
Seorang wanita di pusat perbelanjaan sedikit bingung mencari Anaknya Aira, yang sudah tidak ada di tempat duduknya semula. Intan sudah menjambak rambutnya sendiri, dan rambutnya sudah acak-acakan.
Air matanya sudah bercucuran membasahi kedua pipinya, Intan berjalan ke sana kemari untuk mencari posisi Aira-nya di mana? Intan berjalan ke tempat bermain, tetapi tidak ada Aira-nya.
"Aira, ini Mama sayang."
"Aira, di mana?"
Intan terduduk lemas di pinggir tangga eskalator, Untung mesinnya rusak jadi Intan bisa leluasa duduk di pinggir tangganya.
"Hiks... Hiks.. Aira ." Tutur Intan menyembunyikan kepalanya diatas lututnya. Bibirnya terus saja mengumankan nama Aira, Anaknya yang terlepas dari jangkauannya.
Lelah menangis, Intan mengusap air matanya berniat untuk berdiri dari duduknya, tiba-tiba kepalanya sedikit pusing dan badannya terhuyung ke belakang. Untung ada pria lain yang siap menopang berat badan Intan, Intan terhuyung ke belakang dengan tangannya masih memijat kepalanya yang sedikit pusing.
"Akhhh...." teriaknya Intan memeki telinga pengunjung. Bukannya Aku jatuh ya, kok badanku tidak sakit, tidak ada yang lecet, bahkan tempatnya empuk seperti dada bidang seseorang.
"Mbak-mbak ada yang sakit?" Seorang pria menepuk pipinya Intan. Intan masih saja memejamkan kedua matanya, dan masih asyik memeluk seorang pria asing.
"Siapa?" tanyanya Intan yang syok, mata keduanya saling bertemu, saling memandang, pandangan Intan tidak luput dari perhatian pria yang menopang berat tubuhnya.
Intan tersadar dari lamunannya, Intan berusaha untuk melepas dari dekapan pria asing, pria yang tidak pernah di temuinya, pria yang tidak Intan ketahui namanya.
"Eeehhh Pak! maaf." Intan melepas pelukan pria yang tidak di kenalnya. Intan berusaha untuk menjauhinya, tetapi lengan tangannya di cekal pria asing tadi.
"Maaf Mbak...." Sang pria menjadi salah tingkah, dan sedikit malu karena terlalu lama mengengam tangan perempuan asing yang di kenalnya baru pertama kali di temuinya.
Tangannya Intan terlepas dari cekalan-nya, Intan sedikit berlari meninggalkan sang pria yang berdiri mematung di belakangnya.
"Tunggu...!" teriaknya sang pria.
"Intan terus saja menjauh, meninggalkan sang pria tanpa menoleh ke belakang."
***
Di bangku kecil, dimana Intan sempat meninggalkan Aira sebentar saja untuk memesan makanan, tetapi baru saja di tinggal belum ada lima belas menit Aira sudah tidak ada d tempat duduknya.
__ADS_1
"Aira-nya hilang dari jangkauan'nya, belahan jiwanya, perisai hidupnya, semangatnya dan keluarga satu-satunya yang Intan punya selain nenek Salma."
"Mama kangen...." Intan sedikit acak-acakan rambutnya. Air matanya Intan terus saja menetes membasahi pipinya, harus kemana mencari Aira-nya di pusat perbelanjaan yang sangat luas ini.
***
Masih di pusat perbelanjaan di tempat yang sama, tetapi berbeda tempat duduknya.
Aira mulai mau makan sedikit demi sedikit, suara tangisan sudah tidak terdengar lagi, hanya suara sesenggukan yang masih terdengar merdu.
"Makan lagi ya? habis makan cari Mama."
"Aira menggeleng, ndak au Aila udah kenyang." Tutur Aira dengan pipinya yang menggembung. Yang semakin gemas, Tommy ingin sekali mencubit pipi gembil-nya, tetapi niatnya di urungkan takut gadis kecilnya menangis kembali.
Setelah makan berat, Aira menikmati desert-nya es krim dengan berbagai varian kesukaannya. Aira makan eskrim nya sangat lahap sampai belepotan di pipi gembil-nya, menurut Tommy itu sangat menggemaskan.
