Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 92


__ADS_3

Flashback On


Yudha dan Kania sedang mengobrol di teras depan rumahnya, mereka membicarakan langkah selanjutnya hubungannya.


"Gimana sayang, pertanyaan Mas tentang kemarin?" Tanyanya Yudha dengan mengengam tangannya Kania yang terasa lebih dingin.


"Pertanyaan yang mana Mas?" Jawab Kania yang pura-pura lupa, ingin melihat responnya Yudha.


"Pertanyaan Mas tentang pernikahan siri dulu gimana?" Ujar Yudha, yang ingin tahu bagaimana respon Kania bila di ajak nikah siri terlebih dulu.


"Hmmm, Kania ingin seperti yang lain di lamar dulu, bukan berarti Kania menginginkan pernikahan mewah dan meriah, Kania ingin menikah bisa di akui agama dan negara." Ujar Kania menatap manik matanya Yudha secara intens dan serius.


"Mas sudah nggak tahan, takut khilaf sayang." Ujar Yudha yang tidak mau kalah, mempertahankan keyakinannya untuk menikah secara siri dulu.


Gimana ya Mas pasti pakde bude tidak pernah mengizinkan untuk melakukan pernikahan di bawah tangan Mas.


"Pakde bude tinggal di kampung yang pemikirannya masih kolot, Mas mengerti ya." Ujar Kania mengusap tangannya Yudha dengan lembut, sesekali menciuminya supaya Yudha luluh hatinya.


"Ya sudah Mas mengalah demi bundanya Kenzi yang cantik ini." Ucap Yudha membelai pipinya Kania dengan sangat sayang.


"Mas yang terbaik" Kania spontan memeluk Yudha dan mengusap punggungnya dengan sayang.


Setelah pulang dari Kalimantan ya kita membicarakan lagi, besok ikut Mas ke Kalimantan.


"Tetapi Mas?" Ujar Kania yang nampak keberatan.


"Tidak ada kata penolakan, pokoknya Kania harus ikut Mas ke Kalimantan kasihan Kenzi nanti tidak ada yang jagain, Sayang!" Ujar Yudha menyandarkan kepalanya di pundak Kania.


"Iya-iya, Kania ikut puas!"


Flashback Off


Bertepatan hari ini, hari keberangkatan Yudha ke Kalimantan. di kediaman Yudha terjadi kehebohan Kenzi yang ingin cepat-cepat naik pesawat terbang, tetapi tidak mau mandi dulu.


"Sayang mandi yuk." Ajak Kania dengan membujuk Kenzi dengan menatap matanya lembut.


"Ndak usah andi unda! Enzi ndak au! oba unda ium asti acih angi." Ujar Yudha dengan percaya diri, membanggakan dirinya sendiri yang tidak bau.


"Iya-iya wangi bunda percaya, tetapi lebih wangi lagi kalau Kenzi mau mandi ya." bujuk Kania sekali lagi merayu anaknya yang susah di ajak mandi.

__ADS_1


"Ndak au! unggu daddy aja unda." Teriak Kenzi yang agak sensitif bila berhubungan dengan air.


Ya sudah kalau tidak mau di mandikan bunda, bunda tinggal ya. Kania meninggalkan Kenzi yang masih asyik sedang bermain mobil-mobilannya di ruang telivisi sembari menonton kartun Upin Ipin.


Drttt drttt drttt.......


Suara handphone Kania bergetar berkali-kali, tidak ada yang mau mengangkatnya karena handphonenya Kania tertinggal di tempat bermain Kenzi.


Kenzi mendengar suara handphone bundanya bergetar, cuma melirik sebentar, dan kembali bermain.


Drttt... drttt....


"Ciapa cih? anggguin Enzi ain aja." guman Kenzi berjalan melihat notifikasi panggilan di handphone bundanya.


"Di layar handphone bundanya muncul foto daddy-nya dan Kenzi, buru-buru Kenzi menggangkat telepon dan menggeser icon warna hijau, menandakan panggilan di terima dengan semangat.


"Accalamu'alaicum Daddy." Sapa Kenzi dengan mengucapkan salam.


"Bunda mana sayang?" Tanyanya Yudha yang tidak sabaran menanyakan bundanya, salam dari Kenzi saja tidak di jawab.


"Iih daddy! Ndak jawab salam Enzi." Ujar Kenzi yang mulai protes karena salamnya di abaikan Daddy-nya.


"Bunda mana, sayang?" Ujar Yudha menanyakan bundanya Kenzi dimana? karena yang mengangkat telepon adalah anaknya bukan Kania.


