
Yudha membuka pintu kamar istirahat kania, setelah melihat bundanya Kenzi beringsut ingin turun dari gendongan Daddy-nya.
"Daddy ululin Enzi, au keempat unda." Ujar Kenzi yang sudah merengek melihat bundanya yang di pasang infus di tangan kirinya.
Kenzi berlari kecil untuk melihat bundanya lebih dekat, dan ingin naik keatas ranjang tetapi tidak bisa karena ranjangnya terlalu tinggi untuk anak usia 4 Tahun.
"Enzi ndak ica aman!" Kenzi menggoyang-goyangkan kakinya Paman Tom yang tertidur di kursi dekat bundanya.
"Aman ndak Ica aik Enzi." Ujar Kenzi yang tidak mau mengalah sebelum pamannya bangun dari tidurnya.
"Eh ada Kenzi, sama siapa?" tanyanya Paman Tom masih mengucek-ngucek matanya karena tidurnya terganggu oleh bos kecilnya yang ingin naik ke ranjang bundanya.
"Itu ..... " Ujar Kenzi menoleh ke belakang dan memberikan petunjuk kepada pamannya bahwa Kenzi kesini bersama Daddy-nya.
"Enzi au aik di cini." tangan Kenzi menepuk ranjang tempat tidur bundanya.
"Baiklah tetapi Kenzi nggak boleh berisik ya, biar bunda istirahat dulu." Ujar Paman Tom yang memberi nasehat.
"Siap aman!" Kenzi memberikan hormat seperti tentara.
__ADS_1
Paman Tom langsung terkekeh melihat tingkah menggemaskan Kenzi, yang sangat pintar berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa walaupun masih cadel melafalkan huruf demi huruf.
Cup Cup Cup Cup Cup.........
Kenzi menciumi bundanya bertubi-tubi mulai dari kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, bibirnya, dan terakhir keningnya.
"Tidur yang nyenyak unda, Enzi akan peyuk unda sampai unda bangun lagi Ica emenin ain agi." Ujar Kenzi tidur di samping bundanya dengan tangan kecilnya melingkar di pinggang bundanya.
Yudha masih terdiam di depan pintu tanpa ada niat untuk melangkah mendekati ranjang Kania, Yudha masih syok mendengar Kania yang terkilir kakinya, dan tiba-tiba pingsan. seakan dunia hancur apabila terjadi apa-apa dengan Kania. Anaknya sudah sangat dekat dengannya, yang disebut dengan panggilan bunda.
Masih diam mematung memperhatikan anaknya yang tertidur di samping bundanya, dan melirik sekilas Tom yang sedang menatapnya tajam kearah Yudha.
"Terima kasih telah menolong Kania." Ujar Yudha membalas menepuk pundaknya Tom.
Tidak ada jawaban , Tom pergi meninggalkan kamar istirahat kania, dan menutup pintunya dengan pelan-pelan.
Huffttt!! kalau tidak ada Kenzi dan Kania sedang istirahat, sudah dipastikan saya akan hadiahkan Bogeman kepada wajahnya Yudha yang sok kegantengan itu.
Yudha berjalan pelan ke ranjang Kania, duduk di kursi sampingnya, dan mengengam tangannya yang tidak terpasang infus, dan mengecupnya bertubi-tubi.
__ADS_1
"Maafkan saya yang lalai menjagamu." guman Yudha dengan mengecup tangannya.
"Maafkan saya tadi meninggalkanmu di bandara." Ujar Yudha dengan rasa penyesalan, seandainya saya mengandengnya pasti peristiwa ini tidak akan terjadi.
"Cepat sembuh sayang." Yudha mengecup keningnya Kania sedikit lama.
"Tom, Kamu gantikan saya ke Kalimantan malam ini kamu berangkat!" Ujar Yudha di telepon.
"Tetapi Pak! pihak disana meminta bapak yang datang, apa nanti mau dengan saya pak?" tanya Tom sedikit mengigit bibirnya harap-harap cemas keputusan Yudha.
"Kalau pihak disana rewel, batalkan saja proyeknya Kania lebih penting dari apapun Tom." Ujar Yudha.
"Baik saya akan berangkat nanti malam! kalau begitu saya pulang dulu mau istirahat, semua barang dan koper ada di kamar istirahat kania." Jawab Tom menutup teleponnya.
Yudha menaruh Smartphone-nya diatas nakas, dan meletakkan kepalanya di ranjang Kania , dan tangannya terus saja menggenggamnya.
Terdengar dengkuran halus dari kedua malaikatnya, membuat matanya Kania terbuka menyesuaikan cahaya di kamarnya, dengan ruangan serba putih, dan tangan kirinya yang di pasang infus.
Kania tersenyum hangat melihat keduanya tidur sangat nyenyak, tangan Kania terulur untuk mengelus rambut keduanya dengan lembut, dan bergantian.
__ADS_1