
Setelah drama panjang di depan pintu, Kania, Yudha, Kenzi sudah duduk di ruang tamu rumahnya.
Setelah budenya menyuguhkan minum dan camilan, budenya duduk kembali di sampingnya Kania, Kania langsung menyandarkan kepalanya sedikit memejamkan di pundak budenya.
Ehemmmmmm.....
Suara deheman pakdenya membuat Kania membuka matanya dan duduk dengan tegak.
Mata Kania melirik ke arah Yudha dan Kenzi yang sangat anteng dengan gadget daddy-nya.
"Pakde, bude perkenalkan ini temen Kania, yang kemarin saya ceritakan lewat telepon." Ujar Kania dengan tatapan lurus ke depan berbicara sangat lantang, tidak ada rasa nerveous sama sekali.
"Perkenalkan saya Yudha temennya Kania om, Tante." Ujar Yudha memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya untuk takzim kepada pakde bude Kania.
"Saya Hendra pakdenya Kania, " Ujar Hendra memperkenalkan dirinya.
"Saya Sani budenya Kania." Ujar Sani untuk memperkenalkan dirinya.
"Ohh, ini orangnya yang di ceritakan keponakan saya di telepon?" Tanya budenya yang sedikit tidak percaya bahwa keponakannya pintar mencari calon suami idaman.
"Iya tante, saya Yudha." Ujar Yudha tersenyum merekah di sambut hangat oleh keluarga Kania.
"Ini siapa?" tanyanya bude melirik ke arah Yudha dengan anak kecil yang main gadget di pangkuan daddy-nya.
__ADS_1
"Ini anak saya tante! Salim dulu sama om dan tante Ken." Ujar Yudha mengusap lembut pipi anaknya.
Kenzi berjalan pelan-pelan mencium tangan om, tante satu persatu.
"Enzi om, ante." Ujar Kenzi mencium takzim tangan kedua om dan tantenya.
"Siapa?" Enzim?" Tanya om nya yang pura-pura tidak mendengar suara nama Kenzi memperkenalkan dirinya.
"Iihhh omnya ndak dengel-dengel, Enzi om Enzi!" Seru Kenzi sedikit mendengus sebal karena namanya di ganti Enzim.
"Enzim." Ujar pakdenya yang sudah menahan tawanya melihat tingkah Kenzi yang menggemaskan dan sangat lucu.
"Daddy, unda omnya akal." Ujar Kenzi yang sudah merajuk memeluk bundanya dengan menyembunyikan kepalanya di dada bundanya.
"Panggil Kakek dan nenek, jangan panggil om, tante ya sayang." Ujar pakdenya Kania mendekati Kenzi dengan duduk di bawahnya dengan mengelus rambutnya lembut.
Mendengar suara di bawahnya, membuat Kenzi melirik sekilas dari ketiak bundanya sembari tersenyum kecil, di perhatikan dari ekor matanya seperti kakek neneknya di Jakarta.
Kenzi mulai mengangkat kepalanya dengan malu-malu, melirik orang-orang di sekitarnya lalu menyembunyikan kembali kepalanya di dada bundanya.
"Uhhh gemesin." Ujar Kakeknya mengangkat Kenzi dari pangkuan Kania, untuk di dudukan di pangkuan Kakeknya.
Kenzi melihat kakeknya masih malu-malu kucing, dengan ekor matanya melirik kearah daddy-nya dan bundanya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan anggukan dari keduanya Kenzi mulai mengangkat wajahnya, melihat sekeliling banyak orang yang memperhatikannya.
"Akek kok anyak olang?" tanya Kenzi dengan khas cadelnya, tetapi malah bikin gemes orang yang melihatnya.
"Itu saudara bundanya Kenzi, sayang." Ujar Kakek Hendra mengusap lembut rambut cucunya.
Kenzi mengangguk, "Itu iapa akek?" tanya Kenzi menunjuk jari tangannya dengan jari telunjuk kearah anak kecil yang duduk di depan kakeknya.
"Coba Kenzi kenalan dulu." Ujar Kakek Hendra.
Kenzi turun dari kakeknya langkah kecilnya berjalan untuk memperkenalkan dirinya dengan orang baru yang baru di temui nya di rumah bunda Nia.
"Enzi, Alinskie, Gracia." Ujar mereka bersama-sama dengan tangan saling berjabat, dan mereka sudah bertos ria mendapatkan teman baru.
Yudha yang melihat anaknya yang mudah akrab dengan orang lain, membuat diri Yudha bangga walaupun tanpa kasih sayang mommynya, karena mommynya pergi meninggalkan kami, saat usia Kenzi masih 6 bulan.
"Lihat sayang, anak kita sudah besar sekarang." guman Yudha di dalam hatinya yang terasa begitu sesak bila mengingatmu sayang.
Yudha memejamkan matanya sebentar untuk menikmati hembusan angin yang lewat seperti ada kehadiran mendiang istrinya di tengah-tengah keluarga besar Kania, seakan-akan Nena sudah merestui hubungan ini ke tahap yang lebih serius.
"Menikahlah Mas, aku merestuimu." bisik Nena lewat hembusan angin
Autthor jadi bapeer, berkaca-kacaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜¦ðŸ˜, hembusan angin, seolah-olah kehadiran mendiang istrinyaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1