Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 114


__ADS_3

Tahun berganti menjadi bulan, bulan berganti menjadi minggu minggu berganti menjadi hari. Tidak terasa perkenalan yang singkat tetapi bermakna membawa Yudha, dan Kania ke jenjang pernikahan.


Semua orang pasti memimpikan pernikahan, yang seperti yang di inginkan, pernikahan yang mewah, meriah, dan di hotel yang berkelas internasional.


Tetapi tidak untuk Kania, dan keluarganya, karena Kania hanya menginginkan pernikahan yang sederhana, sakral, dan yang penting pernikahan yang saling mencintai, dan saling mengerti suka, dan dukanya.


Kania sadar hanya gadis biasa, yatim piatu, yang mempunyai satu adik yang merupakan tanggung jawabnya, dulu sampai Dara mempunyai keluarga sendiri baru, Kania akan melepas kepada laki-laki yang tepat, jika kelak adiknya di minta untuk ke Kania untuk di jadikan seorang istri.


Keramaian jelas terasa, ada beberapa kesibukan yang di lakukan di rumahnya Yudha.


Padahal pernikahan masih kurang 5 hari lagi, tetapi kesibukan sudah mulai terasa. Di rumah ini nanti akan di jadikan tempat akad nikah pernikahan Yudha, dan Kania. Yang akan di hadiri keluarga besar Pradipta, dan keluarga Kania di Semarang, dan temen atau sahabat Yudha maupun Kania.


Kamar utama yang di tempati Yudha, sudah di hias sedemikian rupa, menjadi kamar pengantin, dan kelopak bunga mawar putih, dan merah menghiasi kamar mereka berdua setelah ijab qobul terucap.


"Sayang!" Sapa Yudha melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kania, dan memeluknya erat dari arah belakang.


"Kenapa? datang-datang harus peluk-peluk seperti Kenzi saja!" Ujar Kania yang sibuk menggoreng ayam chicken, tanpa menoleh ke belakang kearah Yudha.


"Kangen!" Tutur Yudha meletakkan kepalanya di ceruk leher Kania yang jenjang, dengan rambut di Cepol ke belakang, yang memudahkan akses Yudha untuk mengecupnya bertubi-tubi.


"Udah geli Mas! Jangan seperti itu nanti ayam chicken nya gosong!" Tutur Kania yang fokus dengan penggorengan nya.


"Unda! cini..." Teriak Kenzi yang berada di ruang keluarga yang sedang menonton Upin Ipin di televisi.


"Iya sayang!" Sahut Kania di dalam dapur yang sedang mematangkan ayam chicken nya dulu.


"Bik...." Sapa Kania.


"Iya non!" sahut Bik Siti yang sedang mencuci sayuran yang akan di masak calon nona besarnya.


"Sayang lepas nggak enak di lihat bibik!" Tutur Kania yang tidak nyaman bermesraan di dapur, dilihat orang lain di rumahnya.


"Biarin di lihati, kita kan sebentar lagi akan menikah! biar semua orang tahu bahwa Kania milik Yudha." Jawab Yudha dengan sangat enteng.


Ehemmmmmm.....


Deheman bik Siti, membuat mereka berdua berbalik, dan menoleh ke belakang melihat siapa yang berani mengganggu bosnya yang sedang bermesraan dengan calon istrinya yang berada di dapur.

__ADS_1


Ekspresi Kania langsung terkejut, dengan pipi merah merona menahan malu, karena di lihat orang lain.


Bik, Kania minta tolong lanjutkan menggoreng ayam chicken nya, karena Kania mau ke tempat Kenzi dulu, karena dari tadi suara teriak kan Kenzi memanggilnya." Tutur Kania dengan tangan Yudha yang masih memeluknya dari arah belakang.


"Iya non!" Jawab Bik Siti.


"Kania tinggal dulu ya bik!" Sahut Kania merasa tidak enak, yang minta tolong ke bibiknya yang setengah jalan.


"Mas! lepas Kania mau ke tempat Kenzi dulu!" Tutur Kania berusaha melepas kedua tangannya Yudha yang sedang melingkar di pinggangnya.


"Mas, lepaskan! tetapi cium ini dulu!" Ujar Yudha menunjukkan bibirnya yang minta Kania menciumnya.


"Iiihhh Mas mah gitu sukanya nggak mau rugi!" Sahut Kania yang sedikit merajuk, dan manja karena permintaan Yudha yang aneh-aneh.


