Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 172


__ADS_3

Jalanan ibu kota pagi ini sangatlah padat, kebetulan hari ini, hari Senin. Hari dimana kemacetan ibukota dimulai, kendaraan berlalu lalang memenuhi jalanan yang sedikit berhimpitan, dengan warna lampu lalulintas warna merah.


***


Kenzi masih asyik melihat jalanan yang macet dengan berbagai macam warna, merk mobil. Kenzi sangat antusias setiap kali melihat Bemo yang rodanya ada tiga, Ingin rasanya naik tetapi takut tidak dibolehin Daddy dan Bundanya.


Berkali-kali melihat Bemo di samping mobilnya, kedua matanya sangat berbinar dan penuh damba.


"Daddy."


"Iya Kak."


"Kakak mau nnaik itu, Daddy."


"Yang mana Kak?" tanyanya Daddy-nya.


"Itu Daddy." Jari telunjuknya Kenzi mengarahkan ke mobil Bemo.


"Maksud kakak Bemo."


"Kenzi mengangguk mengatakan "Iya Daddy" dengan sorot matanya tidak pernah lepas dari mobil beroda tiga. Yudha mengelus kepala Anaknya, dan mengusapnya lembut.


"Entar bilang dulu sama Bunda! dibolehin apa nggak ya. Kak?"


"Ahsiap Daddy." tangan Kenzi memberi hormat seperti Tentara dengan komandannya.


***

__ADS_1


Yudha tersenyum dengan bangga melihat tumbuh kembang Anak pertamanya yang semakin besar, semakin tambah pintar, semakin pengertian terhadap bunda dan Daddy-nya.


"Tumbuhlah dengan sehat sayang! Daddy, Bunda dan Adik-adik menyayangi kakak Kenzi." Batinnya Yudha.


***


Setelah tiba di sekolahan Kenzi, yang baru saja memasuki ajaran baru. Yang baru satu minggu ini, Kenzi menjadi murid di SDN IT yang terkenal sangat elite, dan sangat mahal.


Setiap hari Kenzi berangkat pagi, pulang soe hari. Kenzi sangat antusias mempunyai banyak teman yang berbeda-beda, tidak seperti teman-temannya di taman kanak-kanak sebelumnya.


"Daddy kakak pamit cekolah duyu." Tutur Kenzi yang meraih punggung tangan Daddy-nya untuk di cium-nya.


"Kakak belajar yang rajin! Jangan nakal! harus dengerin kata guru-nya ya, kak." Sahut Yudha yang berjongkok di depan Anaknya, untuk menyamakan tingginya Kenzi.


"Ahiap kapten."


***


Yudha tersenyum tipis dengan tingkah Anaknya dengan kosakata yang baru, di tambah Kenzi sangat mandiri tidak mau bila di antar Daddy-nya sampai ke depan kelas.


Setelah selesai memperhatikan Anaknya yang sudah duduk di dalam kelas, dan bel masuk berbunyi. Yudha kembali ke dalam mobilnya, untuk berangkat ke tempat kerjanya.


"Jalan mang."


"Baik Pak."


****

__ADS_1


Mang Udin membelah jalanan ibukota untuk menerjang macet, setelah mengantar bos kecilnya ke sekolah, ini giliran bos besarnya berangkat ke kantor.


Mang Udin melirik dari spion mobilnya, sedikit ter


senyum. Majikannya terlalu asyik dengan dunia gadget-nya untuk membalas beberapa email yang masuk.


***


Di rumah keluarga Pradipta sangat ramai dengan tingkah laku kedua kembarnya yang semakin aktif, banyak hal baru yang di pelajari keduanya.


Setelah Daddy dan Kakaknya berangkat, keduanya melanjutkan untuk bermain petak umpet di ruang keluarga. Kania yang melihat tingkah keduanya tersenyum lebar, karena Kama selalu ngalah kepada Kalila Adiknya.


"Unda hiyat akak atuh wawah tuh."


"Mana sayang?"


"Itu wawah kulsi, Unda."


Kania mencari celingak-celinguk Kama, yang nyungsep ke belakang kursi dengan badannya yang pura-pura menjatuhkan dirinya.


"Adik olongin akak! akak atuh."


Mendengar suara kakaknya yang minta tolong, Kalila berlari seperti terbirit-birit untuk menolong kakaknya yang jatuh di kasur bulu.


"Akak atuh! akak akit! yang ana kak?"


"Bantuin tium-tium kaki akak, Dik."

__ADS_1


Melihat kakaknya yang meringis seperti menahan sakit, Kalila berjongkok untuk membantu Kakaknya meniup-niup luka lecetnya.


__ADS_2