
Hujan deras mengguyur kota Jakarta yang sejak tadi pagi hingga malam hari, hujan pun meninggalkan titik-titik kecil di jendela kamar, membuat kedua pengantin baru betah bergulung di dalam selimutnya.
Hujan tidak mau reda, Memang sekarang sudah memasuki musim hujan di wilayah Jakarta, dan sekitarnya.
Hujan turun membawa keberkahan, dan kebahagiaan bagi seorang petani, karena dengan hujan mereka bisa pergi ke ladang, dan menanam tanaman yang bisa buat di jual kembali atau untuk makan kebutuhan sehari-hari.
Beruntung hari ini, hari libur nasional Yudha bisa bermalas-malasan di dalam kamar bersama istrinya.
Yudha sangat bahagia, Karena tidak ada pengganggu mereka berdua, Kenzi sedang di rumah Neneknya yang sedang menikmati liburannya.
"Coba setiap hari hujan seperti ini, Mas pasti semakin betah di kamar." Tutur Yudha yang mengeratkan pelukannya.
"Mas pengen istriku ini cepat hamil." Ucap Yudha dengan menjawil hidungnya Kania yang mancung.
"Kania juga ingin mengandung buah cinta kita, ingin merasakan bagaimana rasanya hamil, Mas." Jawab Kania.
"Mengulang olahraga semalam, yuk sayang!" Tutur Yudha dengan jakunnya naik-turun.
"Ahh Mas, kalau masalah itu gercap(gerak cepat)." Jawab Kania.
Mereka berdua mengulang kembali olahraga malamnya, dan sama-sama tersenyum dengan sangat puas.
Mereka melakukan olahraganya selesai makan siang sampai Jam 01.00 dini hari. Sudah berkali-kali mereka berdua sudah *******, dan merasakan klimaks dengan olahraga yang beruntun.
Mereka baru bisa terpejam matanya Subuh dini hari tadi, mereka berdua tidur saling berpelukan, dan saling memberikan kehangatan yang hakiki.
Pukul 08.00 pagi mereka baru terbangun dari tidurnya, karena kelelahan melakukan olahraganya menjelang dini hari tadi.
Hari ini, mereka berdua berniat ingin berkunjung ke rumah Ayah, dan Mama, sekalian untuk menjemput anaknya yang sudah beberapa hari menginap di rumah Kakek Neneknya.
Setelah membersihkan dirinya, mereka berjalan keluar kamar dengan tangan yang saling bertautan, dan tangan yang saling mengengam.
"Sayang, I Love You." Ucap Yudha.
"I Love You too, sayang." Jawab Kania.
Mereka berdua saling melempar pandangan, dan saling tersenyum, "Cup." Yudha mengecup telapak tangan istrinya.
__ADS_1
"Kania membalas mengecup pipi suaminya, dan mengusap-usap pipinya dengan tangannya. Sebagai rasa sayangnya istri kepada suaminya, dan bakti istri terhadap suaminya.
Mereka berdua membelah jalanan Ibu kota yang macet, karena sore ini turun hujan ringan sampai yang deras. Banyak orang yang berteduh di pinggir jalan, di rumah-rumah yang kosong atau pelataran toko yang sangat luas.
Melihat mereka dari jendela mobilnya, mengingat Kania ke masa lalunya yang sulit, dan kelam penuh perjuangan, dan air mata. Karena Kania, dan adiknya terlahir dari keluarga yang pas-pasan, setelah orang tuanya meninggal Kania, dan adiknya hanya tinggal berdua.
Kania langsung bersandar di lengan suaminya, yang masih fokus dengan jalanan yang macet parah, karena bertepatan dengan pulang kerja.
Suaminya mengusap-usap rambut istrinya, dan sesekali menciumi rambutnya. Yang tergerai menutupi kissmart di sekitar lehernya, karena ulah suami mesumnya.
Kania nampak bahagia dengan usia pernikahannya yang mau satu bulan, suaminya sangat mencintainya, dan menerima adiknya seperti adik kandungnya sendiri.
Perjalanan dari rumah ke rumah mertuanya, menempuh waktu 45 menit lebih lama dari perkiraan.
Mobilnya telah berbelok ke perumahan elite di daerah kalibata Jakarta, Senyum Kania tidak pernah lepas karena sebentar lagi bertemu dengan anaknya, yang sudah tidak di lihatnya selama 3 hari.