"Ini enyak, Aila uka uka, Om." Ujar Aira memperhatikan giginya yang rapi, bersih dan senyumnya yang menawan.
"Gadis kecilnya Om gemesin, Om sampai ingin mencubitnya." sahut Tommy mengecup pipi gembil-nya Aira. hahhhh geyi Om... Salah siapa gemesin, kan Om jadi Ingin mencium, menggigit pipinya.
"Kenapa pipinya di tutupi gadis manis?" tanya Tommy mengedihkan bahunya.
"Aila menggeleng, tangannya terus saja di kedua pipinya, Aila menggembungkan pipinya yang gembil malah semakin membuatnya menggemaskan."
"Cup...." Tommy mencuri satu cium di keningnya Aira.
"Iihhh Om kog tium keningnya Aila sih."
Tata Mama, "Aila ndak boyeh di tium-tium olang lain yang balu di kenalnya, kecuali Mama dan Nenek Salma."
Tommy dibuat melongo dengan penuturan gadis kecilnya, yang begitu fasih dan pintar berbicara.
Teringat akan Mamanya, Aira kembali lagi menangis. Sudah berpisah dari Mamanya yang sudah tiga jam tidak di temuinya, biasanya Aira akan anteng walaupun berjam-jam tidak ketemu Mamanya, kecuali Mamanya bekerja Aira tinggal bersama neneknya Salma.
"Hikkks....Ma...Ma.. Aila lindu Mama...." Ucap Aira di sela-sela tangisnya. Air matanya kembali bercucuran di pipi gembil-nya, yang sudah memerah seperti kepiting rebus, kontras dengan warna kulitnya Aira yang putih keturunan bule.
__ADS_1
"Cup... Sayang." Anak gadisnya Om jangan nangis ya, kita cari Mama ya."
"Be...ne..lan Om." Ucap Aira dengan matanya penuh binar bahagia.
"Iya sayang." Tommy mengusap lembut rambutnya gadis kecilnya.
"**Persis mirip seseorang, seperti mirip Intan."
"Dengan gadis kecil di dalam gendongannya, Tommy merasakan getaran yang berbeda, hatinya berdesir setiap kali memandanginya, persis dirinya masih kecil tetapi versi perempuan**."
***
Intan menanyakan beberapa orang yang lewat di depannya, tentang gadis kecil usia satu tahun, dengan ciri-ciri di kuncir dua, dan memakai dress warna pink. Berulang-ulang menanyakannya, tetapi belum ada hasilnya, kemana lagi harus mencarinya di tempat yang luas ini?
"Aira....ini Mama, kamu di mana?" teriaknya Intan menulusuri jalan di sekitar tempat duduknya, yang meninggalkan Aira di sini.
Intan terus saja berteriak memanggil nama Anaknya, tetapi masih nihil. Terduduk lemas di tempat duduknya, Intan menghapus jejak air matanya yang terus saja tidak mau diam, kristal beningnya terus saja jatuh membasahi kedua pipinya.
***
"Mamanya Aila...." teriaknya Aira di gendongan-nya Tommy.
"Hikkkkss... Ma...Ma...." panggil Aira kembali di sela-sela tangisnya.
Sayup-sayup Intan seperti mendengar suara Aira-nya yang memanggilnya Mama, Intan celingak-celinguk mencari sumber suara, yang terus memanggilnya.
Intan mulai berjalan meninggalkan tempat duduknya, dan menelusuri sumber suara, terus saja berjalan hingga sumber suaranya sangat dekat.
"Mama....ini Aila..." Tommy yang melihat dan mendengar kegigihan gadis kecilnya tersenyum tipis dan menghadiahi satu kecupan di pipinya.
Tommy dari jauh melihat siluet tubuh perempuan, yang pernah Tommy kenal, tetapi di mana ya?
Dari tempat yang sedikit agak jauh, melihat Aira-nya di gendong dengan laki-laki asing, membuat Intan mempercepat langkahnya, takut Aira-nya di culik dibawa pergi jauh.
"Aira...." panggil Intan dengan bibirnya yang tersenyum, dan kedua tangannya di rentangkan.
__ADS_1
"Ma...Ma ..." Aira beringsut turun dari gendongannya, Aira berlari menuju ke tempat Mamanya, dengan senyum khas anak kecil, Aira terus saja berjalan untuk memeluk Mama-nya.