Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Sesion kedua Part Dua


__ADS_3

Selesai Intan membereskan rumah, dan melipat pakaian-nya dan pakaian Aira. Dirasa semua sudah rapi, Intan berjalan ke kamar mandi, guna membersihkan tubuhnya sebelum sang Aira bangun tidur.


Semua telah beres, Intan memasak menu makan siang, dan makan malamnya. Semenjak Intan di nyatakan hamil dan melahirkan, Intan tidak pernah memperdulikan bentuk tubuhnya yang sedikit lebih berisik, bisa di katakan lebih montok daripada sebelumnya hamil dan melahirkan Anaknya Aira.


Satu jam berkutat di dalam dapur, Intan sudah menyelesaikan masaknya. Bentarr-bentar Intan melihat Aira, takut Aira terbangun, Aira jatuh, dan Aira menangis. Semua kekhawatiran Intan terpatahkan, Aira masih tertidur sangat pulas, posisi tidurnya di apit bantal guling di sebelahnya.


Melihat Aira masih nyenyak dalam mimpinya, Intan tersenyum tipis, dan menghampiri Aira sembari mengusap dahi Anaknya, dan mengecup keningnya lama.


Bobok nyenyak-nya Aira tidak terusik sama sekali, akibat ulah Mama-nya yang sedikit-dikit membuka pintu kamarnya.


"Tumbuhlah jadi Anak yang sehat, Mama sangat menyayangi Aira." Ucap Intan mengecup keningnya Aira kembali, dan Aira juga tidak terbangun sama sekali.


Intan memandangi wajah Aira yang sangat mirip dengan Papa-nya, mulai dari hidungnya, matanya yang kecoklatan, persis Papa-nya yang keturunan bule. Kedua matanya Intan sudah berkaca-kaca, mengingat masa depan Aira yang lahir tanpa Papa.


"Mama sangat menyayangi Aira dan mencintai Aira."


"Kelak Aira dewasa nanti dan menanyakan siapa Papa-nya Aira! Mama akan mengantarkan Aira ke Indonesia untuk ketemu Papa, Nak."


"Mama berharap Papa masih mengingat kejadian malam dimana ada Aira di rahimnya, Mama."


"Papa juga menyayangi Aira dan mencintai Aira, seperti cin Mama ke Aira."


Intan sudah mengusap bulir air matanya yang menetes di pipinya, sembari tangan satunya menepuk-nepuk pantatnya Aira, supaya Aira tidak terbangun dan melihat Mamanya menangis.


Puas menangis dan memandangi wajah Anaknya, yang begitu mirip dengan Papa-nya, bener-bener copypaste Papa-nya. Bunyi perut Intan terdengar krucuk... krucuk..., membuatnya sedikit terkekeh sendiri, ternyata dirinya laper memintanya untuk di isi ulang. Maklum Intan sedang menyusui, sedikit-dikit merasakan lapar.


Selesai makan, Intan kembali ke kamarnya merebahkan tubuhnya di samping Aira, kebetulan hari ini Intan sedang libur tidak bekerja, Intan ingin menghabiskan waktu dengan Aira Anak semata wayangnya.


Lama-kelamaan Intan ikut tertidur di sampingnya, yang tangannya sangat posesif memeluknya. Aira menggeliat sedikit terganggu dengan tangan Mamanya yang memeluk dirinya, Apabila Aira sudah bisa bicara, Aira pasti akan protes di peluk Mamanya yang sangat posesif.

__ADS_1


"Oeeekkk huuuwaghh...." tangisan Aira memekik di telinga Mamanya. Membuat sang Mama terbangun, dan meraba-raba pantat Aira, yang mungkin deaapres bocor, setelah di raba ternyata tidak bocor, Akhirnya Intan langsung buru-buru terbangun dan mengangkat tubuh Anaknya untuk duduk di pangkuannya.


"Aira kenapa hmmm?"


"Aira senyum sembari mengerjap kedua matanya sangat lucu."


"Anak Mama nggak mau ya! di tinggal Mama tidur, Maunya sama Mama ya, sayang."


"Lagi-lagi Aira senyum lebar dengan lesung di pipinya."


"Cup Cup cup........" Intan mengecup keningnya, kedua pipinya, dan terakhir Intan mengecup bibir mungilnya.


"Aira menampilkan senyum lebarnya, yang emang belum tumbuh Gigi sama sekali, tetapi membuat Intan gemas sendiri."


