
Dua hari sudah berlalu semenjak mereka sarapan bertiga, ada rasa canggung untuk keduanya, mereka tidak saling bertegur sapa, seperti malam ini Tom menginap kembali ke rumahnya Intan atas permintaan putrinya.
Di ruang keluarga ini, hanya Aira yang begitu cerewet bicara ini itu, dan kedua orang dewasa hanya ikut nimbrung menimpali pertanyaan Aira-nya.
"Tata Mama, "Ita au Puyang ke Indonesia ke empat Opa Oma-nya Aila ya ma, telus Ita puyangnya kapan, Ma?" tanya Aira Mendongakkan wajahnya untuk menatap manik matanya Mama Intan. Aira terus saja menatap wajah Mamanya, tetapi belum juga mendapatkan jawaban, Mamanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Iiih mama, awab atuh Aila ungguin!" Kata Aira yang sudah memanyunkan bibirnya, dan nadanya di buat kesal.
"Apa sayang? tanya apa tadi?" tanya Intan balik, dari tadi Intan tidak konsentrasi untuk mendengarkan pertanyaan Aira-nya, Intan sibuk dengan pemikiran sendiri.
πππ
"Aira tadi nanyain kapan pulang ke Indonesia ke tempat Opa Oma-nya gitu Tan." Tom ikut menimpali pertanyaan Aira-nya, yang tidak Intan ingat pertanyaan putrinya, Tom mencoba untuk mengulang pertanyaan Aira.
"Benel anget tata Om hanteng-nya." Seru Aira dengan wajahnya yang berseri-seri, Aira bahagia Om hanteng-nya mengingat pertanyaan Aira dan menyampaikan ke Mamanya.
"Cium dong Pa... eh Om hanteng-nya." Tom membekap mulutnya sendiri, baru saja Tom salah menyebutkan dirinya sebagai Papa-nya, Untung sudah Tom ralat.
__ADS_1
Aira beranjak dari playmant, berjalan menghampiri Om hanteng-nya yang sedang duduk di sofa, bersebelahan dengan Mama Intan.
"Cup....Cup..." Aira mengecup pipi kanan kiri bergantian, Tom yang merasakan kecupan dari Aira, membuat seorang Tom berkaca-kaca dan terharu.
"Om tenapa angis? sepelti Aila aja alau ndak di tulutin permintaan beli es klim oleh Mama aja, iihh Om cepelti Aila uka angis." Tutur Aira yang tidak kalah bingung yang tiba-tiba Om hanteng-nya yang mau menangis.
"Ndak nangis om-nya, tadi hanya kelilipan debu saja kok." Sahutnya Tom mengusap air matanya yang sudah mau jatuh ke pipinya.
"Om hangan angis agi ada Aila, ada Mama Itan." Ucap Aira menenangkan om-nya, tangan kecilnya mengusap lembut jejak air mata Om hanteng-nya.
"Om ndak nangis, lihat Om sudah tersenyum." Ujar Tom tersenyum lebar, dan senyumnya membawa Aira tertawa-tawa melihat Om-nya sudah tidak nangis lagi.
"Terimakasih sayang."
"Ama-ama Om, tata Mama sesama manusia Ita halus saling membantu, saling tolong menolong dong om." Ujar Aira yang bangga, karena Mamanya selalu mengajarkan saling membantu, menolong dengan orang lain baik kenal maupun tidak.
Tom langsung merengkuh tubuh kecilnya Aira, dan langsung Tom bawa ke atas pangkuannya, wajahnya tidak pernah luput dari serangan Tom, yang tiba-tiba memberikan hadiah kecupan setiap inci wajahnya.
__ADS_1
πππ
Intan yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum bahagia, melihat keduanya bagaikan pinang dibelah dua, seperti tidak terpisahkan barang sedikitpun dari garis wajahnya, hidungnya bener-bener mirip pria di sebelahnya.
Intan tidak menyangka pertemuan pertamanya di Mall, membawa pada kebahagiaan putrinya, yang sangat jelas sekali terlihat kebahagiaan di keduanya saat ini di rumahnya.
Aira bisa mendapatkan kasih sayang dari Papa kandungnya sendiri, Papa yang selalu Aira tanyakan keberadaannya, sekarang ini mereka berdua saling mendekap, bercanda bahkan keduanya tertawa bareng.
Intan tidak memungkiri hatinya yang menghangat, membuncah bahagia, setiap kali melihat interaksi antara keduanya, keduanya sangat mudah akrab seperti ikatan batinnya yang kuat.
Flashback
Intan dulu di kejar-kejar pria sebagai teman kerjanya, tetapi Aira tidak menyukainya, cenderung Aira lebih mendiamkan tamunya. Bahkan dulu berimbas pada dirinya Intan, Aira mogok bicara dan mogok makan, sehari-hari Aira habiskan waktunya di rumah Nenek Salma, dan kadangpun bobok di sana dan tidak mau pulang.
Dari itu pelan-pelan Intan menghindari yang namanya pria, Aira tidak seperti anak lainnya yang mudah di rayu dengan sogokan coklat atau yang lainnya.
Intan belajar banyak dari Aira, ternyata teman yang mendekatinya ada niat terselubung. Sejak saat itu Intan tidak pernah dekat lagi dengan seorang pria, Intan lebih fokus bekerja dan merawat Aira-nya.
__ADS_1
Flashback Off
ππΌπΌ Setiap perjalanan pasti ada cerita, karena setiap pengalaman adalah guru yang terbaik untuk kita, untuk kita belajar menjadi yang lebih baik lagi πΌπΌπ