"Sayang dengar Daddy bicara apa nggak?" tanyanya Yudha ingin memastikan keberadaan Kania.


"Dengel Daddy! unda agi di Kamal beles-beles aju yang au di awa ke alimantan Daddy Udha." Seru Kenzi sedikit nada kesal karena menanyakan bundanya bukan dirinya selaku anak kandungnya.


"Daddy minta tolong panggilkan bunda bisa?" Ujar Yudha yang ingin cepat-cepat berbicara dengan Kania.


"Ndak au! addy ndak cayang Enzi, dalitadi yang di anyain unda telus ukan Enzi!" teriaknya Kenzi ke daddy-nya karena merasa cemburu Daddy-nya lebih sayang bundanya daripada dirinya.


Kenzi meninggalkan handphonenya yang masih ada suara daddy-nya, lalu Kenzi berlari kearah kamarnya dengan tidur tengkurap sembari menahan suara terisak-isak nya takut bundanya mendengar.


Mendengar anaknya mengabaikan teleponnya , pikiran Yudha sudah kemana-mana terutama memikirkan anak semata wayangnya yang mungkin tersinggung dengan pertanyaan yang lebih menanyakan bundanya.


Yudha bekerja tidak konsen sama sekali, pikirannya tertuju dengan anaknya, akhirnya Yudha beranjak dari kursi kerjanya untuk melakukan panggilan ke nomor Kania, nihil tidak ada yang mau mengangkatnya.


Yudha memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Net, saya pulang dulu kalau ada apa-apa telepon saya?" Pesan Yudha kepada sekertarisnya, yang kaget tiba-tiba Bosnya terburu-buru untuk pulang.


"Iya Pak!" Jawab Nety to the point. takut tanyanya macam-macam Bosnya malah memarahinya.


Yudha mengeluarkan handphonenya untuk menelepon Paman Tom, bisa di sebut Tom lebih keren. "Tom, antar saya pulang?" takutnya dengan pulang menyetirnya sendiri malah berakibat fatal karena tidak bisa berkonsentrasi memikirkan anaknya yang sepertinya ngambek.


"Baik Pak!" Jawab Tom mantap.


"Tumben minta di antar pulang biasanya juga nyetir sendiri mobilnya." Ujarnya Tom yang konsen menyetir mobilnya, sesekali melirik melihat bosnya yang nampak sedikit kacau.


"Sepertinya si bos lagi ada masalah lebih baik saya diam, di ditanya pun cuma diam saja melirik pun tidak." guman Tom berbicara dari hatinya.


Terjadi keheningan di dalam perjalanan dari kantor ke rumahnya Yudha yang terletak di Casablanca.


Selang 30 menit Yudha sampai rumahnya, Yudha turun dari mobil berjalan tergesa-gesa untuk memasuki rumahnya yang nampak sepi seperti tidak ada penghuninya.


"Assalamu'alaikum Sayang." Teriak Yudha dari luar pintu rumahnya.


"Walaikumsalam, tumben sudah pulang Pak?" tanyanya Bik Siti yang sedang bersih-bersih di dapurnya.


"Iya bik, Kania mana?" tanyanya Yudha yang melirik dan celingak-celinguk ke sembarangan tempat.


"Kania di kamarnya Pak." Jawab bik Siti sembari cuci piring bekas makan siangnya tadi.


"Sayang, Kenzi mana?" tanyanya Yudha sedikit berteriak karena tidak sabaran menunggu jawaban Kania.


"Kenapa sih pakai teriak-teriak!" Ucap Kania mendengus sebal mendengar teriakan Yudha bikin kuping panas.


Tadi lagi nonton televisi sambil main mobil-mobilan, dari tadi di mandiin susah. Ya sudah Kania tinggalnya.


Yudha bergegas meninggalkan kamarnya Kania tanpa membalas ucapan Kania, berjalan menuju kamar anaknya dengan sedikit ada kepanikan.


Melihat anaknya yang ada di kamarnya, membuat Yudha merasa lega sedikit terharu anaknya tidur tengkurap dengan jejak air mata di pipinya.


Yudha membalikkan badannya Kenzi dan mengecup bibirnya, pipinya, dan terakhir keningnya secara bertubi-tubi.


"Daddy sangat sayang Kenzi, Kenzi adalah prioritas Daddy" Ucap Yudha mencium kening anaknya dan menaikan selimutnya sebatas dada.


"Sweet dream sayang" bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2