
"Sayang....." Sapa Yudha memeluk sang isteri dari belakang. Yudha terus saja mengendus-endus bau tubuh sang isteri, wangi sabun mandi membuatnya mengunggah selera, selera untuk berbuat nakalin sang istri.
Kania menikmati gesekan hidung suaminya yang menerpa kulit lehernya, rasanya menggelikan tetapi susah untuk dilupakan seperti senja langit jingga.
"Mas udah, Kania mau pakai baju dulu." Ucapnya Kania berusaha menahan geleyer aneh yang menyeruak kulit tubuhnya. Kania bener-bener tidak berdaya dengan pesonanya Yudha Pradipta, semakin tua semakin menjadi ketampanannya.
"Seperti ini lebih enak Yank! bisa merasakan yang di bawah sudah bergerak-gerak, minta masuk ke sarangnya." bisiknya Yudha tepat di telinga sang isteri. Yudha semakin membuat titik-titik kelemahan istrinya, mengukir sejarah warna keunguan di sekitar lehernya.
Kania hanya diam saja, benar kata suaminya yang di bawah sudah bergerak-gerak menggesek bagian bawahnya.
"Udah yuk, Kania mau berpakaian takut anak-anak mencari Bundanya " Kania berusaha mengalihkan pembicaraan yang menjurus ke hal-hal yang kemesuman suaminya yang sudah tingkat dewa.
"Mas ingin seperti ini, lebih nyaman rasanya susah untuk di ceritakan." Tutur Yudha membayangkan permainan dengan sang istri diatas tempat tidur.
__ADS_1
Belum sempat Kania menimpali percakapannya dengan sang suami, kedua bibirnya langsung di bungkam, gerakan nya sangat rakus seperti tidak ada hari hari esok buat mereka bercocok tanam di ladang nan hijau.
Yudha sangat agresif memainkan benda yang sudah menjadi candunya, mengeksplorasi, menginvasi setiap rongga mulutnya sang isteri.
Kania dibuat mabuk kepayang permainan sang suami yang hari ini nampak berbeda, suaminya sangat menggebu-gebu seperti orang yang tidak sabaran ingin segera di tuntaskan.
Yudha sudah melepas handuk yang melilit tubuh sang isteri, terus saja memandangi tubuh yang sudah melahirkan empat orang anak nan menggemaskan. Bentuk tubuhnya masih sama, seperti sebelum menikah dan melahirkan keturunan nya.
Saking tidak sabarnya, Yudha langsung mempreteli satu persatu pakaian yang melekat ke tubuhnya. Mereka sudah sama-sama tidak memakai sehelai benangpun, sama-sama saling mengagumi satu dengan yang lainnya.
Mereka berdua sudah berada dalam satu ranjang tempat tidur, hasratnya sudah berada di ubun-ubun, yang membuat dirinya tidak sabar ingin segera bercocok tanam.
"Mas pelan-pelan, pasti rasanya sakit bila tergesa-gesa." ucap Kania sedikit malu-malu. meskipun ini bukan yang pertama, tetapi rasanya masih saja ada rasa nyeri di inti tubuhnya bagian bawah.
__ADS_1
"Hemmmm, enaknya kasar Yank pasti sensasinya sangat berbeda." sahutnya Yudha untuk menggoda sang istri. Yudha dibuat tidak berdaya, klepek-klepek dengan pesonanya Kania yang semakin membuatnya tak berdaya.
Tanpa ba-bi-bu lagi Yudha langsung memasukkan benda pusaka dengan sekali hentakan, mendiamkan sebentar untuk menyesuaikan, dan sang isteri lebih rileks lagi.
"Auuhhh...." Iiihhh pelan-pelan mas, sakit tau!"
"Yudha membalas dengan senyuman tipis, sungguh semakin tampan."
"Boleh mas bergerak Yank?"
"Kania mengangguk-anggukkan kepalanya, iya Mas."
Yudha menggerakkan inti pusaka nya dengan ritme pelan, sedang dan cepat seperti permen nano-nono yang banyak rasanya. Kania di buat tubuhnya terlonjak-lonjak dengan aksi sang suami, tetapi membuat dirinya melayang ke langit ketujuh.
__ADS_1
Dengan suara teriakan yang melalang buana, menyebutkan nama pasangan bertanda keduanya sudah mencapai puncak nirwana. Puncak tertinggi pencapaian nya dalam menggapai surga bersama dalam berumah tangga, sungguh nikmat mana lagi yang Engkau dustakan.