Kania Masih melamun saja, membayangkan pertemuannya dengan Kenzi anaknya, pasti sangat bahagia, berpisah itu tidak enak seperti halnya Kania berpisah dengan Kenzi walaupun cuma beberapa hari.
"Sayang, sudah sampai." Ucap Yudha menepuk-nepuk lembut pipi istrinya.
"Hah?"
"Ikuttt turun." Jawab Kania melepas Sealt Beatnya dengan sedikit tergesa-gesa.
Setelah mereka turun dari mobilnya, Kania merapikan sebentar baju juga rambutnya yang nampak sedikit berantakan.
Keduanya berjalan saling mengengam, tangan satunya Kania untuk membawa buah tangan untuk mertuanya, karena ini pertemuan pertamanya setelah menikah dengan Yudha Daddy-nya Kenzi.
"Tok!..... Tok!....
Yudha mengetuk-ngetuk pintu rumah orang tuanya, dan mengucapkan salam yang sedikit berteriak, karena berkali-kali tidak ada yang mendengarnya.
"Assalamu'alaikum." Sapa Yudha dengan suara lantangnya.
Ceklek...
"Walaikumsalam." Jawab Bik Jumi membukakan pintu.
__ADS_1
"Ehhh aden sama Nona Kania." Ucap bik Jumi sedikit terkejut melihat anak majikan datang berkunjung.
"Bik, Kenalkan ini istriku Kania." Tutur Yudha.
"Bik Jumi, pembantu di rumah ini."Jawab Bik Jumi mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan majikan barunya.
"Mari masuk aden Yudha, dan nona Kania." Ucap bik Jumi membuka lebar-lebar pintu rumahnya.
"Kenzi mana, bik?" tanya Yudha celingak-celinguk mencari keberadaan anaknya, yang kelihatannya sangat sepi.
"Taman belakang, bersama Kakek Neneknya." Jawab bik Jumi dengan menundukkan kepalanya.
Mereka berdua berjalan ke taman belakang, Melihat anaknya yang sedang bermain sepeda dengan kakeknya. Membuat Kania, Yudha tersenyum tipis, karena anaknya sudah besar saja, padahal baru kemarin Kenzi masih kecil. sekarang Kenzi makin pintar, sang aktif anak seusianya yang apa saja yang ingin tahu.
"DADDY UNDA." teriaknya Kenzi yang sangat lantang.
"Hiyat Enzi uda bica aik cepeda." Tutur Kenzi dengan antusias, dan binar bahagia di matanya.
Mereka berdua menghampiri anak, dan Ayah Mama yang sedang memperhatikan cucunya yang sedang berlatih naik sepeda.
"Kania langsung memeluk anaknya sangat erat, dan mencium permukaan wajahnya dengan sangat kerinduannya.
Yudha mencium tangan kedua orang tuanya bergantian, diikuti Kania yang berada di belakangnya.
Kurang lebih satu jam, mereka membicarakan perusahaan, dan rumah tangganya Yudha yang baru saja mau seumur jagung.
Kedua Kakek, dan Nenek sangat menginginkan cucu dari rahimnya Kania, dan benihnya dari Yudha. Bila di padukan keduanya akan sangat cantik, dan ganteng anaknya nanti.
Selesai mereka mengobrol, mereka berlima makan malam bersama, yang sudah di sediakan oleh bik Jumi yang nampak Kania membantu untuk di letakkan di meja makannya.
Dirasa sudah beres, Kania memanggil ayah mertuanya, suaminya, dan Kenzi anaknya, yang mereka bertiga sedang menonton televisi menyiarkan acara sepak bola Liga Inggris.
"Enzi ingin mam dicuapi unda." Seru Kenzi menampilkan giginya yang putih, seperti senyum Pepsodent.
"Iya sayang."Jawab Kania membelai surai rambut anaknya.
Selesai makan malam bersama, mereka bertiga memutuskan untuk menginap di rumah kedua orang tuanya, karena malam ini sedang turun hujan sangat deras disertai dengan angin kencang, dan suara kilatan petir.
__ADS_1
Mari dukung cerita ini, dukung melalui rate, like, koment, dan votenya.
Setelah tamat insyaallah akan autthor revisi lagi cerita ini, yang masih banyak kurangnya.