Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 154


__ADS_3

Setelah makan teamlo Solo, dan lumpia Semarang. Istrinya ingin jalan-jalan ke taman kota yang berada di Alastua Jakarta.


Di dalam mobil Kenzi tidak tinggal diam sama sekali, menanyakan ini itu kepada Bundanya.


"Unda, itu pohon apa? akak Enzi balu hiyat." Tanya Kenzi. yang keinginan tahunya sangat tinggi.


"Bunda nggak tahu, sayang." Jawabnya Kania.


"Iiihhh Unda mah gitu." Sahutnya Kenzi.


"Wooowww! gedungnya inggi-inggi."


Setelah tiba di taman, Kenzi yang biasanya anteng, sekarang malah tidak sabaran melihat tanaman nan hijau, dan bangunan yang menurutnya sangat asing, membuat Kenzi ingin segera turun, dan melihatnya dari jarak yang lebih dekat.


"Unda! ayo tulun! akak Enzi udah tidak sabal ingin hiyat itu." Tutur Kenzi yang menuding tangannya ke taman bermain.


"Sabar sayang! Bunda susah turunnya, kan di dalam perut Bunda ada Adiknya kakak." Sahutnya Kania yang membenahi dressnya, yang sedikit tersingkap keatas.


"Ihhhh Iya akak upu, Unda!" Tutur Kenzi yang menepuk dahinya dengan tangannya.


"Aaafin akak ya, Dik." Ujar Kenzi mengelus perut Bundanya, dan menciumnya lama .


"Unda! Adiknya gelak-gelak." Tutur Kenzi yang sangat takjub, merasakan gerakan Adiknya yang masih di Perut Bundanya.


"Berarti Adiknya maafin kakak, ingin kenalan dengan kakaknya." Sahutnya Kania mengelus puncak rambut Anaknya.

__ADS_1


Setelah drama panjang di dalam mobil, ketiganya keluar dari mobil dengan tangan Kenzi yang di gandeng kedua orang tuanya, senyum di wajah Anaknya semakin merekah melihat banyak permainan, dan orang berlalu-lalang bermain di taman.


"Wooowww! olangnya anyak, Daddy Unda." Tutur Kenzi melirik kedua orang tuanya bergantian.


"Kakak suka." tanya Daddy-nya.


"Uka anget Daddy!" Jawabnya.


Yudha, dan Kenzi berkeliling taman, dan menaiki berbagai wahana permainan yang cuma-cuma alias gratis. Kania memilih menunggu di bale-bale minimalis khas kayu jati, yang berada tidak jauh dari tempat keduanya bermain.


"Wushhh! Yang kelas Daddy bial sepelti aik pecawat telbang." Tutur Kenzi mencoba menaiki wahana ayunan, yang di dorong Daddy-nya tidak kencang.


"Nggak nanti kakak jatuh! paling juga nangis." Sahut Daddy-nya.


"Nggak akan angis! akak udah besal." Ujar Kenzi yang tidak mau kalah di goda Daddy-nya.


Sedangkan Kania sedang asyik-asyiknya duduk, melihat keseruan suami, dan Anaknya. tiba-tiba ada seorang yang menumpang duduk di sebelahnya.


"Permisi Mbak! boleh duduk di sini!" Tutur Mas-mas.


"Silahkan!" Jawabnya.


Kania kembali memperhatikan Anaknya yang asyik bermain, dan tertawa lepas, dengan keringat mengucur di dahinya yang sangat banyak.


"Maaf Mbak! itu suami, dan Anaknya ya Mbak?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya bang!" Jawabnya Kania.


"Suaminya ganteng, Anaknya juga ganteng seperti pinang dibelah dua." Ujar Mas-nya.


Melihat gerak-gerik pria di sampingnya membuat Kania sedikit risih, mulai menelisik penampilan dari atas, dan bawah yang di pakai Kania.


Yudha yang melihat istrinya tidak nyaman, terlihat dari kejauhan istrinya sangat gelisah, Yudha datang menghampirinya dengan tangan yang sudah di kepalnya.


Matanya yang sudah memerah, dan menatapnya tajam lurus ke depan. Yudha berjalan mengandeng tangan Anaknya yang tidak bisa diam, selalu menanyakan hal-hal yang menurutnya belum pernah di temuinya.


"Kakak diam dulu ya! kasihan Bunda di sana sendirian! takutnya ada orang jahat." Tutur Yudha yang mensejajarkan tingginya dengan tinggi anaknya


"Iya Daddy."


"Good Son."


"Sayang, ada apa?" tanyanya Yudha yang melirik di sebelah istrinya dengan tatapan mata yang tajam.


"Nggak apa-apa, sayang! ayo pulang." ajak Kania yang mengelus punggung tangan suaminya, dan mengandeng tangannya untuk mengajaknya jalan ke parkiran mobilnya.


Kania sangat tahu arti tatapan suaminya, sebelum ada hal-hal yang tidak diinginkan, Kania mengajak Suami, dan Anaknya untuk pulang.


Walaupun Kenzi yang merengek ingin bermain lagi, yang katanya belum puas, Kania janji kapan-kapan kita kesini lagi sayang!


"Badan Bunda sangat pegal buat duduk, sayang."

__ADS_1


Akhirnya Kenzi menganggukkan kepalanya, di dalam mobil suasananya sangat hening, hanya suara Kenzi yang bercerita keasikan menikmati wahana permainan yang ada di taman.


__ADS_2