"Mau Mas lepas atau mau tetap seperti ini! Mas peluk terus?" Tawar menawar Yudha terhadap Kania yang melongo mendengar tawaran Yudha.


Cup....


Kania mengecup pipinya Yudha sebelah kanan dengan sangat singkat.


Kania berniat untuk melepas diri, dan berlari dari Yudha yang tengah mempererat pelukannya.


"Unda! cini....." teriaknya Kenzi sekali lagi karena bundanya tidak kunjung datang menemuinya.


Cup...


Kania mengecup bibirnya Yudha yang tiba-tiba, karena Kania sangat malu bila harus memulai duluan di tempat terbuka seperti ini, takut-takut di lihat orang lain.


Yudha menahan tengkuknya Kania, dan ******* nya, dan memainkan lidahnya dan saling bertukar salivanya.


Ehmm... ehemmmmmm......


Deheman Tom tidak di gubris sama sekali baik Yudha maupun Kania, yang sedang menikmati indahnya cinta.


"Woiii! ingat tempat dong kalau sedang ehmm." Teriak Tom dari pintu masuk, yang berjalan kearahnya dua sejoli.


Mereka berdua melepas tautan bibirnya, dan nafas mereka saling memburu dengan sorot matanya yang minta untuk di selesaikan.

__ADS_1


"Sial! Ganggu saja!" Umpat Yudha yang merasa di ganggu aktivitasnya bermesraan dengan Kania.


Wajah Kania sudah memanas seperti sedang berselingkuh dengan suami orang lain yang sedang menahan malu, karena ketahuan sedang bermesraan dengan suaminya.


Kania terbirit-birit lari dari hadapan mereka berdua, seperti ingin menenggelamkan dirinya ke Benua Antartika, biar bisa menghilangkan rasa malunya.


Ceklek....


Kania membuka pintunya sangat pelan, dan mengintip dulu aktivitas anaknya yang sedang asyik menonton televisi.


"Ada apa sayang?" tanya bundanya yang sedang berjalan ke tempat Kenzi bersandar di sofa.


"Iiihhh! unda ana aja, di teliakin dali tadi unda ndak cini-cini!" Sahut Kenzi yang mulai merajuk, dan memalingkan wajahnya dari hadapan bundanya.


"Kenapa? di ajak bicara sama bunda malah mukanya tidak menghadap ke bundanya, hmm!" Tutur Kania yang menaik turunkan alisnya.


"Enzi lapel unda, etapi unda nggak dengel sih!" Sahut Kenzi yang masih saja sedang merajuk karena panggilannya di abaikan bundanya.


"Jagoan bunda cerita nya lagi ngambek nih, lagi protes ama bundanya, tidak mau nih sama bundanya lagi ya." Ujar Kania yang mengangkat wajahnya Kenzi yang sedang menunduk ke bawah melihat ayunan kakinya Kenzi.


"Bunda salah! Bunda minta maaf sayang!" Tutur Kania mengangkat badannya Kenzi untuk di dudukkan di atas pangkuannya bundanya.


Cup.... Cup.... Cup....


Bundanya mengecup kedua matanya Kenzi yang sudah berair, bibirnya, dan terakhir keningnya.


Kenzi langsung memeluk bundanya sangat erat, dan meletakkan kepalanya di ceruk leher bundanya. Kenzi menghirup dalam-dalam aroma mawar kesukaannya yang sangat memenangkannya.


Kania mengendong Kenzi menuju ke meja makan, sudah ada Paman Tom, dan daddy-nya yang sudah menunggunya untuk makan bersama.


"Jagoan Daddy kenapa! Hmm?" tanyanya Yudha yang tidak di respon anaknya, malah mempererat pelukannya.


"Jagoan bunda lagi manja nich, inginnya sama bundanya terus ya!" sahut Kania yang sudah duduk di kursi sampingnya Yudha.


"Kenzi mau makan dengan apa? Bunda ambilkan!" tanyanya Kania.


"Yam hicken unda!" sahut Kenzi dengan suara pelannya.

__ADS_1


Spesial untuk jagoan bunda, dan daddy! Bunda akan menyuapi anak bunda yang tampan ini, dan ganteng ini. Kania merasa bahagia melihat anaknya mulai tersenyum, dan menunjukkan binar bahagianya.


__ADS_2