Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 98


__ADS_3

"Uwing....uwing.. unda." Seru Kenzi dengan wajah yang berseri-seri, menirukan suara pesawat terbang.


"Iya sayang, Kenzi bahagia?" tanyanya bunda Kania yang mengusap lembut kepalanya, dan mengecup bibirnya singkat.


"Enzi eneng anget aik pecawat telbang." Seru Kenzi dengan matanya yang berbinar secerah sinar matahari pagi, dan senyumnya tidak pernah lepas di bibirnya.


Setelah melakukan perjalanan dari rumah ke Bandara yang menghabiskan waktu 30 menit, karena yang mengemudinya seperti pembalap internasional versi Paman Tom.


Yudha, Kania, dan Kenzi sudah sampai bandara, yang kurang dari 5 menit lagi pesawat akan take On.


Paman Tom mengeluarkan kopernya dibagasi mobilnya sedikit terburu-buru, karena pesawat sebentar lagi akan mengudara.


Yudha mengendong Kenzi yang berjalan terlebih dahulu, karena berjalan tanpa beban kopernya di serahkan kepada Kania dan Paman Tom.


Mereka tertinggal jauh dari Yudha, yang melangkah kakinya dengan langkah kaki yang sangat lebih cepat dengan kaki panjangnya.


"Huffttt! di tinggalin, mentang-mentang cuma mengendong Kenzi saya ketinggalan jauh." gerutu Kania yang merasa dirinya tidak dihargai, di gandeng Kek, atau berjalan beriringan.


Kania berusaha menyamakan langkah kakinya Yudha, tetapi sama saja Kania tidak bisa mengimbangi langkahnya yang sudah jauh.


"Tom, saya capek!" Ujar Kania mengeluh kepada sekertarisnya Yudha, merupakan kaki tangannya, dan orang kepercayaannya baik urusan pribadi maupun pekerjaan.


"Biar kopernya saya yang bawa." Ujar Tom yang berusaha mengambil alih kopernya ke tangannya, supaya calon istri majikannya tidak kecapekan.


"Nggak usah, Tom! biar saja ketinggalan pesawat saya mah enak bisa tidur dirumah tanpa ada yang gangguin." Kelakar Kania berharap pesawatnya sudah terbang, jadi Kania merasa bebas.


Brukkkk......


Kania tiba-tiba terjatuh dengan kopernya yang masih di genggam tangannya, dan tidak sadarkan diri.


Tom yang ada di sebelahnya di buat kaget, dengan aksinya Kania yang terjatuh di depannya, dengan posisinya meringkuk seperti orang kedinginan.


"Kania bangun." Ujar Tom menepuk-nepuk pipinya Kania dengan sangat lembut, dan menggoyangkan lengannya Kania dengan pelan-pelan.

__ADS_1


"Tolong! tolong!.... teriak Tom yang sudah dikerubungi banyak orang yang hanya cuma melihatnya saja tanpa ada yang mau membantunya.


Seorang security bandara datang dengan nafasnya terputus-putus, karena mendengar suara minta tolong security langsung berlarian supaya cepat sampai tempat kejadian, untuk membantu korban yang pingsan di bandara.


Tom yang mengangkat Kania, sampai di tempat klinik dengan nafas satu dua dan langsung di tidurkan di brankar klinik. security membawakan koper dan barang berharga lainnya yang mengikuti Tom dari belakang.


"Dokter... dokter tolong calon istri majikan saya yang tidak sadarkan diri." teriak Tom yang minta pertolongan pertama.


Setelah dokter memeriksa Kania, Tom bisa bernafas lega karena Kania cuma syok dan kelelahan karena belum makan siang. Tom mengusap dadanya untuk mengucapkan syukur, Kania tidak mengalami penyakit yang serius.


......*******Miopay*******.....


Di pintu masuk bandara Yudha celingak-celinguk mencari keberadaan Kania dan Tom, yang tidak terlihat sama sekali. Kenzi juga ikut mencarinya dengan ekor matanya yang melirik kemana-mana, tetapi nihil Kania dan Tom tidak terlihat dari pandangannya.


"Daddy, unda ana?" tanyanya Kenzi yang mencari lewat matanya, tetapi tidak ketemu juga, yang ada orang-orang menggeret kopernya untuk masuk area bandara.


"Unda ana? Enzi au unda, Daddy!" Rengekan Kenzi yang membuat Yudha kalang kabut, karena Kenzi tidak bisa lepas dari bundanya nempel terus seperti perangko.


