
Semalam Aira Juga ikut menginap di rumah sakit, biasanya Aira mau di tinggal kedua orang tuanya, tetapi kemarin berbeda melihat Mamanya pingsan, Aira ikut mencemaskan keadaan Mamanya.
Intan dan Aira tidur dalam satu ranjang, meskipun tangan satunya di pasang infus tetapi tangannya yang satunya masih bisa mendekap Aira, dan mengusap puncak kepalanya Aira dengan sayang.
"Cup.... Cup... " Intan mengecup keningnya berulang-ulang.
"Sebentar lagi Aira akan jadi kakak..." guman Intan lirih.
Intan melirik ke sofa yang tidak jauh darinya, ada suaminya yang masih tertidur pulas dengan tangannya sebagai bantalnya. Ingin rasanya Intan mengecup keningnya, tetapi apa daya tangannya tidak sampai, dan harus bedrest dulu demi calon buah cinta mereka yang masih sangat kecil.
💚💚💚
Sesuai instruksi dokter yang merawat istrinya, bahwa pagi ini Intan akan di periksa oleh dokter kandungan, tidak perlu mengantri dan sebagainya, sebelumnya sudah terdaftar sebagai pasien rumah sakit dan di rekomendasikan oleh dokter IGD.
Tom dan Aira juga sudah bangun dari tidurnya, mereka tengah bersiap-siap untuk ke poli kandungan. Dengan kursi roda Intan di dorong oleh perawat, dan di sampingnya ada suaminya yang mengendong Aira. Hanya duduk sebentar, dan tidak pernah daftar kembali.
"Nyonya Intan Wijaya...." Panggil perawat yang bertugas.
"Iya Sus, saya suaminya..." Jawabnya Tom.
"Silahkan masuk Pak, dokter sudah menunggu di dalam.." Ucap perawat Nisa yang bertugas.
"Makasih Sus..."
Setelah istrinya di dorong kursi rodanya ke ruang periksa, Tom mengikuti dari belakang, dengan posisi masih mengendong Aira.
Pintu ruang periksa di tutup pelan, Tom sudah mendudukkan Aira-nya di bangku yang di sediakan,Tom mendorong kursi roda istrinya supaya mendekat dengan dirinya.
"Seperti yang di beritahu dokter IGD, Apakah ibu Intan telat bulan?" tanya dokter Septi.
"Sekitar satu bulan telat bulan, minggu kemarin pernah ada flek-flek, Dok." Jawabnya Intan menceritakan kronologisnya
'" Kemungkinan ibu sedang hamil, tetapi lebih jelasnya saya USG dulu ya Bu." Tutur Dokter Septi dengan lembut.
Intan sudah tiduran di brankar yang sudah di sediakan di ruang periksa, Tom dan Aira sangat antusias menunggu kabar bahagia dari perempuan yang di cintainya.
__ADS_1
Seorang perawat yang bernama Nisa sedang mengolesi gel pelumas di perutnya Intan, pelumas-nya sudah Nisa ratakan sesuai instruksi dokter yang memeriksanya.
Dokter Septi meratakan kembali gel pelumas supaya memudahkan cara kerja dengan alat pemindai atau Transducer, mulai mengerakan alat pemindai ke kanan, kiri, bagian bawah, dan atas untuk mengetahui adanya kehamilan apa tidak.
Setelah menggerakkan alat Transducer, dokter Septi tersenyum penuh arti, tepat di letakkan alat pemindai terdengar detak jantung janin, meskipun masih pelan tetapi dokter Septi bisa merasakannya ada nyawa di rahimnya pasien.
"Lihat di layar Bu, usia janinnya masih kecil, kira-kira masih usia 8 Minggu harus di jaga kehamilannya, harus hati-hati ya Bu, karena trimester pertama sangat rentan dengan keguguran pada awal trimester pertama." Tutur Dokter Septi dengan panjang kali luas, kali lebar.
"Mas Aku hamil..." Ucapnya Intan dengan kedua matanya sudah berkaca-kaca, dan sebentar lagi tangisnya akan pecah. Bukan tangis kesedihan, tetapi tangis bahagia karena di percaya untuk mengandung buah cintanya dengan suami.
