
Setelah membersihkan tubuhnya, dan telah berganti dengan pakaian santainya. Di rasa sang isteri masih nyaman dalam tidurnya, lagi-lagi Yudha memandangi wajah teduh sang istri meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi kecantikan fisik tidak kalah dengan yang muda-muda.
"Sweet dream sayang..." bisiknya Yudha di telinganya. Kania juga tidak terusik dengan bisikan sang suami, Kania malah mempererat selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
"Cup...cup...." Yudha mengecup kening sang istri. Tangannya terulur untuk menoel-noel pipinya, yang menurutnya sangat mengemaskan.
Istrinya tidak ada pergerakan sama sekali, Yudha memutuskan untuk turun ke bawah menemani anak-anak bermain dulu. Maklum mereka masih anak-anak, di tinggal bentar saja sudah nangis, katanya kangen, tidak bisa jauh dari Bunda, dan masih banyak alasan lainnya.
Sabar, Yudha harus lebih mengalah dengan anak-anak. Waktu mereka bukan tentang kita berdua saja, tetapi ada anak-anak yang membutuhkan kita, mendampinginya, memberikan kasih sayang yang luas.
Meskipun sangat ingin menikmati waktu berdua, lagi-lagi dirinya harus membuang ego nya, setidaknya baru saja mereka bisa melakukan liburan tipis-tipis, walaupun ujung-ujungnya sang anak-anak menangis meminta nya pulang.
Pengorbanan kedua orang tua kita, tidak ada artinya walaupun sudah kita balas dengan berjuta-juta kebaikan, tetapi tidak bisa membeli waktu yang telah berganti.
Yudha menyadari menjadi orang tua dari kelima anak-anak itu tidak gampang, banyak yang harus di korbankan baik kepentingan pribadi, maupun kepentingan umum. Semata-mata Semuanya di lakukan demi anak-anak, demi belahan hatinya, penerusnya, dan keturunannya.
"Daddy, Bunda ana?" tanya keduanya yang mencari celingak-celinguk keberadaan Bundanya, tetapi tidak ada di belakang sang Daddy.
__ADS_1
"Bunda bobok sayang," jawabnya Yudha dengan mengelus rambut anak-anak bergantian.
"Bunda sakit, dad?" keduanya memberondong pertanyaan ke Daddy-nya kembali, menurutnya keduanya belum mendapatkan jawaban yang logis.
"Yudha menggelengkan kepalanya, Bunda hanya butuh istirahat karena kecapekan dengan pesta semalam." jawabnya dengan tersenyum penuh arti.
"Oooooo." jawab keduanya.
Setelah mendengar jawaban Daddy-nya, mereka melanjutkan bermain kembali. Anak kecil tetap anak kecil, mereka punya dunianya sendiri, punya cara yang ampuh untuk mengatasi masalah nya sendiri. Mungkin dengan cara bermain dunianya akan seindah surga, bersyukurlah pada yang Kuasa cinta kita di dunia, selamanya.
*******
Pada akhirnya Kania sadar, bahwa dirinya sudah sampai di rumahnya, dan dirinya sedang beristirahat di kamar mereka berdua.
Kania mendengar suara di lantai bawah, sayup-sayup mendengar ada suara anak-anak dan suami yang sedang bermain. Kania mengulum senyum, betapa tidak bahagia menjadi istri seorang pengusaha sukses, tetapi keluarga tetap prioritas yang utama, sesibuk apapun keluarga tempatnya untuk melepas lelah, tempatnya untuk pulang setelah rutinitas di kantor.
Kania sudah mematutkan dirinya di depan cermin, memoleskan sedikit bedak di wajahnya tidak masalah, berdandan kan bisa menyenangkan suami, why not?
__ADS_1
Di rasa penampilannya sudah rapi, dan memoleskan sedikit lipstik di bibirnya. Kania beranjak dari duduknya, untuk turun ke bawah bergabung dengan anak-anak dan suami untuk bermain sebentar.
Sampai di tengah tangga, lagi-lagi Kania mengulum senyum tipis. Melihat pemandangan di depannya, membuatnya terharu dan berkaca-kaca, anak-anak sudah tertidur hanya dengan usapan lembut Daddy-nya.
Tak! Tak! Tak!, suara langkah kaki Kania sangat pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Yudha.
Yudha menoleh ke belakang, memberikan senyum menyambut kehadiran sang isteri.
"Mereka sudah tidur, mas?" Kania mendudukkan bokongnya di sebelah suaminya, mulai mengelus rambut sang anak-anak, tidak lupa mengecup keningnya," Kania bertanya.
"Iya sayang ku, saatnya waktunya untuk kita berdua untuk menghabiskan olahraga selanjutnya." bisiknya Yudha di telinga sang isteri, dengan tatapan mesummmm, tetapi sangat kelihatan menggoda.
"Pipinya Kania langsung merah merona, mendengar jawaban sang suami yang terdengar sangat vulgar, tetapi dirinya sangat menyukainya."
Setelah menidurkan anak-anak di kamarnya, mereka berdua sudah diatas tempat tidurnya, Kania sudah menyadarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Tangan nakalnya sudah meraba-raba dada bidangnya, dan perut sixpack nya. Mendapatkan serangan dari sang isteri, Yudha sudah membalikkan tubuh sang istri dengan menindih tubuhnya, dan mulai mengendalikan permainan.
__ADS_1
Di tengah-tengah ada kesempatan, mereka berdua mengulang kembali olahraga nya. Tidak ada yang malu-malu lagi, di bawah langit senja mereka mulai menyalurkan kreativitas dalam berolahraga, sama-sama membutuhkan dan terpuaskan oleh pasangannya.
Sudah panas kah?