
Setelah menidurkan Anaknya, Yudha turun ke bawah untuk menemui istrinya yang berada di dalam dapur yang sedang menyeduh susu hamil.
"Lagi apa, sayang?" bisik Yudha di telinga istrinya.
"Bikin susu, Mas." Sahutnya Kania.
Kania mulai membalikkan badannya untuk menatap ke wajah suaminya, dan mengelus pipinya.
"Kenapa, pas di taman diamin Kania?" tanyanya Kania.
"Nggak apa-apa." sahut Yudha singkat.
Setelah obrolan ringannya dengan sang istri, Yudha kembali ke ruang makan, sembari menunggu istrinya selesai membuat susunya.
Keduanya ingin mengobrol, bertukar cerita tentang kejadian kemarin-kemarin yang di laluinya.
Kania mendudukkan dirinya di kursi depan suaminya, mulai meminum susunya hingga tandas. Baru Kania memulai obrolannya dengan sang suami, mumpung Anaknya sedang tidur.
Kania masih penasaran kejadian tadi siang, yang membuat suaminya mendiamkannya, dan cek terhadapnya.
"Kenapa? Mas kemarin mendiamkan Kania?" tanya istrinya.
"Nggak apa-apa! Mas kurang suka saja istri Mas deket-deket dengan pria lain." Tutur Yudha sedikit intonasi dengan nada tinggi.
"Lho kok mas marah!" Sahut Kania
"Bukan Mas marah! Mas nggak suka saja." Jawabnya Yudha singkat.
Keesokan harinya seperti biasa Kania bangun lebih dulu, dan turun ke bawah untuk membantu bik Siti memasak di dapur, dan membuat sarapan untuk suami, dan Anaknya yang belum bangun tidur sama sekali.
__ADS_1
Kania selalu memasak untuk sarapan paginya sesuai request suami, dan anaknya. pagi ini Kania masak nasi goreng, telur mata sapi kesukaan Kenzi, telur dadar kesukaan suaminya.
Setelah selesai memasak menu sarapannya, Kania naik ke lantai atas untuk membangunkan suami, anaknya.
Kania membuka pintu kamarnya, menampilkan suaminya yang sudah bangun dengan gadget di tangannya.
"Udah bangun Mas! baru saja Kania naik untuk membangunkan Mas." Tutur Kania sembari masuk walk in closet untuk mengambil baju suaminya, dan menyiapkannya di atas tempat tidur.
Kania berjalan menghampiri suaminya yang masih asyik memegang gadget-nya, dan Kania mulai mendudukkan pantatnya di sebelahnya suaminya.
"Sini sayang! dekat dengan Mas." Tutur Yudha sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk istrinya.
"Kok udah wangi aja istri Mas." Sahut Yudha mengendus-endus leher istrinya.
"Hmm." sahut Kania yang menahan geli akibat ulah suaminya.
"Mas jangan! udah siang cepat mandi." Ujar Kania yang menahan tangan suaminya yang mulai bergerilya di sekitar tubuhnya.
"Mas mandi dulu ya! Kania mau bangunin Kenzi." Sahut Kania yang mulai beranjak dari dekat suaminya, dan mulai keluar kamar untuk membangunkan Anaknya.
Ceklek....
Kania membuka pintu kamar Anaknya, yang masih nyenyak dalam tidurnya, dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.
Kania mulai membuka selimut Anaknya, dan mulai membangunkan dengan mengecup seluruh wajah Anaknya.
"Bangun sayang." bisik Bundanya.
"Geyi Unda! Daddy olongin akak Enzi." Tutur Kenzi yang masih betah menutup kedua matanya.
__ADS_1
Kenzi mengintip dari balik selimutnya, untuk mengintip Bundanya yang masih di dalam kamarnya menyiapkan baju seragam sekolah Anaknya.
"Sayang bangun yuk! Bunda mandiin." Ujar Kania yang kembali membangunkan Anaknya.
"Tapi gendong Unda ya." Sahut Kenzi yang masih mengucek-ngucek kedua matanya.
Kalau minta di gendong Bunda! Kenzi bangun dulu, masak minta gendong, yang di gendong malah menutup tubuhnya dengan selimut, terus Bunda gendongnya gimana?
Kenzi langsung bangun dari tidurnya, dan memeluk Bundanya, dan mengecup pipi keduanya.
Setelah selesai memandikan Anaknya, memaikkan seragam sekolahnya, Kania dan Kenzi turun ke bawah dengan tangan yang saling mengandeng, dan menautkan jarinya.
Keduanya tersenyum memperhatikan senyum Pepsodentnya, Yudha yang mendongakkan kepalanya ikut tersenyum melihat keduanya yang sangat akrab.
Setelah suami dan anak selesai sarapan, Kenzi dan suaminya berpamitan untuk berangkat kerja, dan Kenzi berangkat sekolah.
"Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya! harus jagain Bunda! jangan nakal ya!" bisik Yudha yang berjongkok mensejajarkan kepalanya dengan perut buncit istrinya.
Duk...Duk..dukkkk..
"Mereka menendang sayang." Ujar Yudha yang nampak antusias melihat gerakan Anak-anaknya.
"Coba kakak pegang perut Bunda." Tutur Yudha.
Kenzi berjalan di samping Daddy-nya, dan memegang perut Bundanya, dan mengecup perutnya.
"Kakak sekolah dulu ya, Dik! jangan akal! ental ain agi ama Kakak." bisik Yudha yang menempelkan telinganya di depan perut Bundanya.
Duk.... Duk...
__ADS_1
"Daddy, Unda! Adik nendang akak." Tutur Kenzi yang sangat bahagia, merasakan tendangan Adiknya.
Setelah berpamitan dengan istrinya, Yudha dan Kenzi berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Kania yang mengantarnya di depan pintu, tersenyum dan melambaikan tangannya.