
Hari Sabtu merupakan hari weekand, hari yang di tunggu pasangan muda-mudi, untuk menikmati malam minggu dengan pasangan, tetapi tidak untuk Tommy waktunya sangat berharga untuk di buang secara percuma, apalagi hal yang tidak penting seperti hari ini.
Tommy lebih baik menyibukkan dirinya dengan pekerjaan atau untuk mengistirahatkan tubuhnya. Maklum Tommy tidak mempunyai pasangan, atau seseorang yang lagi Tommy dekatin. Pikirannya cuma satu menemukan Intan, yang selalu mengusik relung hatinya yang terdalam.
Tommy merupakan penghuni Apartemen mewah di Jakarta Pusat, fasilitas di Apartemen sangat lengkap, mulai dapur, dua kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga dan ada ruang bartender kecil yang biasanya Tommy gunakan sekedar minum kopi atau nongkrong ala-ala di bar.
Di kamarnya Tommy hanya membolak-balikkan badannya, menerawang atap kamarnya, mengingat kenangan terakhirnya dengan Intan, rasa itu mulai tumbuh, walaupun perkenalan kita sangat singkat, tetapi rasa ini semakin dalam.
***
Sabtu-Minggu Waktunya buat mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya, Senin lusa Tommy ada perjalanan bisnis ke Singapura.
Tommy sudah mempacking beberapa potong pakaian ke dalam kopernya, Senin yang akan datang Dia akan berangkat ke Singapura, selama satu minggu Tommy akan mengecek cabang Hotel Pradipta.
"Semoga Aku bisa menemukan cintaku di sana, Sayang."
Rasa kantuknya tidak bisa diajak kompromi, dengan mengengam ponselnya yang ada fotonya Intan, di galery juga ada beberapa foto Intan yang di ambil Tommy secara sembunyi-sembunyi.
Tommy tertidur dengan seulas senyum, bahagia rasanya bisa memandang wajahnya, walaupun hanya selembar foto di galeri ponselnya.
Kring....kring... Bunyi alarm jam diatas nakasnya memekik telinganya Tommy, tangannya meraba-raba nakas untuk melihat jam berapa? Matanya membelalakkan melihat jam Sudah pukul 07.00 Wib.
"Kesiangan."
Tommy langsung turun dari tempat tidurnya, dan meraih handuk. Selesai membersihkan badannya, Tommy memakai pakaian kasualnya, dan siang nanti akan berangkat ke Singapura. Ke kantor hanya mengambil beberapa berkas yang harus di bawa ke Singapura.
****
Di rumahnya Intan sedang memandikan Aira, batita kecil yang sekarang sudah bisa berjalan lancar, pipinya yang gembil membuat siapa saja yang melihat Aira pasti akan mencubit pipi gembil-nya.
"Dek, jangan lari-lari nanti jatuh."
"Nda Ma! Nda atuh." Tutur Aira tertawa cekikikan.
Intan yang melihat tingkah Aira hanya menggelengkan kepalanya, dan mengecup pipi gembil-nya.
"Udah ya mandinya! entar kedinginan."
"Bental Ma! Ndak dingin, Aila suka dinginnya sepelti es klim."
__ADS_1
"Ini es klim Mama." Intan mengecup pipi kanan kiri bergantian."
"Aila geyiiii Ma." tawa Aira pecah, karena pipinya terus saja di hujani ciuman bertubi-tubi dari Mamanya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Intan membenahi penampilannya yang sedikit berantakan , habis memandikan Aira. Setelah dirinya rapi, baru Intan mendandani Aira, si bayik gembil sangat menggemaskan.
"Aira mau di kuncir dua apa pakai bando, sayang?"
"Hmmm apa ya Aila bingung?" Jari tangan Aira mengetuk-ngetuk kepala, seakan-akan sedang berpikir...
"Duh duh duh Anak Mama makin gemesin kaya mikirin negara aja, Dek."
Keduanya tertawa bersama, ini lah secuil kebahagiaan Intan dan si kecil Aira, yang semakin hari semakin tumbuh gembil pipinya.
"Aila au di kuncil dua, Ma."
"Siap tuan putri."
Selesai mendandani Aira, Intan memakaikan jaket, dan Intan mengambil tas Selempang diatas tempat tidurnya.
"Kita au pelgi halan-halan ya, Ma?"
"Uka Ma ! Aila ayang Mama." Aira mengecup pipi Mamanya bergantian.
