
Selamat hari Jum'at
Happy reading
Hari menghitung hari, waktu demi waktu berlalu sangat cepat sekali. Tidak terasa tepat hari ini sembilan bulan lebih satu hari usia kandungan istrinya.
Pagi ini Kania, dan Yudha sedang berolahraga pagi. Tepatnya jalan sehat sekitar kompleks perumahan tempat tinggalnya. Tidak ketinggalan juga Kakak Kenzi yang ikutan olahraga menemani Bundanya jalan-jalan.
Ketiganya akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sekitar taman bermain sekitar perumahannya, karena hari ini bertepatan dengan hari minggu. Hari berlibur untuk semua orang yang bekerja maupun bersekolah.
Pagi ini suasananya sangat ramai, banyak keluarga yang bermain mengajak istri, dan Anaknya untuk ke taman. Baik untuk sekedar cuci mata atau mencari sarapan, karena di sekitar taman banyak yang berjualan makanan seperti bubur ayam, sate atau nasi uduk, dan masih banyak yang lainnya.
"Unda, akak au mam bubul ayam itu!" Seru Kenzi dengan jari telunjuk tangannya.
"Bentar sayang! Bunda duduk dulu." Tutur Kania memegangi perutnya, dan menundukkan pantatnya diatas tikar yang tersedia untuk tempat makan.
"Daddy mau nggak? biar sekalian Bunda pesannya." Tanyanya Kania.
"Boleh Nda." Jawab Daddy-nya.
"Bang, bubur ayam nya dua yang satu tidak pakai sambal." Tutur Kania dengan nadanya sedikit keras.
"Baik neng! ditunggu!" Jawabnya.
"Unda ndak mam? ental adiknya lapel imana, Unda?" tanyanya Kenzi dengan wajahnya yang penasaran menunggu jawaban Bundanya.
"Bunda makan Sayang, tetapi Bunda ingin makan sate saja ya." Jawabnya Kania sembari mengulum senyum.
"Kilain Unda ndak mam."
Kenzi yang mendengar jawaban Bundanya tersenyum senang, dengan giginya yang putih bersih tanpa ompong sama sekali.
Menunggu makanan lima menit, dengan menu yang berbeda dengan Kania kesukaannya sate, beda halnya dengan kedua jagoannya yang memesan bubur ayam.
Yudha melihat Anaknya yang makan sendiri dengan lahap walaupun banyak belepotan-nya, tidak membuat Kenzi malu malah semakin menikmati bubur ayam-nya hingga tandas, dengan segelas teh hangat manis pun ikut tandas juga.
Kedua orang tuanya yang melihat bubur ayam-nya habis, membuat keduanya mengulum senyum, dan mengacungkan jari jempolnya untuk anaknya.
"Sering-sering saja ajak kita jalan-jalan! Biar kakak nafsu makannya tinggi." Bisiknya Kania.
"Akak nomor satu dong." Tutur Kenzi mengusap sudut bibirnya, dan meminum teh hangatnya.
"Good boy." Tutur Yudha mengacak-acak rambut anaknya.
"Iiihhh Daddy uka-nya bikin lambut akak belantakan, Unda Daddy-nya akal." Tutur Kenzi yang mengadu ke Bundanya.
"Sini Bunda rapiin." Sahut Kania.
Setelah merapikan rambut Anaknya, ketiganya menyudahi sarapannya di taman.
__ADS_1
"Berapa mang semuanya?" tanyanya Yudha.
"Empat puluh lima ribu, Pak." Jawabnya.
Yudha menyerah uang berwarna merah satu lembar di kasihkan ke pedagang kaki lima yang di belinya.
"Bentar Pak! kembaliannya saya ambilkan." Tutur mang-nya.
"Ndak usah bang! buat jajan anak-anak bang Sapri di rumah." Sahutnya Yudha.
"Terimakasih Bapak Ibu, dan Adik tampan." Ujarnya bang Sapri.
"Kami permisi, Bang! semoga jualannya laris." Tutur Kania dengan tersenyum sangat ramah, dan manis seperti madu.
"Hati-hati neng! Semoga lahirannya lancar bayi sehat jasmani, dan rohani." Tutur bang Sapri.
"Makasih doa-nya bang." Sahutnya Yudha sembari tersenyum.
Mereka bertiga berjalan kaki, dengan posisi Kenzi minta di gendong Daddy-nya, alasannya sangat simpel karena kekenyangan, dan tidak kuat untuk berjalan.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka tiba di rumahnya, yang tidak jauh dari taman. Sesampainya di rumah mereka langsung berselonjor kakinya di ruang keluarga, dengan Kenzi yang sibuk dengan mainannya, dan acara televisi kesukaannya.
Dari semalam Kania sudah merasakan kontraksi yang sangat intens, karena kepalanya anak kembarnya sudah memasuki panggul-nya Kania, mengakibatkan Kania sering buang air kecil.
Seperti posisi ini, Kania merasakan tendangan anak-anaknya yang sangat aktif, dan membuatnya meringis menahan sakitnya.
