
"Unda!, akak Enzi hali ini akak aju walnanya apa, Unda?" Teriak Kenzi bertanya ke Bundanya.
"Atasan warna hijau celananya hitam ya, Sayang." Jawab Bundanya.
"Ahiap akak Enzi au cali sendili, Unda." Seru Kenzi.
Kania melihat anaknya belajar untuk mandiri, mengenal warna baju untuk sekolah membuat Bundanya tersenyum tipis, sekarang anaknya sudah besar.
Kenzi membuka walk in closet kecil yang khusus di pesankan untuk Kenzi, yang berada di pojok kamarnya, Kenzi mulai memilih-milah bajunya, setelah menemukan membuat senyumnya sangat lebar, dan manis seperti madu.
Setelah memakai pakaian, Kenzi memutar-mutar tubuhnya dulu di depan cermin, dan dirasa cukup puas Kenzi keluar dari walk in closet.
"Unda, hiyat akak Enzi." Tutur Kenzi bergaya seperti model majalah anak kecil.
"Jagoan Bunda sudah pintar pakai baju sendiri, Bunda bangga sama Kakak." Sahut Bundanya berjalan menghampiri anaknya yang masih berdiri seperti model.
"Kakak belajar dari mana?" tanya Bundanya merapikan kancing baju, dan memasukkan bajunya ke dalam celananya.
"Sendili Unda!" Seru Kenzi.
"Pintarnya jagoan, Bunda." Tutur Bundanya.
Setelah merapikan bajunya, merapikan buku-bukunya di masukkan ke dalam tas sekolah, dan memakaikan di punggungnya.
Bundanya memfoto sebentar untuk kenang-kenangan, kelak anak pertamanya tumbuh besar, dan tidak mau di bantu Bundanya lagi dalam hal memakaikan baju, dan keperluan lainnya.
Mereka berdua keluar dari kamar saling bertautan tangannya, dan keduanya menuruni anak tangga pelan-pelan, takut anaknya tergelincir dari tangga bila tidak hati-hati jalannya.
Yudha yang melihatnya dari ruang makan tersenyum tipis, dan kembali fokus menatap layar ponselnya.
Kania menghampiri suaminya yang masih fokus dengan benda di tangannya, dan Yudha tidak menyadari kehadiran istri, dan anaknya.
"Daddy! iiihh cuekin akak Enzi, dan Unda." Tutur Kenzi sedikit protes.
__ADS_1
"Ehhh kakak sudah disini? mana Bunda?" Tanya Yudha Mendongak keatas melihat anaknya sudah duduk manis didepannya, tetapi tidak melihat istrinya.
"Itu Unda, Daddy!" Tutur Kenzi yang sedikit cemberut karena Daddy-nya tidak memperhatikannya, malah lebih penting ponselnya.
Kania berjalan menghampiri suaminya, dan membawa jeruk lemon hangat untuk meredakan mual-mual nya di pagi hari, dan efeknya sudah terbukti semenjak Kania mengkonsumsi minuman air jeruk lemon.
Mas, Ponselnya entar dulu perhatian anakmu yang mukanya sudah cemberut." Tutur Kania mengelus bahu suaminya.
Yudha mengganggu, "Iya sayang." sahut Yudha memasukkan ke dalam saku jasnya.
"Jagoan Daddy, kenapa mukanya cemberut?" tanya Yudha.
"Abisnya akak Enzi di uekin, Unda uga." Sahut Kenzi yang bibirnya mengerucut ke depan.
Bagi Yudha itu sangat menggemaskan, akhirnya Yudha bangkit dari duduknya menghampiri Kenzi, dan mendudukkan diatas pangkuannya.
Cup Cup....
Daddy-nya mengecup bibirnya, dan pipinya yang menggembung membuat Yudha semakin gemas, tidak lepas dari senyum di sudut bibirnya.
"Yang mandiin siapa , sayang?" tanya Daddy-nya.
"Unda! yang gantiin baju siapa?" tanya Daddy-nya.
"Cekalang akak Enzi udah Ica akai aju sendili, dan ambil sendili di walk in closet, akak Enzi enang okoknya." Seru Kenzi yang menceritakan.
"Pagi kak, pagi keponakan aunty..... sapa aunty Dara yang baru selesai keluar dari kamarnya.
"Pagi uga aunty yang tantik." seru Kenzi memuji auntynya.
Berhubung keponakan aunty sedang memuji auntynya, aunty beri hadiah! Kenzi mau nggak?
"Au au au aunty! adiahnya apa aunty?" tanya Kenzi.
__ADS_1
"Rahasia." Tutur aunty Dara.
"Ahhh aunty ndak accik, ndak celu." Tutur Kenzi yang lesu.
Cup Cup Cup Cup Cup.....
Ini hadiah dari aunty untuk keponakan aunty Dara yang tampan, dan ganteng ini.
Mereka berdua lalu tertawa bersama, dan menyelesaikan sarapannya dengan catatan Bundanya harus menyuapi Kenzi makan, dan di pangku Daddy-nya.
"Akak Enzi belangkat cekolah duyu ya, Dik." Tutur Kenzi yang bicara dengan Adik-adiknya yang masih di dalam perut Bundanya.
"Jagain Unda! Adik ndak oleh akal di alam peyut nya, Unda."Tutur Kenzi, dan mengecupnya bertubi-tubi dengan sangat sayang.
"Iya kakak Kenzi!" Jawab Kania menirukan suara anak kecil.
"Kakak sekolahnya yang pintar, tidak boleh nakal harus nurut sama guru, ya sayang."
"Iya Unda akak ngelti."
"Dara berangkat sekolah dulu ya, Kak." Tutur Dara mencium telapak tangan kakaknya, dan kedua pipinya.
"Mas berangkat kerja dulu ya, sayang." Tutur Yudha mencium kening istrinya, dan Kania mencium punggung tangan suaminya.
Kania mengantar mereka bertiga sampai ke dalam mobil, ingat pesan Bunda ya kakak Kenzi.
"Asti Unda! Cup Cup Kenzi mengecup pipi Bundanya."
"Assalamu'alaikum..." Tutur mereka bertiga.
"Walaikumsalam... Jawab Kania.
"Jaga suami, anak, dan Adikku ya Rabb."
__ADS_1
Mereka melambaikan tangannya, setelah mobil tidak terlihat lagi Kania masuk ke dalam membantu membereskan meja makannya yang masih berantakan.