Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 136


__ADS_3

Happy reading


Setelah mereka menuju puncak gunung bersamaan, Yudha bangkit dari ranjangnya, dan membersihkan tubuhnya sebelum anaknya bangun melihat Daddy Bundanya tidak memakai sehelai benangpun.


Yudha memasuki kamar mandinya, mulai mengguyur badannya dengan air shower yang mengalir membasahi seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki.


Sensasinya sungguh berbeda, rasanya menyenangkan ingin kembali mengulanginya kalau tidak ingat istrinya hamil baby twins, dan ada anaknya yang tidur di kamarnya.


Membayangkan saja membuat pusakanya bangun, cepat-cepat Yudha menghalau nya, dan menyudahi mandinya sebelum pikirannya kemana-mana.


Ceklek.....


Yudha membuka pintu kamar mandi melihat istrinya masih tertidur sangat pulas, dan malah mengeratkan genggaman selimutnya supaya tidak melorot ke bawah.


Melihat istrinya tertidur pulas membuatnya mengulum senyum memperhatikan gerak-gerik istrinya.


Setelah selesai dari walk in closet, suaminya menghampiri istrinya untuk membenahi selimutnya, dan mengecupnya keningnya sebelum meninggalkan kamar yang ditempati untuk mengarungi samudera.


Yudha kembali ke kamar utama, dan menutup pintunya pelan-pelan karena Yudha tidak mau menganggu tidur istrinya.


Melihat anaknya yang masih tertidur dengan damai, Yudha naik ke atas ranjang untuk tiduran di samping anaknya, dan memeluknya berulang-ulang mengecup seluruh wajahnya dengan sangat sayang.


Akhirnya Yudha ikut tertidur di kamarnya bersama anaknya meninggalkan istrinya di kamar sebelah.


Eughhh....

__ADS_1


Kania mulai membuka kedua matanya, dan mengucek-nguceknya untuk menyesuaikan cahaya di kamarnya, yang nampak sangat berbeda tidak seperti kamar utamanya.


Kania berusaha turun dari ranjang untuk melangkah meninggalkan kamarnya, sebelum selesai menapaki kakinya di lantai, Kania sedikit kaget hawa dingin menerpa tubuhnya yang tidak memakai apa-apa cuma ditutup dengan selimut.


"Oh iya! semalam kan! mendaki gunung tertinggi bersama suaminya ya, kok Kania bisa lupa ya." Tutur Kania yang berbicara pada ranjang kamarnya.


Mengingat keagresifan Kania bersama suaminya, membuatnya muncul semburat merah di kedua pipinya, dan meraba perutnya yang sudah sedikit membuncit di kehamilannya memasuki bulan ke-3.


"Sayang, Tumbuhlah dengan sehat Daddy Bunda Kakak Kenzi menyayangi mu, menunggu kalian lahir ke dunia." Tutur Kania mengelus perutnya, dan membelainya dengan sangat sayang.


Membayangkan saja kedua anaknya lahir, membuatnya tersenyum-senyum sangat lebar pasti rumahnya sangat ramai dengan tingkah lucunya si kembar, dan Kakak Kenzi.


Ceklek....


Pintunya terbuka, menampilkan wajah suaminya dengan muka bantalnya, karena terbangun dari tidurnya setelah memejamkan kedua matanya di samping anaknya Kenzi.


"Mas, suka ini! sekarang tambah bikin gemes." bisik Yudha.


"Mas, juga suka ini bukit kembarnya." bisik Yudha yang tangan mulai bergerilya di tubuh sang istri.


"Mas, Jangan! Kania capek." Tutur Kania menahan tangan suaminya.


Melihat Kania belum memakai pakaian, membuat Yudha tersenyum mesum melirik ke inti tubuh sang istri.


Melihat suaminya seperti itu, membuat Kania malu karena belum pakai baju sama sekali cuma selimut yang menutupi nya "pantas saja hawanya dingin" guman Kania.

__ADS_1


Kania beranjak dari tempat tidur, dan berjalan cepat ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa malunya akibat ulah suaminya, Ingin sekali Kania pergi ke kutub Utara, untuk menghilangkan rasa malunya, dan pipinya yang merona.


Kania mulai mengguyur tubuhnya, dan membersihkan sangat cepat karena Kania tidak mau berlama-lama di kamar mandi suasana malam yang tidak baik bagi kesehatan, apalagi dirinya sedang hamil kembar.


Kania memakai jubah mandinya untuk mengintip kendaraan suaminya, yang sudah tidak ada di kamarnya.


Kania mulai keluar dengan jalan yang mengendap-endap supaya tidak di ketahui suaminya bahwa Kania sudah selesai mandi.


Selesai menyelesaikan ritualnya, Kania kembali ke kamar utama menghampiri anaknya yang sangat pulas tidurnya, membuat Kania mengecupnya bertubi-tubi, membuat sang anak sedikit terganggu.


Cup Cup Cup Cup Cup.....


"Bunda di sini, sayang." Tutur Kania sembari puk-puk pantat anaknya.


Melihat anaknya mulai tenang, dan sangat pulas. Kania naik ke atas ranjang, dan merebahkan tubuhnya yang begitu capek banget tenaganya terkuras.


Keduanya tertidur pulas saling memeluknya, saling memberikan kehangatan, Yudha pun ikut berbaring di samping istrinya, setelah kembali dari ruang kerjanya untuk memeriksa berkas-berkas untuk rapat besok.


Mereka bertiga tertidur sangat pulas, tidak ada beban atau kesedihan karena yang ada hanya kebahagiaan, kebersamaan walaupun tidak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok, dan hari-hari berikutnya.


Dukung terus cerita ini untuk memberikan vote, like, dan koment ya readers.


Biar author nya tambah semangat untuk Up setiap hari, di tunggu dukungan nya☺😍🤗


Jangan lupa mampir ke novelku "Jadi Yang Kedua"

__ADS_1



__ADS_2