"Aku bahagia Mas..." Ucap Intan menghamburkan ke pelukan suaminya.
"Yeeeehh bental agi Aila unya emen, Aila akan jadi kaka..." Seru Aira yang bahagia. Mereka bertiga saling berpelukan, meluapkan rasa bahagianya karena di berikan kepercayaan menjadi orang tua.
Ketiganya melupakan keberadaannya yang masih di tempat periksa, dokter Septi dan perawat Nisa juga ikut bahagia melihat sepasang suami istri yang mendapatkan kabar gembira.
"Maaf bu, perutnya belum saya bersihkan..." Ujar perawat Nisa.
"Eehh lupa saking bahagianya..." Sahutnya Intan yang sedikit ada rasa malu.
💚💚💚
Mereka bertiga sudah keluar dari ruang periksa, dan memasuki kamar inap Intan, rencananya Intan nanti sore sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya yang sangat signifikan lebih baik.
💚💚💚
"Aira seneng banget bental agi Aila unya emen, unya ainan balu untuk belmain." Ucapnya Aira dengan kedua matanya yang berbinar bahagia.
"Iya sayang, berarti Aira harus jadi kakak yang baik untuk calon Adiknya kaka Aira ya..." Sahutnya Intan menimpali ucapan putrinya......
"Iya dong, mah..." Jawabnya Intan dengan jempol.
"Terimakasih sayang..." ucap Tom dengan tulus, dan mengecup kening istrinya.
"Sama-sama Mas.." Jawabnya Intan.
__ADS_1
Mereka terhanyut dalam kebahagiaan yang sesungguhnya, akan ada warna yang baru untuk keluarga Tom dan Intan tujuh bulan yang akan datang, akan ada malaikat kecil yang meramaikan rumah mereka, tangisan dan tawanya ak menjadi melodi yang indah untuk rumah tangganya kelak.
💚💚💚
"Selamat sore, Bu..." Sapa dokter Septi.
"Sore juga, Dok..." Sahutnya Intan.
"Ada keluhan apa, Buk..."
"Sudah tidak ada keluhan, Dok! apakah saya boleh pulang dan beristirahat di rumah?" tanyanya Intan sedikit sungkan.
"Kalau sudah tidak ada keluhan dan lain sebagainya, istirahat di rumah boleh, tapi harus di jaga kehamilannya untuk trimester pertama."
"Nanti saya akan menuliskan resep vitamin, dan penguat kandungan supaya janinnya tumbuh sehat, Bu."
"Baik Dok."
Pukul 15.00 dokter Septi visite ke ruangannya Intan, dan menginginkan untuk pulang ke rumah, dan beristirahat di rumah. Dengan rengekan kecil, dan beralasan tidak ada keluhan yang berarti akhirnya dokter Septi mengijinkan untuk pulang ke rumah, harus kontrol bila ada keluhan atau satu bulan kemudian.
Tidak berselang lama dokter Septi meninggalkan kamar inap istrinya, Tom dan Aira masuk ke dalam dengan satu kresek berisi makanan dan minuman.
"Mama.. Kaka Aila beliin adik makanan, minuman supaya Adik cepat tumbuh besal sepelti Kaka Aila..." Ucap Aira dengan wajahnya yang berseri-seri.
Intan dan Tom saling melirik untuk memberikan jawaban yang pas untuk putrinya, mungkin yang Aira pikirkan Adiknya bisa memakan, makanan yang yang di bawa Aira.
"Makasih Kaka Aira yang cantik.." puji Intan.
"Hihihi Kaka jadi malu, Mah..."
💚💚💚
Tangan kecilnya tidak pernah lepas dari perut Mamanya, karena Aira ingin memberikan kasih sayangnya lewat usapan lembut tangannya. Intan yang terharu menerima perhatian kecil dari Putrinya, membuatnya berkaca-kaca.
Putrinya sungguh dewasa, dan sangat pintar bisa memahami keadaan Mamanya yang sedang sakit.
__ADS_1
"Mama sayang Kaka."
"Kaka Aila uga anyang Mama, uga ayang Papa, uga anyang Adik bayi, Mah.." Serunya dengan kedua tangannya memeluk perut Mamanya, dan menciumnya.