
Dua Minggu kemudian...
Yudha berencana hari ini untuk ke rumah sakit untuk periksa kandungan istrinya Kania, yang sebentar lagi akan melahirkan anak keduanya, dan ketiganya Yudha. Anak pertama bagi Kania, ini merupakan kehamilan pertamanya juga.
Menjelang persalinan Kania sempat merasa dag dig dug, bingung pengen persalinan normal atau Caesar. Semuanya sangat punya resikonya masing-masing yang sangat tinggi karena hamil baby twins.
Setelah ketiganya sudah siap, mereka turun ke bawah dengan Kenzi di gendongan Daddy-nya, sedangkan Bundanya berpegangan dengan tangan Daddy-nya.
Kania menuruni anak tangga sangat pelan-pelan, takut kalau terlalu terburu-buru malah memburuk kandungannya. Sesekali Kania menghentikan langkahnya di pertengahan anak tangga.
"Mas capek." Tutur Kania.
"Berhenti dulu ya!" Sahut Yudha.
Kania hanya mengangguk sembari mengelus perut yang buncit, dan duduk di anak tangga dengan nafasnya sedikit ngos-ngosan.
Berhenti 5 menit, Kania melanjutkan menuruni tangga satu-satu dengan satu tangan memegang perutnya yang lebih membesar tidak seperti kehamilan wanita lainnya atau kehamilan tunggal.
Setelah melihat istrinya yang kesusahan berjalan, Yudha memutuskan untuk menempati kamar tamu yang tidak kalah besarnya dengan kamar utama.
Yudha akan menempati kamar tamu sampai kedua anaknya lahir, mungkin hingga besar nanti.
"Unda cini mam ama akak Enzi." Tutur Kenzi yang mulutnya penuh dengan makanan, dan belepotan kemana-mana.
"Sayang! kalau mam jangan bicara dulu! nanti nasinya kemana-mana." Sahut Kania yang menghampiri anaknya yang sedang makan sendiri.
__ADS_1
"Upzzz!" Kenzi langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
Kania mulai menyuapi sarapan pagi anaknya, walaupun di ajarinya untuk selalu mandiri, tetapi Kania tidak tega melihat makan anaknya yang belepotan, dan berceceran kemana-mana.
"Enak mam-nya ila di uapi, Unda." Seru Kenzi dengan binar bahagia di matanya.
Kania hanya tersenyum melihat binar bahagia di kedua mata anaknya, dan melanjutkan menyuapi makan.
Setelah selesai makan, Kania membereskan sisa makanan yang berceceran di meja makan, dan melanjutkan sarapannya sendiri, Sedang suaminya makan di sebelahnya.
Kenzi sudah turun dari kursi makannya, mungkin lagi nonton televisi ke ruang keluarga di temani bik Siti.
Setelah ketiganya selesai sarapan, Yudha mengeluarkan mobilnya dari garansi, dan di panaskan sebentar mesinnya. 10 menit kemudian Yudha mengemudikan b sendiri, dengan Kania berada di sampingnya, sedangkan Kenzi di belakang.
Satu jam berjalan, ketiganya sudah sampai parkiran rumah sakit dengan tangan yang saling bertautan menuju ke ruang Dokter Ferguson, yang sudah Yudha telepon dari kemarin.
"Masuk." Tutur seseorang dari dalam.
Ceklek...
Pintu terbuka menampilkan sosok Yudha, diikuti Istri, dan anak.
Tanpa basa-basi Dokter Ferguson, mempersilahkan Nyonya Pradipta untuk tidur di brankar tempat tidur yang sudah disediakan di tempat praktek Dokter Ferguson.
Perawatnya mulai menaikan dress yang di pakai Kania, di berikan gel di sekitar perutnya, setelah selesai memberikan gel nya. Dokter Ferguson sudah menggerakkan kursornya, dan sedikit tersenyum karena gerakan kedua anaknya sangat aktif.
__ADS_1
"Gerakan kedua anaknya sangat aktif detak jantung juga bagus, Buk." Tutur Dokter Ferguson.
"Akak au hiyat doktel, boyeh." Tutur Kenzi yang penuh ingin tahu.
"Boleh anak ganteng." Sahut dokternya.
Kenzi di angkat Daddy-nya, agar bisa melihat layar USG, dokternya mulai menggerakkan kursornya, "Ini dia kedua adiknya." Tutur Dokternya.
"Mana? akak au hiyat." Sahut Kenzi yang penasaran.
Setelah melihat kedua Adiknya, senyumnya merekah bak bunga mawar mekar di taman. "Akak eneng Isa hiyat Adik, tetapi adiknya kecil-kecil, Unda." Ujar Kenzi.
"HPL satu minggu lagi, Buk!"
"Mau lahiran normal apa Caesar, Buk."
"Normal, Dok."
Mendekati HPL, ibu harus banyak gerak, usahakan jalan pagi, walaupun cuma 5 menit.
"Pak Yudha harus siagaya." Tutur Dokter Ferguson.
"Debay harus sering-sering dijenguk ya, Pak! biar jalan lahirnya Bagus untuk persalinan normal nanti, Pak."
"Baik-baik Dok."
__ADS_1
Senyum merekah juga di perlihatkan Yudha, jadi istrinya tidak bisa menolak keinginannya untuk olahraga malamnya setiap hari.