Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
S3 part 10


__ADS_3

Hari berlalu sangat cepat, putra-putrinya tumbuh jadi anak-anak yang sehat, lucu, dan berprestasi dalam akademik. Orang tua mana yang tidak akan bangga, bila anak-anaknya bisa menorehkan prestasi yang membanggakan untuk ke-dua orang tuanya.


Putri sulungnya tidak pernah absen dari peringkat number one, dan prestasi di bidang non akademik juga bisa di banggakan.


Kama dan Kalila juga sama-sama berprestasi di bidang akademik, maupun non akademik. Mereka berdua sangat menyukai olahraga taekwondo, berulang-ulang juga keduanya sudah naik podium.


Sebagai orang tua Yudha dan Kania hanya mengarahkan saja, tanpa harus mengekang nya harus jadi ini itu seperti yang kedua orang tuanya mau.


Berjalannya sang waktu, Kania paham dengan keinginan sang anak-anak yang sangat menyukai di bidang olahraga. Kania sebagai orang tua hanya mengarahkan supaya tidak salah jalur, atau jalan pulang saja.


Pemikiran laki-laki dan perempuan pasti sangat berbeda, Kania lebih sensitif dan ovee protektif terhadap anak-anak, di tambah dengan pergaulan sang anak-anak semakin mengikuti perkembangan zaman sekarang.


Kania tidak mau dirinya sampai kecolongan, dan anak-anak melakukan kegiatan apapun tanpa sepengetahuan dirinya. Baginya waktu bersama anak-anak sangat berharga, apalagi memperhatikan tumbuh kembang yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.


Kania lulusan S1 dengan Jalur beasiswa, tetapi tidak ada niatan untuk bekerja, dan meninggalkan anak-anak di rumah dengan para pengasuhnya.

__ADS_1


Kania merelakan waktunya, impiannya bekerja sesuai cita-citanya demi mengabdi ke suami, dan mengurus anak-anak di rumah.


Hidup adalah pilihan


Pilihannya adalah menjadi ibu rumah tangga


Itulah pilihan yang Kania ambil, bukan suami tidak mengijinkan untuk bekerja, hanya saja Kania nyaman dengan pilihannya, menjadi ibu rumah tangga dengan Lima orang anak itu sudah sangat membahagiakan nya.


*********


Yudha sedang berkutat dengan berkas diatas meja kerjanya, padahal sudah jam makan siang sudah tiba. Tetapi Yudha seperti tidak menghiraukan nya, terpenting pekerjaan nya cepat selesai, dan bisa cepat pulang ke rumah.


"Sudah jam 15.009 WIB ternyata, berarti sudah berjam-jam berkutat dengan berkasnya." Yudha menyenderkan tubuhnya di kursi kebesaran, rasa lelah, penat Yudha rasakan.


"Sepertinya sudah tidak ada pekerjaan lainnya lagi, lebih baik siap-siap untuk pulang saja." Yudha bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah menghubungi sekertaris nya dengan jadwal sore ini, Yudha bernafas lega karena sudah tidak ada jadwal lagi, karena pertemuan dengan perusahaan XXX di undur minggu depan.


Yudha sudah merapikan ruangannya, membenahi pakaiannya, dan sudah menentang tas kerja. Berjalan pelan meninggalkan ruangannya, dan menghampiri meja sang sekretaris.


Selesai berpamitan, Yudha melenggang pergi Lewat jalur khusus, dan lift khusus juga untuk sampai di lantai bassement.


Sudah sangat jarang Yudha memakai sopir pribadi untuk pergi ke kantor, kecuali keadaan urgenst dan dirinya malas membawa mobil, baru Yudha mengunakan jasa sopir untuk mengantarkan, dan menjemputnya.


Perjalanannya sangat ramai, lancar tidak ada kendala. Baru membuka pintu mobil langsung di sambut dengan teriakan anak-anak yang sudah berdiri di ambang pintu.


Anak-anak langsung menghambur ke tubuh sang Daddy-nya, seperti beberapa tahun tidak bertemu saja.


"Kaka dan adik kangen dad."


"Kami semua kangen Daddy, kangen banget."

__ADS_1


"Daddy juga kangen sekali dengan kalian," Yudha mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang anak.


Mereka melepas rasa kangen di ambang pintu, padahal tadi pagi juga mereka sudah bertemu, tetapi bagi anak-anak mereka tetap kangen dengan Daddy-nya.


__ADS_2