"Makasih anak cantiknya Mama."
"Maacik uga! Mama udah ayang, Aila."
Mereka berdua keluar dari rumahnya, tidak lupa pamit kepada nenek Salma, dan mengunci pintu rumahnya. Keduanya berjalan saling menautkan kedua jari-jarinya, Intan bahagia Putri kecilnya tumbuh dengan sehat, dan sangat gembil.
***
Tommy sudah tiba di bandara dengan menggeret kopernya, dengan gaya angkuhnya, dan kacamata hitam di pakainya membuat Tommy sang casanova terlihat sangat tampan dengan balutan kemeja warna hitam, dan celana jeans-nya warna senada dengan kemejanya.
Setelah melakukan bording, Tommy menerima panggilan telepon dari Yudha selaku atasannya di kantor, merupakan sahabatnya dari kecil.
"Pemberitahuan pesawat tujuan Indonesia-Singapura akan segera di berangkatkan, mohon para penumpang untuk segera memasuki kabin pesawat."
"Memasuki kabin pesawat, pramugari menjelaskan beberapa yang tidak boleh dilakukan di dalam pesawat, dan harus memasang sabuk pengaman yang telah di sediakan."
__ADS_1
Setelah memasang sabuk pengaman, pesawat mulai Take off meninggalkan bandara internasional Soekarno-Hatta, pesawat sudah mengudara terbang ke Singapura.
Sore harinya Tommy sudah sampai Bandara, sudah di jemput orang kepercayaan keluarga Pradipta. Tommy di antar ke hotel Pradipta, tempatnya untuk menginap satu pekan ke depan.
"Ini tuan kamarnya."
"Makasih Pak."
Sampai di kamarnya Tommy langsung merebahkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal, matanya sudah satu what rasa kantuknya tidak bisa di bayar. Akhirnya Tommy tertidur masih memakai baju yang kemarin.
Bangun-bangun hari sudah pagi, dengan sinar matahari pagi yang sangat cerah, secerah matahari pagi seperti hatinya Tommy yang sangat bahagia.
Tommy meninggalkan kamarnya dan breakfast dengan andalan menu Indonesia, di hotel Pradipta ini ada berbagai jenis makanan baik dalam negeri maupun makanan luar negeri, semua tersaji di hotel ini.
Pukul 09.00 waktu Singapura, Tommy masuk ke ruangan tempatnya untuk bekerja selama satu pekan. Beberapa berkas sudah Tommy periksa, menurutnya tidak ada yang salah dalam keuangan, semua tersusun sangat rapi baik pemasukan maupun pengeluarannya.
Cukup lama mengecek beberapa berkas, tidak terasa jam istirahat sudah tiba, waktunya untuk makan siang sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Bergegas meninggalkan ruangannya, Tommy mengendarai mobilnya untuk ke tempat makan sebuah Mall terbesar di Singapura. Berjalan sangat angkuh dan kacamata hitam bertengger di kedua matanya. Banyak pasang mata menatapnya kagum, penuh minat, dan berharap menjadi pendampingnya bahkan ada yang ingin menjadi selingkuhannya.
Di tengah jalan, Tommy mendengar suara tangisan anak kecil yang memanggil Mamanya.
"Hiks... Mama... Aila akut...." Aira menyembunyikan kepalanya di atas lututnya, dan bersandar tembok. Aira terpisah dari Mamanya yang sedang memesan makanan, tetapi Aira pergi dari tempat duduknya untuk jalan-jalan sebentar.
"Anak cantik, kenapa nangis?" Tangan Tommy mengusap lembut rambutnya Aira.
Aira tidak bergeming atau menyahut ucapan seseorang yang mengusap rambutnya, Aira malah semakin kencang tangisnya, karena merasa takut dengan orang asing.
"Cup...Cup..." Tom mengecup rambutnya Aira, dan menggendongnya di bawanya ke te duduk yang kosong.
Aira menyembunyikan kepalanya di ceruk lehernya, rasa takut tidak berani Mendongakkan wajahnya.
"Hiks.... au .... Ma..ma...."
"Mamanya dimana, sayang! Om akan antar ke tempatnya."
"Aira menggelengkan kepalanya."
Seorang wanita tengah kebingungan mencari Anaknya, yang sudah tidak ada di tempat duduknya, air matanya sudah bercucuran membasahi kedua pipinya.
__ADS_1