Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 158


__ADS_3

Sejam kemudian...


Setelah Anaknya selesai di pindahkan di kamar VVIP, Kania menselojorkan kedua kakinya yang terlihat bengkak, dan sedikit nafsu yang terengah-engah akibat mengimbangi jalan suaminya.


Selesai di pastikan Anaknya tertidur sangat pulas, Yudha beranjak dari tempat duduk yang dekat ranjang Anaknya tidur.


Lalu


Yudha menghampiri istrinya yang duduk berselonjor dengan dua kaki yang nampak bengkak.


"Kenapa saya?" tanyanya Yudha sembari duduk di samping istrinya.


"Capek Mas! lihat kakinya bengkak." Tutur Kania memperlihatkan kakinya yang bengkak dengan menunjukkan jari tangan.


Melihat kaki istrinya yang bengkak, Yudha berinisiatif untuk membantu memijatnya, dan meletakkan kedua kakinya di atas pangkuannya.


Tangan Yudha sangat lihai kalau urusan mijat memijat, tangannya sudah bergeliya di sekitar kaki istrinya, memijatnya sangat pelan-pelan memberikan kesan nyaman untuk istrinya, supaya sedikit bisa beristirahat sebelum Anaknya bangun memanggil Bundanya.


"Enak sayang." Tutur Yudha.


"Hmm, kepalanya mengangguk! sembari memejamkan kedua matanya! saking menikmatinya Kania di buat merem melek oleh suaminya." Jawabnya Kania.


"Kania tidur Mas!" Tutur Kania dengan matanya yang terpejam.


"Iya sayang." Jawabnya Yudha.


30 menit memijat kaki istrinya, Yudha mengantuk menguap berkali-kali, Yudha memutuskan untuk bersandar di tembok dengan posisi kakinya Kania tetap berada di pangkuannya.


Tertidur 3 Jam bangun-bangun ada suara pintu terbuka, dan menampilkan seorang perawat membawa nampan kecil, kelihatannya ada termometer pengukur suhu, ada obat sirup, dan obat injeksi.


"Selamat sore! Maaf menganggu! Saya Ani perawat yang jaga sore." Tutur Ani memperkenalkan dirinya.


Melihat Anaknya yang masih tertidur sangat pulas, membuat Kania terbangun mendengar suara perawat yang bertugas datang ke kamar Anaknya.


Kania beranjak dari posisi tidurnya, dan menghampiri anaknya duduk di sebelah ranjangnya, tangannya terulur membelai rambutnya.


"Maaf buk! saya perawat Ani yang jaga sore di ruang Anak! kedatangan saya ingin memberikan obat baik di minum maupun di injeksi, dan saya juga akan mengecek suhu tubuhnya." Tutur perawat Ani yang kali luas, kali panjang.


"Sayang! Bangun yuk! ada Mbaknya ingin cek suhunya Kakak." Tutur Kania membangunkan Anaknya.


"Antuk Unda." Sahut Kenzi dengan matanya terpejam.

__ADS_1


Kania melihat anaknya yang mempererat selimutnya, membuat sedikit ngilu dengan tangan yang terpasang infus. Takutnya lepas, dan di pasang lagi.


"Sayang tangannya! ental lepas kalau buat kakak menekan." Ujar Kania menasehati anaknya.


"Ohh Iya akak upa, Unda." Tutur Kenzi dengan cengiran menampilkan giginya.


Perawat yang melihatnya ikut tersenyum, memperhatikan interaksi Bunda, dan Anak yang sangat akrab.


"'Hi Dek! Mbak ukur suhu dulu ya, setelah di cek tidak panas, Mbaknya melanjutkan memberikan terapi injeksi yang di injeksi selang infusnya."


Setelah memberikan obat, dan mengecek suhu tubuhnya yang tidak panas, perawat pamit undur diri, dan meninggalkan kamar Kenzi.


"Terimakasih sus!" Tutur Kania


Serangkaian pemeriksaan telah di lakukan, setelah tahu hasilnya tidak ada penyakit serius, cuma demam saja.


Setelah melakukan perawatan 3 hari di rumah sakit, Kenzi di perbolehkan pulang hari ini. Setelah mengurus biaya administrasi, infus di lepas.


Selama tiga hari pula, Yudha meliburkan dirinya dari pekerjaan kantornya, yang membuat kedua orang tuanya sedikit curiga. Tumben-tumbennya Yudha tidak masuk kantor beberapa hari, Apakah sakit blaaa blaaa. Itu yang selalu menjadi pikiran kedua orang tuanya.


