
Selesai sahabatnya memeriksa keadaan istrinya, Yudha mengantar sahabatnya sampai pintu depan rumahnya.
"Makasih, ya kawan sudah mau direpotkan." Tutur Yudha menjabat tangan sahabatnya.
"Sama-sama! kita kan sahabat sudah selayaknya saling membantu." Sahut sahabatnya Yudha yang sangat menenangkan kata-katanya.
"Kalau ada apa-apa? Jangan sungkan untuk menghubungi." Tukas sahabatnya.
"Ahsiap kawan." Tutur Yudha memberikan hormat, seperti orang sedang upacara bendera hari Senin.
"Saya pamit dulu bro!" Ucap sahabatnya.
"Thanks ya." Jawab Andra.
Setelah mobil sahabatnya tidak terlihat lagi, Yudha memutuskan untuk kembali ke kamar untuk menemui istrinya.
Ceklek....
Pintu terbuka, membuat Kania Mendongak ke atas untuk melihat siapa yang datang sembari tangannya membelai perutnya yang masih datar.
Tetapi Kania sangat bahagia di usia pernikahannya yang baru masuk 3 bulan, sudah di berikan kepercayaan pada yangESA untuk dititipkan malaikat kecil di rahimnya.
Tangan Kenzi tidak mau lepas dari perut bundanya, selalu membelainya dengan lembut.
"Adik angan akal di peyut unda ya!" Tutur Kenzi yang tangannya masih berada di perut bundanya.
"Iya kakak Kenzi." Jawab bundanya menirukan suara anak kecil.
Melihat pemandangan yang membahagiakan kedua matanya, membuatnya tidak lepas tidak tersenyum sangat lebar.
"Menikahimu adalah pilihan yang tepat." guman Yudha di dalam hatinya.
Yudha menghampiri keduanya, dan langsung memeluk keduanya yang tidak kalah eratnya.
"Selamat sayang, kita akan jadi orang tua memberikan Kenzi seorang Adik." bisik Yudha sembari memeluk anak, dan istrinya.
"Kania bahagia banget bisa mengandung anak kita, dan bisa menjadi seorang ibu yang terlahir dari rahimnya Kania." Ucap Kania penuh rasa syukur atas nikmat-NYA, dan kepercayaan-NYA.
Yudha mencium wajah istrinya bertubi-tubi, mulai dari kedua pipi, kedua mata, dan terakhir bibirnya, dan sedikit menggigitnya kecil untuk menyalurkan rasa bahagia sesungguhnya.
"Enzi kok ndak di tium." Tutur Kenzi dengan polosnya.
"Jagoan Daddy yang ganteng mau di cium seperti bunda ya?" goda Daddy-nya yang sudah siap menciumi wajah anaknya.
Geyiiii...... geyiiii.....
__ADS_1
Mereka berdua tertawa cekikikan setelah menciumi wajah anaknya, yang tidak kalah montok nya dengan pipi tembem istrinya.
Rencananya besok mereka akan memeriksakan istrinya ke rumah sakit, karena hari ini sudah sore takutnya dokter kandungannya sudah pulang.
Yudha merebahkan tubuhnya di tengah-tengah anak, dan istrinya. Mereka tidur bertiga saling berpelukan, dan sedikit di warnai dengan tawa renyah anaknya.
"Kenzi mau di panggil sebutan Kakak apa Mas?" tanya bundanya.
"Akak aja unda lebih Kelen." Tutur Kenzi yang belum fasih melafalkan huruf R.
Cup....
Hadiah dari Bunda, untuk jagoan bunda yang kelewatan ganteng ini
Cup....
Untuk jagoan bunda, Daddy yang semakin pintar ini.
Lelah tertawa, dan mengobrol Kenzi sudah menguap berkali-kali "Kenzi ngantuk?" tanya bundanya.
"Ndak unda! matanya Enzi beyum telpejam belalti Enzi beyum tidul." Tutur Kenzi yang sudah sayu kedua matanya.
Belum 10 menit Kenzi selesai berbicara, tiba-tiba terdengar dengkuran halus dari anaknya yang sudah tertidur memeluk Daddy-nya sebagai gulingnya.
"Lihat bunda! Anakmu." Tutur Yudha yang terkekeh, dan geleng-geleng kepala sendiri, melihat anaknya yang sudah tertidur pulas.
Cup.....
"Mimpi indah sayang." Ucap Yudha mencium kening anaknya.
