Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Sesion 2 part Sebelas


__ADS_3

Satu minggu kemudian....


Intan menjalani hari-harinya seperti biasanya, seperti tidak ada masalah, mengurus Aira dan bekerja adalah rutinitas sehari-hari-nya. Tidak ada yang berubah semenjak pertemuannya satu minggu yang lalu, Intan tetap menjalani rutinitas seperti biasanya, hari ini Intan berencana ingin mengajak Aira ke tempat kerjanya.


Berhubung kemarin Nenek Salma sedang di jemput keluarganya, biasanya setiap hari Intan pergi bekerja Aira selalu di titipkan dengan Nenek Salma, udah dua hari ini Nenek Salma menginap di rumah keluarga jauhnya, dengan terpaksa Aira di ajak ke tempat kerjanya.


Pukul 05.00 WIB, Aira sudah bangun dari bobok-nya, Aira mengucek-ngucek kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya kamarnya, Aira celingak-celinguk mencari keberadaan Mamanya yang sudah tidak ada di kamarnya.


Niat hati Aira ingin menangis, karena Mamanya sudah tidak ada di sebelahnya, tetapi sang putri kecil sangat mandiri. Aira tidak mau menyusahkan Mamanya, apalagi merengek minta ini itu. Aira harus mandiri tidak mau tergantung dengan Mamanya.


Aira turun dari tempat tidurnya, kaki kecilnya melangkah pelan-pelan sembari tangannya terus mengucek-ngucek matanya. Ekor matanya terus saja mencari keberadaan Mamanya, Aira berjalan ke kamar mandi, tetapi tidak ada Mamanya. Kaki kecilnya melangkah ke dalam dapur, dan senyumnya langsung merekah melihat Mamanya sedang mencuci sayuran.


"Ma... Ma... Aila cali-cali di dalam Kamal mandi Mama ndak ada, lupanya Mama di cini." Tutur Aira menampilkan deretan gigi putihnya dan muka bantalnya.


"Mama kan masak sayang buat sarapan kita berdua." Sahutnya Intan menanggapi ucapan Aira-nya. Intan berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan tingginya Aira, tangannya membelai lembut rambut anaknya yang sudah mulai memanjang.


"Ohh Iya! aap Aila lupa Mama." Ujar Aira langsung menubruk memeluk Mama-nya. Pelukan Mamanya yang paling menghangatkan, dan Aira sangat menyukainya..


Setelah memandikan Aira, mendandaninya, dan Intan tengah bersiap-siap di dalam kamarnya. Aira duduk anteng menunggu Mamanya ke meja makan, kakinya bergerak-gerak lucu, dan matanya mengerjap-ngerjap membuatnya sangat menggemaskan. Siapa pun yang melihatnya, pasti ingin sekali mencubit pipi gembil-nya.


Selesai mereka berdua sarapan bersama, Intan mengambil bekal untuk Aira dan menyambar tas kerjanya. Mereka berdua keluar dari rumah dan tidak lupa juga mengunci pintunya, Aira berjalan sendiri dengan di tuntut Mamanya menunggu taksi online pesanan Intan.


"Mama itu apa kog tinggi hanget, Aila balu tahu?" Ujar Aira menunjuk satu gedung di pinggir jalan.


"Apartemen sayang." Sahut Intan.

__ADS_1


Mendengar jawaban Mamanya, Aira tidak bertanya lagi memilih melihat pohon-pohon berjajar di pinggir jalan lewat jendela mobilnya... Senyumnya merekah seperti senyum matahari, Aira hari ini sangat bahagia karena ini kali kedua Aira ikut Mamanya ke tempat kerjanya. Banyak yang menyukai Aira, bahkan teman-teman kantornya intan tidak sungkan-sungkan untuk mengecup atau mencubit pipi gembil-nya.


****


Tiga hari kemudian Tommy sudah pulang ke Indonesia, pikirannya sedang kacau semenjak pertemuannya dengan Intan dan Aira. Kedua pelupuk matanya masih terbayang-bayang di matanya, senyumnya Aira yang membuat Tommy meleleh.


Di dalam kamarnya Tommy sedang membolak-balikkan badannya, berusaha untuk memejamkan kedua matanya, tetapi sangat susah untuk terpejam. Padahal sudah pukul 01.00 Wib, tidak ada rasa kantuk sama sekali yang ada hanya rasa rindu yang mendalam, rindu untuk bertemu kembali.


