
Sesuai kesepakatan bersama mereka akan berkunjung ke makam mendiang istrinya Nena. Yudha menghentikan mobilnya di pinggir jalan, yang sudah dekat dengan makam mendiang Nena.
Mereka bertiga turun bersamaan, dan membeli air mawar dan bunga mawar putih kesukaannya.
"Enzi au eli unga tuk mommy, addy!" Ujar Kenzi meminta kepada daddy-nya untuk membeli bunga untuk mommynya.
"Kenzi mau beli bunga warna apa, sayang?" Tanya Yudha mengusap pipinya, yang nampak kemerahan kena sinar matahari, dan kontras dengan kulitnya yang berwarna putih.
"Enzi au apa ya? Enzi au walna melah." Seru Kenzi yang nampak berpikir, dan menimbang-nimbang warnanya.
Seusai membeli air mawar, dan bunga mawar putih. mereka bertiga melangkahkan kakinya untuk masuk area pemakaman umum yang tak jauh dari rumahnya.
Yudha berjongkok di pusaran makam yang bertuliskan nama "Nena Wiratmaja" , dan menyiram air mawar untuk membersihkan nisannya , dan menaburi bunga mawar kesukaan mendiang Nena lalu menciumnya sangat lama.
Yudha, Kania, dan Kenzi duduk bersila di samping makamnya mendiang Nena.
"Sayang, apa kabar?" Semoga kamu sehat di sana, dan tidak sakit lagi.
"Mas hari ini, berkunjung bersama anak kita Kenzi dan teman Mas Kania. Tak terasa sudah 4,5 tahun kamu pergi meninggalkan kita." Ujar Yudha dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Lihatlah anak kita tumbuh dengan sehat, sayang! sangat aktif, sangat ingin tahu, Oh ya sayang Kenzi sudah daftar masuk sekolah TK lho, sebentar lagi Kenzi masuk sekolah.
__ADS_1
"Sayang, Mas punya tempat tersendiri untuk mencintaimu sayang!
Perkenalkan ini Kania, sayang! teman dekatnya Mas saat ini! jika takdir mempertemukan Mas dan Kania untuk berjodoh, dan menjadikan Kania sebagai ibu sambung untuk putra kita Kenzi.
Assalamu'alaikum Mbak! Saya Kania, ini pertemuan kedua kita ya Mbak, Jika takdir mempertemukan kita, dan Mas berjodoh dengan Kania! ijinkan Kania menjadi istri keduanya Mas, dan menjadi ibu sambung untuk Kenzi.
'Mom! Enzi lindu, tetapi mom angan malah ya! bila Enzi unya unda balu kalena Enzi ingin unya unda yang uapin mam Enzi." Seru Kenzi yang menceritakan perasaan yang di pendamnya selama ini.
Lantas Yudha memeluk anaknya, yang matanya nampak memerah menahan tangisnya. "Enzi lindu mom, addy! Ujar Kenzi memeluk daddy-nya sangat erat, menangis tergugu, dan mengusap air mata dan ingus di kemeja daddy-nya.
Kania mendekat, lalu memeluk Yudha, dan Kenzi bersamaan untuk saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Cup...Cup... Cup...
Setelah tangisan Kenzi sedikit mereda, Kenzi mengangkat wajahnya untuk melihat ke makam mommynya, dan bangkit dari pelukan Daddy-nya.
Kenzi berjalan untuk meletakkan bunga mawar merah yang di belinya dipinggir jalan bareng Daddy, dan bundanya.
"Mom celalu di hatinya Enzi!"
Mereka bertiga mengirimkan doa, dan menaburi bunga mawar putih, dan mawar merah, dan meninggalkan tempat pemakaman karena hari sudah gelap
__ADS_1
Setelah sampai di mobil yang biasa sangat ramai, membuatnya terdiam dalam hening. Yudha berkali-kali melihat Kenzi dari spion mobilnya.
Menghela nafasnya melihat anaknya yang murung, tidak bercahaya. "Sayang, mau bobok di pangku bunda?" tanya Kania yang mengusap puncak kepalanya yang mulai bersandarkan bahunya.
Kenzi mengangguk, tanpa suara yang keluar dari mulutnya. Sini bunda pok-pok pantatnya, Kenzi beralih duduknya di pangkuan bundanya.
Kania bersenandung, dan menyanyikan lagu anak-anak. supaya tidur Kenzi lebih nyenyak, dan bangun dari tidurnya bisa ceria seperti kemarin-kemarin.
"Semoga saja, batin Kania."
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka bertiga sampai rumahnya Yudha lalu mereka bertiga keluar dari mobil, langsung mengendong anaknya di ikuti Kania yang berjalan di belakang.
Yudha menidurkannya Kenzi pelan-pelan, supaya Kenzi tidak terbangun, Kania langsung sigap pok-pok pantatnya.
Setelah tidurnya lebih tenang, Kania mengambil air di baskom untuk menyibin, dan mengganti bajunya supaya tidur Kenzi lebih pulas lagi.
Kania meninggalkan kamarnya Kenzi, dan menutup pintunya dengan sangat pelan. lalu Kania turun ke bawah, dan bergabung dengan Yudha, dan adiknya yang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, walaupun acara televisi sedang menyala.
15 menit tidak ada yang mau memulai berbicara, tiba-tiba handphonenya Dara bergetar sangat keras, dan membuat orang yang sedang duduk menoleh kepadanya.
Kania memperhatikan Dara yang sedang berbicara dengan begitu serius, karena hari ini terjadi kecelakaan pesawat di perairan Indramayu "Alhamdulillah pakde, bude selamat, tidak jadi naik pesawat." guman Dara.
__ADS_1
Yudha, Kania menatap intens Dara menunggu penjelasannya, yang menyebutkan nama pakde, bude.
Setelah Dara menceritakan kepada kakaknya tentang kronologis kecelakaan, dan pakde bude tidak jadi berangkat jam 13.00 karena masih ada urusan.