Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 148


__ADS_3

Satu jam kemudian....


Yudha Kenzi turun dari mobil dengan tangan saling bertautan, mereka berjalan beriringan menuju pintu rumahnya, sesekali diiringi dengan nyanyian Kenzi.


Intang kecil, di angit yang inggi.


Amat anyak, menghias angkasa.


Akak Enzi ingin telbang dan menali.


Auh inggi keempat kau belada.


"Yeahhh akak Enzi uda bica anyi." Seru Kenzi bersorak bertepuk tangan.


"Daddy! aakak Enzi cekalang bica anyi agu intang kecil." Tutur Kenzi yang terus minta tangannya di gandeng Daddy-nya.


"Jagoan Daddy tambah pintar." Sahut Yudha yang mengusap rambutnya Kenzi.


Yudha langsung masuk ke dalam rumah, tanpa membunyikan bel lebih dulu karena sudah kebiasaannya.


"Unda! akak Enzi ulang." Teriak Kenzi untuk mencari Bundanya.


"Ssssttt.... hiyat Daddy ada olang tidul di kulsi." Tutur Kenzi jalannya mengendap-endap seperti mau maling.


"Apa sayang." sahut Yudha.


"Itu hiyat Daddy! ada olang." Bisik Kenzi dengan jari telunjuknya mengarah ke kursi ruang tamu.


"Ooohhh itu!" Sahut Yudha dengan santai. tanpa memperdulikan seseorang yang tidur di kursi, pikir Yudha saudara bik Siti.


Yudha sampai rumahnya di buat terkejut dengan kedatangan Intan, Intan sedang tidur di kursi ruang tamu, dan suasana rumah juga sangat sepi.


Biasanya ada bik Siti di dalam dapur, ini malah tidak ada sama sekali, nampak sangat sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dirumahnya.


Yudha memilih langsung naik ke lantai dua kamarnya, dan istrinya. kamar Kenzi terletak di sebelahnya, Yudha mengandeng tangan Anaknya dituntut untuk naik ke lantai atas untuk mengganti baju lebih dulu.


"Unda! akak Enzi udah ulang! Unda di ana?" teriakan Kenzi memekik di telinganya Yudha, anaknya kalau bicara sangat nyaring.


"Ssssttt jangan keras-keras, sayang! takutnya Bunda tidur." Tutur Yudha.


"Upzzz! upa Daddy." Sahut Kenzi menutup mulutnya, dan tertawa terkikik-kikik.

__ADS_1


"Kok kamu tambah gemesin, sayang." Tutur Yudha mengusap lembut surai rambut Anaknya.


Kenzi yang di puji Daddy-nya langsung tersenyum lebar, menampilkan giginya yang rapi bersih sangat terawat.


"Sayang, Mas pulang." Tutur Yudha membuka pintu kamarnya.


Ceklek...


Kamarnya nampak sangat sepi, tidak ada tanda-tanda orang di dalam, Yudha menghidupkan saklar lampu di kamarnya, kedua matanya terbelalak melihat istrinya tertidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Unda, tenapa Daddy?" tanya Kenzi yang melihat Daddy-nya begitu khawatir.


"Nggak apa-apa, Sayang! Bunda lagi tidur." Jawab Kenzi mensejajarkan tingginya dengan tinggi anaknya.


Yudha berjalan menghampiri istrinya, dan diikuti Kenzi. Membuka selimutnya untuk melihat kondisi istrinya, yang tidak biasanya tidur dengan begitu.


"Sayang..." Sapa Yudha yang tidak ada tanggapan.


Memberanikan dirinya untuk membuka selimut yang sedang membungkus tubuh istrinya, Yudha membelai pipinya yang ada jejak air mata, dan mengecupnya.


"Unda! angan atit ya! akak Enzi sayang Unda, dan Debay." Tutur Kenzi yang naik ke ranjang Bundanya, dan mendekap tubuh Bundanya dengan sayang.


Niat Yudha pulang lebih awal untuk mengajak istrinya untuk kontrol kandungan, tetapi nihil istrinya lagi tidur sangat pulas, Yudha tidak tega membangunkannya. Mungkin besok saja ke dokternya, di bawah juga ada tamu, nggak enak di tinggal.