Setibanya Yudha, Kania, dan Kenzi di parkiran rumahnya, di buat heran dengan mobil orang tuanya yang terparkir sangat rapi. Keduanya nampak terkejut, saling pandang, tetapi beda halnya dengan Kenzi yang sangat bahagia dengan binar di kedua matanya.


Ketiganya memasuki rumah, seperti tidak terjadi apa-apa. Melihat ketiganya memasuki ruang tamu, kedua orang tuanya Yudha bangkit dari duduknya, dan menghampiri Kenzi.


"Ikut Nenek ya." Tutur Neneknya.


"Iya Nek! akak Enzi au di gendong." Seru Kenzi dengan bahagia.


Setelah meraih Kenzi dari gendongan Daddy-nya, Neneknya membawa Kenzi duduk di pangkuannya, dan memberikan beberapa mainan kesukaan cucunya.


"Kakek kangen! Nenek juga kangen."Tutur Kakek Nenek yang mencium wajah cucunya bertubi-tubi.


"Sekarang Kenzi kok jarang main ke rumah Nenek?" tanya Neneknya yang sedikit curiga melihat gelagat menantunya.


"Ma, diminum dulu minumnya keburu dingin." Tutur Kania.


"Ayah juga di minum dulu minumnya." Tutur Kania.


"Ayah, dan Mama! apa kabar?" tanyanya Yudha.


Yudha menyalami keduanya, dan mencium punggung tangan keduanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik."Jawab Mamanya.


Setelah perbincangan di ruang tamu, dan di lanjutkan makan siang bersama. Tiba-tiba kedua orang tuanya ijin pulang, karena ada rapat jam 13.00.


Selesai menidurkan Kenzi di kamarnya, Kania masuk ke kamar utama yang berada di sebelah kamar Anaknya. Kania mulai merebahkan tubuhnya yang sangat pegal-pegal di pinggangnya.


Lama kelamaan Kania mulai terlelap dalam tidurnya, menikmati hembusan nafas di sekitar ceruk lehernya, membuat sang empunya menggeliat sangat seksi, membuat Yudha sangat ingin bermain dengan istrinya.


"Sayang! Mas pengen." bisik Yudha.


"Hmm."


Yudha mulai mengendus-endus leher istrinya meninggalkan bekas keunguan, dan bercak-bercak kecil di sekitar lehernya. Berkali-kali Kania menahan desahan akibat tangan Nakal suaminya yang mulai menjamah tubuhnya.


Menikmati ulah suaminya yang membuat Kania melayang tinggi ke angkasa, menikmati sentuhan demi sentuhan tangan suaminya yang mulai menyusup ke balik baju istrinya, dan mulai melepas kancing bajunya satu persatu.


Yudha mulai mengendus-endus sekitar bukit kembarnya, memberikan cubit-cubitan kecil di sekitarnya. meninggalkan titik-titik kecil di sekitarnya, membuat Kania tidak berhenti mendesah menikmati permainan suaminya yang sangat bisa membuat keluar berkali-kali.


"Akhhh...""" Tutur Kania mencoba menahannya akhirnya lolos juga.


Nafas keduanya nampak sangat terengah-engah, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kania mulai menutup bukit kembarnya yang sangat terekspos, membuat suaminya memandanginya penuh minat, dan hasrat yang tinggi.


Tangan suaminya mulai menyusup ke inti tubuh istrinya, dan memainkan dengan ritme yang pelan, sedang, hingga cepat. Membuat sang istri menggeliat seperti cacing.


Setelah menikmati ke puncak nirwana, keduanya mengatur nafasnya, dan saling memeluk, dan mendekapnya dengan erat.


Kania mulai memejamkan matanya, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Membuat tidurnya sangat pulas, menikmati usapan demi usapan tangan lembut suaminya.


Yudha memandang perut istrinya yang nampak lebih besar, menurut Yudha sangat seksi menambah kadar kecantikannya yang berlipat-lipat ganda.


Cup... Cup....


Yudha mengecup perut istrinya, " Jangan nakal di perut Bunda." bisik Yudha.


Duk Duk..


Mendengar tendangan dari kedua anaknya, membuat Yudha menciuminya sangat gemas..


"Alhamdulillah Anak-anaknya sangat sehat, dan gerakannya sangat aktif, membuat Yudha tersenyum sangat lebar."


"Terimakasih atas nikmat-NYA, dan karunia-Nya yang di berikan kepada keluarga kecil kami."

__ADS_1


__ADS_2