Yudha melanjutkan melirik ke arah Kania yang sedang melamun, dan memikirkan semuanya, terjadi begitu cepat, dan tidak menyangka akan segera dititipkan di rahimnya.
"Memikirkan apa, hmmm?" tanya suaminya yang sudah memeluknya dari belakang.
"Pernikahan kita, Mas!" Baru 3 bulan Kania langsung hamil, Mas benar-benar tok cer." Tutur Kania membayangkan olahraganya setiap malam atau setiap suaminya menginginkan, membuat tersenyum tipis dengan rona merah di wajahnya.
"Kenapa sayang? kok pipinya merah." tanya Yudha.
"Nggak apa-apa! tidak penting!" Jawab Kania sedikit gugup.
Kania langsung merebahkan tubuhnya di samping anaknya, dan memeluknya erat untuk meredakan hasratnya yang muncul tiba-tiba, karena membayangkan milik suaminya membuatnya gelisah, dan tidak nyaman.
Tanpa rasa malu, Kania langsung menubruk dada suaminya, dan memainkan perannya sebagai istri yang menginginkan suaminya.
Kania mengecupnya bertubi-tubi, meninggalkan bekas kecil di sekitar dada suaminya.
__ADS_1
Pertahanan Yudha runtuh melihat aksi agresif istrinya, membuat hasratnya menjunjung tinggi sudah di ubun-ubun kepalanya, yang minta segera di tuntaskan.
Yudha mengangkat istrinya untuk rebahan di sofa kamarnya, dan mulai mengendus-endus ceruk lehernya, dan menjelajahi kedua bukit kembarnya meninggalkan bekas keunguan yang sangat banyak.
Tidak lupa juga tangan Kania mulai bergerilya mencari pusaka suaminya, yang sudah membengkak lebih besar, dan panjang.
Kania memainkan tanpa rasa jijik, yang ada malah tambah bernafsu ingin segera masuk ke inti tubuhnya.
Akhirnya mereka kembali memadu kasih hingga tiga ronde sekaligus, dan mencurahkan rasa cintanya dengan klimaks bersamaan.
Mereka berdua tersenyum puas, semenjak tadi siang istrinya di nyatakan hamil oleh sahabatnya, membuat Kania agresif memimpin duluan tanpa rasa malu sedikitpun.
Membuat Yudha tersenyum penuh kemenangan, jadi jika sewaktu-waktu Yudha minta di jatah, tidak jadi halangan untuk menolaknya.
Yudha bangkit dari tubuh istrinya yang nampak sangat kelelahan, tetapi sangat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka berdua capai menuju puncak gunung Himalaya.
Selesai Yudha membersihkan tubuhnya, lalu membangunkan istrinya yang mulai memejamkan kedua matanya kembali.
"Sayang, mandi keburu Kenzi bangun." bisik Yudha tepat di daun telinga istrinya.
"Capek Mas!" Sahut Kania dengan kedua matanya yang masih terpejam.
"Ini udah sore lho!" Ucap Yudha menakut-nakuti istrinya, agar segera mandi, malu kalau ketahuan anak sendiri.
Kania mengintip suaminya yang sudah sedikit menjauh, dan merebahkan tubuhnya di samping anaknya.
Kania bergegas membuka kedua matanya, dan bangkit dari tidurnya. Kania memasuki kamar mandi, dan meredam tubuhnya di bathub yang sudah di kasih wangi lavender yang harumnya lebih menenangkan.
"Kok bisa ya, saya agresif seperti tadi." Ucap Kania memukul-mukul kepalanya.
Mau di taruh kemana mukaku ini, bila nanti saya bertemu suamiku yang mesum, tetapi cinta.
Setelah 15 menit berendam air hangat di bathub, Kania keluar dari bathub dengan melilitkan handuk di tubuhnya yang nampak kekecilan.
Sebelum keluar dari kamar mandi, Kania mengintip dari celah lubang di pintu untuk melihat suaminya tidur, dan tidaknya.
Setelah di rasa cukup aman, Kania berjalan dengan mengendap-endap kakinya supaya tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan anak, dan suaminya.
Hap hap...
Yudha mendekap tubuh istrinya dari belakang, dan mengendus-endus wangi lavender di tubuhnya, membuatnya nyaman setelah menghirup wanginya.
Jangan lupa mampir ke cerita autthor yang kedua, tinggalkan jejak like, koment, votenya
Selamat membaca
__ADS_1