Kantuknya Intan langsung hilang, melihat senyum Aira yang tulus, melihat cara Aira menatapnya. Membuat Intan jatuh cinta sedalam-dalamnya, Aira hartanya, Aira sumber kebahagiaan.


Tom terbangun dari tidurnya dan mengusap kembali wajahnya, mimpi yang sama ketemu batita kecil dengan gaun pesta yang sangat cantik, mulai kedua matanya, hidung-nya. Seperti dirinya versi kecil.


"Apakah batita kecil itu Anakku?" guman Tom mengusap wajahnya kembali.


"Mimpi yang sama seperti Tempo hari."


"Siapa batita kecil itu?"


Tom tiba-tiba ada sekelebat bayangan tentang Intan, malam di mana Tom tidak memakai sehelai benangpun. Bangun-bangun Tom berada di kamar hotel, ada bercak darah disekitar seprai yang sudah kering, rasanya yang di bawah sangat beda, sepertinya sangat linu.


Mengingat saja, membuat yang di bawahnya terbangun , berdiri tegak lurus. Ahhhh sial! bisa-bisanya Aku On, padahal cuma mengingat masa lalu, masa dimana Tom bangun dari tidurnya dengan selimut membungkus tubuhnya, dalam keadaan tanpa pakai busana.


"Daripada otak'nya sangat kotor dan berpikir yang macam-macam, lebih baik Tom mandi, dan menidurkan kembali dengan apa yang ada di bawah."

__ADS_1


Malam ini, setelah makan malam. Tom berdiri seorang diri dengan secangkir kopi khas Indonesia, menikmati kopinya dan menikmati indahnya malam di London.


Sampai kopinya habis, Tom masih berdiri dengan setianya. Mendongak keatas, menatap langit malam yang cuacanya malam ini sangat cerah, menampilkan langit malam yang bertaburan bintang di sekelilingnya.


Pukul 23.00 Waktu London, Tom menutup pintu balkon kamarnya. Mulai naik keatas tempat tidurnya, untuk merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah pekerjaan yang begitu menguras emosi, dan tenaganya.


Pikiran tim terkuras juga, setelah mimpi-mimpinya ketemu batita kecil nan cantik mirip seperti dirinya versi perempuan.


Pagi menjelang, Tom terbangun lewat alarm ponselnya. Meraba-raba diatas nakas, dengan posisi kedua matanya masih terpejam, Tom meraih ponselnya untuk melihat jam berapa? kok alarm di ponselnya sudah berbunyi.


Tom menyipitkan sebelah matanya, untuk melihat layar ponselnya yang sudah pagi waktu London, sedangkan di Indonesia masih malam.


Selesai mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor cabang hotel Pradipta, Tom sudah di jemput asisten keluarga Pradipta, selama Tom dan Yudha di Indonesia , Dialah orang kepercayaan keluarga Pradipta, yang di percaya memegang hotel cabang di London.


Setibanya di hotel cabang, Tom menyempatkan dirinya untuk sarapan walaupun hanya sekedar roti atau kopi. Bagi Tom kopi itu wajib di nikmati, sebelum memulai dengan pekerjaannya.


Hotel Pradipta sangat besar yang berada di London, tidak kalah dengan keberadaannya di Indonesia. Tom memasuki ruangan yang khusus untuk keluarga Pradipta atau orang kepercayaan keluarga Pradipta yang mengecek hotel di cabang.


Banyak Tom dan orang kepercayaannya, membicarakan banyak hal, tentang kemajuan yang pesat, dan komplainnya pengunjung di karenakan kurang kebersihan, padahal hotelnya bagus.


Dari sini Tom memperbaikinya, Tom memanggil semua petugas OB, dan memberikan pengarahan tentang arti pentingnya kebersihan.


Tiga jam Tom berkeliling hotel, dan memberikan pengarahan. Dengan iming-iming kenaikan gaji, bagi yang rajin, dan membersihkan tamu hotel yang sudah meninggalkan kamarnya.


Setelah satu minggu di London, dan progres peningkatan pendapatan yang mulai naik lagi. Membuat Tom tersenyum lebar, tidak sia-sia Tom datang ke London untuk membenahi beberapa sistem, dan pada akhirnya berhasil, dengan hasilnya sangat memuaskan seperti harapan-nya.


Tom tersenyum bahagia, keberhasilan kali ini sangat membuatnya puas atas kinerjanya selama ini. Berkat uluran tangan Yudha Pradipta, Tom bisa bekerja di perusahaan Pradipta Group yang bergerak di bidang perhotelan.


"Awal yang indah." batinnya Tom tersenyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2