Berulang-ulang Kania mengusap-usap perutnya, yang sudah sangat menonjol kebawah dengan posisi kepalanya sudah di fundus uteri. Sehingga mendesak jalan kencingnya Kania, membuatnya sering-sering ke kamar mandi.
"Adik udah mau ketemu Bunda, Daddy, dan Kakak ya." Bisik Yudha tepat di depan perut istrinya.
Duk...Duk..Duk..
Tendangan keduanya membuat Yudha sangat takjub, mendengar respon anaknya yang sangat baik. Membuat Kenzi mendekat ikut mengusap perut Bundanya sembari berbisik lembut di perut Bundanya.
"Adik jangan akal! asihan Unda!" Bisiknya Kenzi.
Setelah Daddy-nya, dan kakaknya membisikkan di perutnya, membuat Kania menahan sakitnya yang hebat akibat kontraksi yang terus menerus.
"Kita ke rumah sakit ya? Kakak jagain Bunda di sini! Daddy mau ambil perlengkapan adik di kamar." Tutur Yudha sangat panjang seperti rel kereta api.
Yudha mendial nomer Dokter Ferguson, dan kedua orang tuanya bahwa istrinya akan melahirkan. Yudha menyuruh kedua orang tuanya langsung ke rumah sakit saja.
Setelah menghubungi Dokter, dan orang tuanya. Yudha memanggil bik Siti untuk mengambil perlengkapan persalinan bayinya di kamar atas.
Yudha menyiapkan segala kebutuhan istrinya di rumah sakit, setelah semua beres Yudha memasukkan barang-barang ke dalam mobil di bantu dengan Bik Siti, dan mang Udin.
"Bik Siti jaga rumah, kami pamit dulu."Ucap Yudha.
Yudha menuntut istrinya untuk masuk ke dalam mobil, Yudha berulang-ulang mengusap peluh di dahinya Kania yang nampak bercucuran. Perjalanannya sangat singkat dari rumah ke rumah sakit, tidak memakan waktu lama.
__ADS_1
Setelah tiba di rumah sakit, Kania langsung di tunggu beberapa perawat, dan satu brankar untuk di bawa masuk ke ruangan bersalin di Rumah Sakit Cinta Kasih.
Yudha sudah ikut menitikkan air matanya, melihat istrinya yang kesakitan, dan bisa-bisanya istrinya tersenyum kepada suaminya, bahwa Kania baik-baik saja.
Setelah masuk ke dalam kamar persalinan, Kania di cek pembukaan oleh Dokter Ferguson, yang sudah pembukaan enam tinggal sedikit lagi pembukaan lengkap.
Kenzi di luar bersama Kakek Neneknya yang baru saja datang, dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
"Bunda mana sayang?" tanyanya Neneknya.
"Unda, dan Daddy di dalam, Nek." Jawabnya.
Mendengar jawaban cucunya, Neneknya merasa lega, dan bisa bernafas dengan teratur .
Yudha tidak pernah lepas mengengam tangan istrinya, dan mengecupnya berulang-ulang sembari mengusap keringat di dahi istrinya.
"Pembukaan lengkap, sus! siapkan perlengkapannya." Tutur Dokter Ferguson.
"Baik Dok!" Jawab Suster-nya.
Jangan mengejan ya Buk! sebelum dapat aba-aba dari saya! biar ini tidak kelelahan karena ibu melahirkan bayi kembar.
Kania mengangguk, dan mengikuti instruksi Dokternya. Kania terus mengengam tangan suaminya, dan terus menerus menarik nafasnya, membuangnya pelan-pelan.
"1 2 3 mengejan ya Buk." Tutur Ferguson.
"Aakhhh....." Kania mulai mencakar punggung suaminya, untuk menghilangkan rasa sakitnya..
"Oooeeekkk... Tangisan bayi sangat keras membuat Kania tersenyum tipis.
"Anak pertama yang keluar laki-laki ya, Buk! sangat tampan seperti Daddy-nya." Tutur Dokter Ferguson.
"1 2 3.... mengejan lagi ya, Buk."
"Akhhh...." Kania menjambak rambut suaminya.
"Oooeeekkk.... Suara tangisnya pecah memenuhi kamar persalinan.
"Anak kedua berjenis kelamin perempuan ya, Buk! sangat cantik seperti Bundanya." Tutur Dokter Ferguson.
"Terimakasih sayang." Ucapnya Yudha mencium keningnya.
Kania menjawab dengan tersenyum, dan menganggukan kepalanya.
Kedua Anaknya di bersihkan, dan di letakkan di dalam box bayi. Yang anak laki-laki panjangnya 50 cm Beratnya 3 kg, yang perempuan panjangnya 48 cm Beratnya 2,9 Kg.
Sembari menunggu istrinya di bersihkan, dan di jahit jalan lahirnya, Yudha menghampiri kedua anaknya yang masih mengerjap lucu kedua matanya, dan lidahnya yang melet-melet membuat Yudha tidak henti-hentinya mengecupnya.
"Selamat datang di dunia, Sayang." Tutur Yudha.
__ADS_1