Selesai Yudha mengganti baju Anaknya, Yudha mengajak Kenzi ke kamar Bundanya, Kania sudah menyadarkan tubuhnya dengan bantal sebagai penopangnya. Suaminya masuk ke dalam kamar dengan memberikan senyuman, dan kecupan di keningnya.


"Unda...." Seru Kenzi mengecup pipi kanan kiri bergantian.


"Sini dekat Bunda, Sayang." Tutur Kania yang menepuk-nepuk tempat duduk disebelahnya.


Kania mendiamkan suaminya, yang biasanya akan menyambut dengan senyuman, dan mencium tangannya. Kali ini sangat berbeda, nampak sangat aneh tidak seperti biasanya.


"Apa karena Intan? Kania jadi begini sikapnya." Suara hatinya Yudha.


"Sayang, udah makan belum?" tanyanya Yudha yang basa-basi, tetapi tidak ada tanggapan atau suara yang keluar dari bibirnya.


Kania sedang bercanda dengan Anaknya, tertawa cekikikan dengan Kenzi, tanpa menghiraukan suaminya yang di sampingnya, yang sedang memperhatikan gerak-gerik istrinya.


"Sayang, disekolahan di ajarin apa tadi?" tanya Bundanya.


"Akak Enzi di ajalin Bu gulu nyanyi telus mengambal, Unda." Seru Kenzi membayangkan tadi pas di kelas.

__ADS_1


"Oooh Iya Unda! tadi ada cewek kecil tantik hiyatin akak, Unda." Tutur Kenzi yang tersenyum tipis.


"Ohh yaaa! namanya siapa sayang?" tanya Bundanya.


"Ndak au! akak ndak enal, Unda ." Sahut Kenzi yang memeluk Bundanya.


"Cie cie cie... Jagoan Bunda udah besar! udah ada yang lihatin Kakak! Kakak suka ya." Ujar Kania yang ingin menggoda Anaknya yang duduknya salah tingkah.


"Ndak Unda! akak au cekolah ukan ntuk cuka-cuka." Sahut Kenzi dengan bibirnya sudah mengerucut.


Ceklek...


Yudha keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, dan rambut basahnya. Kania melirik suaminya sekilas, membuat Pipinya merah merona, membayangkan adegan panas dengan suaminya yang sangat seksi.


Kania mencuri-curi kesempatan untuk lebih lama, melihat tubuh suaminya yang sixpack dengan perut kotak-kotaknya, membuat Pipinya tambah merah seperti tomat.


"Daddy! Pipi Unda melah-melah ambah tantik." Seru Kenzi yang ingin menggoda Bundanya yang semakin di buat Anaknya mati kutu dengan sikap Kenzi.


Yudha datang menghampiri Kania, dan Kenzi yang masih betah duduk diatas tempat tidurnya.


"Kenapa sayang pipinya kok merah-merah." Ujar Yudha yang ingin menjahili istrinya.


Suaminya duduk di sebelahnya, dan memeluknya dari samping.


"Kenapa tadi mendiamkan, Mas?" bisik Yudha tepat di ceruk leher istrinya.


"Nggak apa-apa, Mas! Kania sebel aja, ada tamu wanita yang sedang mencari Mas." Sahut Kania menimpali percakapan suaminya.


"Itu Intan sepupunya mommynya Kenzi! Mas nggak ada apa-apa." Tutur Yudha menjelaskan ke istrinya supaya tidak ada salah paham, dan di kemudian hari tidak menimbulkan pertengkaran.


"Daddy Unda peyukan! akak Enzi ndak di ajak-ajak." Tutur Kenzi yang protes kepada kedua orangtuanya, yang sengaja ingin menjahili Kenzi.


Ketiganya akhirnya berpelukan, dengan posisi Kenzi ada di tengah mereka, keduanya saling mencium pipi tembem Kenzi.


"Ya Allah lindungilah keluarga hamba dari malapetaka, dan marabahaya terutama wanita lain di rumah tangganya kami! Aamiin." Doa Kania di dalam hatinya.


Ayo sayang kita turun! Mas akan kenalin sama Intan, Mereka turun bertiga dengan Kenzi di gendongan Daddy-nya, dan Kania di sebelahnya yang tangannya sedang di genggam suaminya.


Melihat Intan yang sudah bangun, membuat Yudha menyampaikan maksudnya biar tidak ada salah paham.


"Intan! kenalin ini istriku Kania, dan ini Kenzi." Tutur Yudha.

__ADS_1


__ADS_2