnya cerita mereka di Semarang.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, votenya☺☺☺