Keesokan paginya Tommy bangun dari tidurnya dengan kepalanya pusing berputar-putar, pukul 03.00 dini hari Tommy baru bisa memejamkan kedua matanya. Berusaha untuk bangun dan bersandar di ranjang, tetapi pusingnya semakin bertambah.


Tommy mendial nomer Yudha, pada dering pertama panggilan belum di angkat hanya suara operator yang menjawab teleponnya. Tommy berusaha menghubungi kembali, tetapi nihil tidak ada jawaban. Pada dering kelima panggilan teleponnya baru di angkat sang majikan.


"Maaf mengganggu, bos! hari ini Aku tidak masuk kantor, tiba-tiba kepalaku pusing berputar-putar." Tutur Tommy dengan nada suara yang sangat lemah.


"Tumben sakit, biasanya juga kalau sakit sedikit bisa di tahan, Tom." Sahutnya Yudha yang penuh tanda tanya dan hati kecilnya penuh selidik ada apa gerangan?


"Ya sudah kamu istirahat saja! masuknya nanti kalau sudah sembuh, Tom."


"Makasih, bos baik banget."


Setelah mengucapkan kata terimakasih, Tommy memutuskan panggilan teleponnya. Mulai memejamkan matanya kembali, karena buat bangun saja kepalanya sangat berat seperti tertindih beton berkilo-kilo.


***


Satu bulan sudah berlalu, kehidupan intan dan Aira berjalan seperti biasanya. Intan tidak lagi memikirkan pertemuan satu bulan yang lalu, Ini sudah cukup menjalani hari-harinya bersama Aira, dan ada nenek Salma yang membantu menjaga Aira.

__ADS_1


Flashback


Tiga hari pasca pertemuannya dengan Tommy, yang merupakan ayah kandungnya. Dirumahnya Aira terus saja menanyakan keberadaan Om hanteng-nya, dan masih banyak pertanyaan lainnya sampai-sampai Intan bingung mau jawab bagaimana.


Berjalannya sang waktu, lambat laun Aira bisa melupakan om hanteng-nya, berbagai mainan dan jalan-jalan selalu Intan manjakan supaya bisa mengalihkan beberapa pertanyaan tentang Om hanteng-nya.


Bukannya Intan tidak mau memberitahu ke Aira tentang ayahnya, tetapi Intan tidak mau membuat Aira syok. Pelan-pelan Intan akan menjelaskan keberadaan Ayahnya yang selama ini sering Aira tanyakan dan rindukan. bahwa yang di panggil Om hanteng-nya adalah Ayahnya.


Flashback Off


Nenek Salma sudah kembali ke rumahnya, jadi Intan tidak perlu membawa Aira ke tempat kerja lagi. Satu minggu membawa Aira ke tempat kerja, banyak budget yang harus di keluarkan, Intan tidak akan tega mengajak Aira-nya pergi kerja menggunakan angkutan umum.


"Nek, Intan titip Aira kembali ya! nenek tidak keberatankan?" tanya Intan sungguh-sungguh.


"Tidak Nak, nenek malah senang di rumah ada temannya! nenek sudah nggap Aira cucu nenek, jadi kamu jangan sungkan, Tan." Ucap nenek Salma.


"Iya Nek, makasih nenek sudah menyayangi Aira dan menganggapnya cucu sendiri,Nek." Sahut Intan yang sudah memeluk Nenek Salma, yang sudah Intan anggap seperti ibu sendiri.


Setelah berpamitan dengan Nenek Salma dan Aira, Intan berjalan sebentar untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Berbagai pikiran berkecamuk di hatinya, ada rasa rindu kampung halaman dan keluarganya di Indonesia.


Ingin sekali Intan kembali ke Indonesia, menetap di Indonesia kembali, tetapi Intan takut keluarganya tidak menerima Aira-nya dan memisahkan dirinya. Intan juga was-was bila bertemu dengan Ayah kandungnya Aira, takut Aira akan membencinya dan memilih ikut dengan Papa-nya. Itu yang membuat Intan enggan kembali ke negaranya, ada rasa bersalah dengan kedua orang tuanya.



Terimakasih teman-teman yang sudah suka cerita recehku ini, Alhamdulillah naik level😍😍😍 tanpa kalian semua cerita ini tidak akan terkenal. Autthor mengucapkan terima kasih. Maaf cerita tidak sesuai ekspektasi teman-teman, karena semua cerita mempunyai alur cerita yang berbeda-beda😁😁😁

__ADS_1


...Jangan lupa like dan votenya...


__ADS_2