
Sang waktu cepat sekali berlalu, sinar matahari tenggelam meninggalkan warna jingga yang indah untuk di lihat di kala senja tiba.
Seperti perasaan Kania yang seakan-akan tidak rela anak-anak cepat sekali tumbuh dewasa, akan meninggalkan kenangan yang susah untuk dilupakan.
Kenzi, Kama, Kalila sudah memasuki masa pubertas, masa dimana ketiganya mulai mengenal perasaan terhadap lawan jenis. Masa yang akan meninggalkan masa kanak-kanak menuju masa dewasa muda, hati seorang ibu siapa yang tidak was-was dengan pergaulan yang bebas, pasti sebagai orang tua ada kekhawatiran hatinya bila melihat berbagai berita di televisi, atau surat kabar melalui sosial media.
Di kala senja di pinggiran kolam renang, Kania menghabiskan waktunya untuk menemani anak-anak bontotnya berenang. Sedang ketiga kakaknya belum pulang dari sekolah, suaminya pun sama masih berada di kantor.
Kania memilih menghabiskan waktunya bersama anak-anak, di tempat ini mereka sedang menikmati senja di pinggiran kolam renang dengan satu gelas teh manis yang membuatnya nyaman.
"Bunda...." sapa Kaffa yang sudah naik ke pinggiran kolam renang. Kania langsung menoleh kearah putranya, dengan pakaian renang yang sudah Bayah kuyup.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Kania meletakkan gagang gelas, dan menghampiri putranya yang nampak sudah kedinginan.
"Renang nya udah Bunda, ayo mandi keburu Daddy pulang kerja." Kaffa sudah menggenggam tangan Bundanya untuk masuk ke dalam kamar mandi, tetapi masih ada Kaynuna yang masih asyik berenang.
__ADS_1
"Nuna renang nya udahan ya, besok lagi Abang Kaffa sudah minta mandi, nant adik tidak ada yang jaga kalau di tinggal Anang dan Bunda masuk ke dalam." Kania berbicara panjang lebar. Berharap putrinya mau mengerti dengan ucapannya, dan mau segera naik keatas.
"Siap Bunda, adik naik keatas." Ucap Kaynuna dengan bibirnya sudah membiru, akibat terlalu lama di dalam air.
Kania berjalan memasuki rumahnya lewat pintu penghubung antara kolam renang dan kamar mandi, kedua tangannya menggenggam tangan anak-anak.
*********
Di kantornya Yudha baru saja selesai rapat dengan investor asing, rasa lelah dan capek menjadi satu.
Di kursi kebesaran Yudha sedang memainkan bolpoin, memikirkan pertemuan dengan investor asing yang baru saja terjadi.
Rasa tidak percaya menguak di hatinya, karena usahanya dapat apresiasi dari pengusaha asing.
Pukul 17.00 WIB Yudha membereskan berkas-berkas diatas meja, dan memasukkan yang menurutnya penting.
__ADS_1
Tepat pukul 17.20 WIB Yudha sudah sampai rumah lebih cepat dari perkiraan, belum juga Yudha turun dari mobilnya . Yudha langsung di sambut teriakan anak-anak yang sudah wangi, rapi dan sudah mandi pula.
"Yeeeaaaahhhh Daddy pulang..." seru Kaynuna yang kegirangan melihat Daddy-nya pulang tepat dirinya sudah selesai mandi. Kaynuna memutar-mutar tubuhnya, dan senyum merekah di sudut bibirnya.
"Cup....cup...." Yudha menghadiahi satu kecupan manis di pipi kanan kiri putra putrinya.
"Bunda mana sayang?" Yudha celingak-celinguk mencari istrinya, biasanya Kania akan menyambut kepulangannya tapi sore ini terlihat batang hidungnya.
"Di kamar sedang mandi, dad." jawabnya Kaynuna.
"Daddy tinggal ketempat Bunda dulu ya, Abang dan adik main berdua dulu ya." Yudha mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anak-anak nya.
"Keduanya mengangguk sebagai jawaban, Iya Daddy."
Kaffa dan Nuna memilih kembali ke area permainan yang di tinggal beberapa menit, karena sang Daddy-nya pulang dari tempat kerja.
__ADS_1
Mereka ingin menyambut Daddy-nya, supaya rasa lelah yang Daddy-nya alami sedikit berkurang, dengan melihat senyum manis dua kembar Kaffa dan Nuna.