
Yudha dan Kania terus saja saling berpelukan, keduanya masih saja menikmati setiap momen-momen kebersamaan yang mereka ciptakan berdua di saksikan kompor yang masih menyala, dan duo kembar yang berada di luar dapur.
Kania pun juga sama menikmati di perlakukan seromantis ini dengan sang suami, meskipun keduanya sedang berada di dapur tetapi kemesraannya tidak ada yang berani mengganggunya.
Waktu adalah uang, waktu adalah peluang, waktu adalah kesempatan. Mereka berdua masih saja belum mau berbicara, masih menikmati setiap momen-momen yang indah mereka buat.
Di luar pintu ada duo kembar yang sedang mengintip kedua orang tuanya yang sedang berpelukan berdua.
"Daddy dan Bunda sedang pacalan hihihi"
"Iya meleka beldua sepelti Teletubbies yang ada di televisi yang pernah kita tonton"
"Iya Kaka benel"
"Lasanya Aku ingin bellali memeluknya"
"Jangan! nanti Daddy dan Bunda tahu, lalu kita sedang mengintip di lual"
"Iya Kaka benel, Kaka pintal"
Duo kembar tertawa cekikikan, meskipun tidak keras tetapi mereka sangat bahagia karena orang tuanya sangat rukun sepelti olang tua teman-temannya di sekolah yang sering mereka dengar melalui cerita teman-teman sekolahnya.
Mereka berdua sedang berbisik-bisik tetangga membicarakan tentang kemesraan orang tuanya, yang menurut duo kembar sangat romantis, meskipun sudah punya kakak, duo kakak, dan duo kembar tetapi kemesraannya seperti ada di film kartun yang mereka sering tonton.
💚💚💚
Sesuai HPL yang dokter peridiksi bahwa hari ini, hari yang di tunggu calon kedua orang tua, mereka berdua sedang dag dig dug menunggu kelahiran sang buah hati. Bila tidak ada halangan, atau rintangan Intan akan melahirkan satu minggu lagi.
Sudah beberapa hari juga Tom cuti dari kantornya, Tom ingin menemani sang istri di rumah menunggu Dede utun lahir. Semua pekerjaan kantornya sudah Tom alihkan dari rumah, berkas-berkas kantornya sudah di kirim sekertarisnya ke rumah.
Bekerja sambil menemani sang istri di rumah ternyata lebih menyenangkan, daripada setiap hari harus kerja lembur di kantor, enakan di rumah bisa sepuasnya memandangi sang istri, dan menemaninya di rumah.
Mereka sedang berdua di ruang keluarga, Tom memangku laptop yang berisi pekerjaan, dan Intan merebahkan tubuhnya di sofa yang tidak jauh dari suaminya.
Berbicara tentang Kakak Aira, pasti pada penasaran ya? Kak Aira sedang nginap di rumah Opa Oma-nya, Aira menginap bergantian terkadang di rumah, kadang di rumah Opa Oma-nya yang sedikit jauh dari rumahnya.
"Mas sepertinya Aku pengen sesuatu dech?" Tutur Intan yang sudah menelan ludahnya, dan rasanya seperti makanan yang enak
__ADS_1
"Pengen apa, mah?" tanya Tommy yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Apa ya? tak pikir-pikir dulu Ahh."
"Tom geleng-geleng kepala mendengar jawaban sang istri, padahal Tom ingin memenuhi ngidamnya tetapi ternyata masih di pikir-pikir.." Jawabnya Tom yang sudah geli sendiri.
30 menit tidak ada sahutan sang istri, Tom menoleh ke sampingnya yang tidak jauh dari tempat duduknya, Tom tersenyum tipis bahwa sang istri sudah tertidur nyenyak dan sudah mimpi indah.
"Sweet dream sayang..".Tom mengecup kening istrinya, dan kedua pipi kanan kiri.
Setelah mengucapkan kata itu, dan sudah mengecup kening istrinya. Tom kembali ke pekerjaannya, sesekali melihat gaya tidurnya Intan yang sedikit lasak, membuatnya ingin sekali menertawakan tetapi Intan tahan demi sang istri tidak bangun dari tidurnya.
💚💚💚
Acara berpelukan, dan bermesraan mereka telah usai. Keduanya sudah duduk di kursi meja makan tidak jauh dari dapurnya, sedang yang melanjutkan memasak adalah pekerja-nya di rumah.
"Mas ingin minta maaf..." Tutur Yudha dengan raut wajah yang sedih, dan tangannya memegang erat tangan sang istri.