"Sebentar Daddy telepon dulu." Ujar Yudha berusaha menenangkan Kenzi, dan merogoh handphone di saku celananya untuk menelepon bundanya Kenzi.


Yudha berulang-ulang mencoba menelepon Kania, tetapi Panggilan terputus, karena tidak ada yang mengangkatnya. "Kemana kamu, sayang?" guman Yudha dalam batinnya.


Mengengam handphonenya sangat erat dengan kuku-kukunya berwarna putih, seperti sedang menahan emosinya.


"Enzi au unda, au unda!" Ujar Kenzi yang menahan tangisnya, akibatnya Daddy-nya menelepon bundanya tidak di angkat sama sekali.


Yudha berfikiran untuk langsung menelepon Tom, pada dering ketiga panggilannya di terima. "


Hallo, Tom Kania mana? kok saya telepon handphonenya tidak di angkat?" tanyanya Yudha beruntun tidak ada titik dan koma nya lurus terus.


"Bisa nggak tanyanya satu-satu, saya pusing mendengarnya." Jawab Tom sedikit kesal dengan sikap Yudha yang egois mau menang sendiri, tidak memikirkan Kania yang nampak kelelahan mengikuti langkahnya kaki Yudha.


"Bisa katakan dimana Kania atau mau gajimu saya potong!" Ujar Yudha yang sedikit sudah mengancam dengan sedikit gertakan, Tom pasti ketakutan gajinya dipotong karena masih punya 2 adik yang masih butuh biaya sekolah.

__ADS_1


"Baik saya katakan! Kania sedang istirahat tadi kakinya terkilir, karena ingin mengimbangi langkahnya kakimu." Ujar Tom menceritakan lebih detail kronologi kecelakaan, kakinya Kania terkilir sandalnya sendiri.


"Kamu dimana? saya akan kesana?" tanyanya Yudha yang penuh dengan kekhawatiran mendengar Kania sakit.


"Di klinik bandara." Jawab Tom yang berusaha tidak menutupi-nutupi keberadaan Kania yang tengah beristirahat karena habis minum obat dan di pijat.


"Unda kenapa Daddy?" tanyanya Kenzi yang sangat terlihat cemas mendengar bundanya terkilir.


Tidak ada jawaban, Yudha berjalan terus sembari mengendong Kenzi yang terlonjak-lonjak kaget saking cepatnya Daddy-nya berjalan.


Yudha berhenti sejenak untuk bertanya kepada satpam bandara, tentang tempat klinik di Bandara di sebelah mananya, karena Yudha tidak pernah tahu kalau di Bandara ada klinik kesehatan.


"Permisi Pak! kliniknya sebelah mana, Pak?" Tanya Yudha yang merasa sangat bersalah karena dirinya Kania sakit dan terbaring di klinik.


"Lurus saja Pak, nanti ada belokan Bapak belok kanan! kliniknya di sebelah kanannya Pak!" Jawab satpam bandara dengan menunjukkan tempat kliniknya.


"Terima kasih pak!" Ujar Yudha menundukkan tubuhnya dan mengucapkan kata terimakasih.


"Kenzi diam dulu, Daddy lagi cari bunda." Ujar Yudha mengusap pipinya Kenzi yang kelewatan montok nya.


"Iya daddy, Enzi ngelti." Ujar Kenzi yang melihat ke bawah takutnya daddy-nya marah-marah seperti dulu.


"Lihat Daddy sayang, Daddy nggak marah sama anak Daddy yang ganteng ini." Ujar Yudha mencubit pipinya Kenzi yang saking menggemaskan.


"Iih akit Daddy, angan-angan ubit-ubit." Rajuknya Kenzi yang tidak mau pipinya di cubit Daddy-nya.


Yudha belok kanan, tempat kliniknya berada tepat di depannya, langkah Yudha terhenti mendengar suara anaknya yang sudah mau menangis bila bundanya kenapa-napa.


"Jangan sedih! Bunda cuma tidur, sebentar lagi juga bangun nemenin Kenzi main seperti dulu." hibur Daddy-nya di pintu masuk klinik.


Terbitlah senyum malu-malu Kucingnya, yang nampak sumringah mendengar bundanya baik-baik saja.


Brukkkk.......

__ADS_1


Yudha Membuka pintunya sangat terburu-buru, karena ingin cepat-cepat melihat keadaan Kania yang terbaring di ranjang klinik.


__ADS_2