
Yudha, Kania dan Kenzi sudah tiba di rumahnya Kania. Rumah sederhana peninggalan Ayah Ibu Kania dan Dara, memiliki perkarangan yang sangat luas beberapa pohon berjajar di depan halaman seperti rumah tempo dulu, orang Jawa mengatakan rumah Joglo yang banyak kayu jatinya.
Tok tok tok tok tok....
"Assalamu'alaikum Dara! kakak pulang!" ujarnya Kania ketok-ketok pintu rumah."
Walaikumsalam Kakak!" jawab Dara dari dalam rumah.
Ceklek....
"Kakak! Dara kangen ucap Dara menghamburkan ke pelukan kakaknya.
"Kakak juga kangen Dik!" ucap Kania membalas pelukan adiknya.
"Unda, Enzi au itut kaya Teletubbies!" ucap Kenzi dengan puppy eyes yang memainkan matanya.
Kania tersadar, langsung melepas pelukannya dengan rona wajah yang malu.
"Silahkan masuk Pak Yudha dan Kenzi!" ucap Kania dengan tersenyum
"Ohh, Iya!" ucap Yudha iri melihat kerinduan Kakak Adik.
"Silahkan duduk dan di minum! Kania tinggal mandi dulu Pak!" ucap Kania malu-malu dengan bau matahari.
"Dara temani dulu Pak Yudha dan Kenzi, kakak mau mandi dulu" ucap Kania kepada Dara. " Baik kak!" jawab Dara. " Ken Aunty mandi dulu! sama Aunty Dara dulu ya!" ucap Kania.
"Aunty Dala Enzi itut ya!" ucap Kenzi puppy eyes.
__ADS_1
"Iya, ayo kita jalan-jalan Ken." ajak Dara menuntut Kenzi berjalan.
"Pak, Dara tinggal dulu!" ucap Dara ke pak Yudha sambil menuntut Kenzi berjalan-jalan keluar rumah.
"Silahkan!" jawab Yudha.
Yudha melihat arsitektur rumah peninggalan mendiang orang tua Kania yang begitu klasik. masih banyak kayu jatinya dan ukiran-ukiran khas Jepara.
Yudha beranjak dari tempatnya duduk untuk berjalan keluar ke tempat dimana Dara dan Kenzi bermain di bawah pohon yang rindang. "Kampung ini masih asri, udaranya belum kena polusi" ucap Yudha merentangkan kedua tangannya untuk menikmati semilir angin sore yang di sampingnya adalah persawahan.
"Pemandangan yang indah bukan"
"Aunty itu apa aya olang?" tanyanya Kenzi menunjukkan arah telunjuk tangannya ke persawahan.
"Orang-orang sawah sayang!" ucap Dara mengelus surai rambut Kenzi.
"Untuk menakut-nakuti hama tikus, burung masih banyak fungsi lainnya Ken!" ucap Dara.
"Ehemmmmmm......."
"Eeehhh ada Pak Yudha"
"Dara! di kampung ini mata pencariannya apa saja?" tanyanya Yudha.
"Mayoritas Petani Pak!" ucap Dara lirih.
Wooowww keren masih asri Udaranya, pemandangannya bagus mirip dengan puncak dan lembang.
__ADS_1
Suara handphone bergetar di saku celana, Yudha berjalan menjauh untuk mengangkat telepon dari kantor.
"Is calling" Paman Tom.
Yudha langsung menekan icon hijau
"Assalamu'alaikum Paman!" ucap Yudha di telepon.
"Walaikumsalam Dha, kamu lagi dimana? kata sekretarismu kamu tadi pulang cepat? ada apa Dha?" tanyanya Paman Tom beruntun.
"Yudha lagi pergi sama Kenzi, Paman!" ucap Yudha sedikit berbohong.
"Pak, minum dulu kopinya!" ucap Kania.
"Terimakasih!" ucap Yudha kepada Kania dengan tersenyum sedikit.
Klik.... telepon di matikan Yudha secara sepihak. kebiasaan menelpon belum selesai main di matikan saja gerutu Paman Tom di seberang sana.
Cuma sedikit karena Yudha termasuk orang yang jarang tersenyum, dan memberikan senyum kepada orang lain kecuali pada putranya Kenzi Pradipta.
"Tumben Pak Yudha tersenyum dengan tulus" batin Kania.
"Yudha menyeruput kopi yang di bikinin Kania rasanya pas, kopinya enak, seperti orangnya manis" suara hati Yudha.
Terimakasih yang like, koment, vote
Jangan lupa like, vote, koment ya.
__ADS_1