*Kania melirik sebentar kearah sang suami, ada gurat rasa sedih, ada kekecewaan pada dirinya karena mata itu tidak bisa di bohongi.
"Maaf... Maaf..." ucap Yudha dengan muka bersalahnya*.
"Mas ingin menjelaskan kesalahan paham di kantor tadi.." Jawabnya Yudha dengan tatapan matanya yang teduh.
"Sebenarnya wanita yang berada di dalam ruangan Mas itu adalah rekan bisnis, mungkin kalau ada yang melihatnya pasti berfikir Mas ngapa-ngapain, padahal kita sedang membicarakan kerjasama di bidang perhotelan milik Pradipta Group." Tutur Yudha sedikit menarik nafasnya sampai berulang-ulang.
"Rekan kerja kok nempel gitu, seperti sedang main belakang.." Ujar Kania to the point, tidak perlu di sembunyikan.
"Mas tahu, seharusnya Mas tidak seperti itu dekatnya, maaf.." Sahutnya yang sudah sangat bersalah.
"Maafkan khilafnya, Mas..Mas ngaku salah..." Tutur Yudha mengecup punggung tangan sang istri berulang-ulang.
"Oke Kania maafkan, tetapi dengan satu syarat, mau?" tanya Kania dengan senyum misteriusnya. sebenarnya Kania tidak percaya suaminya berbuat macam-macam di belakangnya, terapi fakta membuktikan suaminya sedang di dalam ruangan dengan seorang wanita.
"Makasih bunda..." Yudha sudah sangat bersemangat, dengan mudahnya sang istri mau memaafkannya.
"Yesss dapat maaf .." Ucap Kania di dalam hatinya.
__ADS_1
"Jangan senang dulu, hukuman menanti-mu Daddy..." Ujar Kania di dalam hatinya juga. Keduanya saling membatin, saling punya pendapat masing-masing.
"Tetapi ada satu syarat!"
"Apa?"
"Daddy harus tidur di luar selama dua hari, paham!" Ujar Kania dengan nada tegas, dan mantap.
*Sesekali memberikan hukuman ke suaminya sedikit bukanlah dosa besar...
"Apa? tidur di luar.." Ucap Yudha yang sedikit kaget mendengar ucapan sang istri.
"Iya!"
Kalau Aku tidur di luar, siapa yang akan memelukmu dalam tidurmu?"
"Kamu*!"..
Akhirnya Yudha pasrah menerima hukuman sang istri, atas kejadian yang teledor memberikan ruang orang lain yang masuk ke ruangannya. Pada akhirnya Yudha menerima konsekuensinya yang harus Yudha hadapinya, rasanya berat bila tidur tidak memeluk boneka hidup milik sang istri.
💚💚💚
Satu hari sudah berlalu, pagi ini Tom menemani sang istri untuk jalan-jalan pagi di sekitar kompleks rumahnya. Mendekati HPL Intan harus rajin-rajin untuk bergerak, dan melakukan aktifitas ringan supaya proses persalinan nanti bisa lancar, dan bisa berjalan dengan normal.
Baru berjalan beberapa langkah, Intan sudah nampak sedikit kelelahan. Tiba-tiba Anak-anaknya bergerak sangat aktif, Intan sedikit meringis mengusap lembut perutnya.
"Ada apa, Yank?" tanya Tom dengan nada khawatir di wajahnya.
"Mereka aktif Mas..." Jawabnya Intan dengan suara ringisan lirih.
Tom yang pengertian apa yang di rasakan sang istri, Tom berjongkok di depan perut istrinya, dan mulai membisikkan kata-kata sayang kepada sang baby.
"Bahagianya ya, anak-anak Papa Mama diajak jalan-jalan seperti ini.." bisiknya Tom tepat di perutnya sang istri.
"Iya-iya Papa..." Jawabnya Intan menirukan suara anak kecil. Intan sangat bahagia Menikmati setiap proses kehamilan, suaminya begitu sangat memanjakan-nya dengan segudang perhatian yang di berikan.
Mereka berdua akhirnya tertawa bersama, setelah Dede utun gerakannya tidak aktif seperti tadi. Terpancar aura kebahagiaan keduanya, mereka jalan bergandengan menikmati kemesraan sesekali di selingi dengan candaan, dan obrolan ringan menemani perjalanan jalan-jalan pagi mereka.
__ADS_1
Partnya gimana nich? krisannya dong.
Tinggalkan jejak komentar, like, vote, like, dan Rate-nya autthor tunggu ya, biar author tambah semangat.