
Matahari menyingsing kebarat, tergantikan warna gelap, Senja meninggalkan kesan keindahan, tetapi susah untuk dilupakan.
Sore ini Jakarta di guyur hujan yang intensitasnya sangat deras, Yudha masih terjebak di dalam ruangannya yang berada di lantai lima.
Yudha melihat dari dalam ruangannya, orang-orang yang sedang mencari tempat berteduh atau sekedar untuk numpang sebentar untuk memakai jas hujannya.
Hujan tidak bisa di prediksi kapan berhentinya, yang ada hujan turun begitu deras untuk menyuburkan tanah atau tanaman.
Ingin rasanya Yudha turun, berlari supaya cepat sampai rumah ketemu istri, dan anaknya seperti Doraemon yang mempunyai pintu ajaib.
Sore ini Kania dan Kenzi bergelung satu selimut di kamar utama, karena suasananya sangat dingin enaknya untuk tiduran di kamar, dan saling memeluk.
"Ujannya delas! Daddy ana kok beyum ulang-ulang, Unda?" tanya Kenzi sedang menatap manik matanya Kania.
"Mungkin Daddy terjebak hujan, Sayang." Jawabnya Kania.
"Hiks Hiks asihan Daddy, Unda." Tutur Kenzi sedang menahan tangisnya.
"Cup! nggak boleh nangis! kita doain Daddy supaya selamat sampai rumah ya, sayang." sahut Kania membelai lembut rambut anaknya.
Yudha memutuskan untuk menerjang hujan, karena hujan tidak reda, walaupun intensitasnya berkurang.
Di basement bawah Yudha sudah memasuki mobilnya untuk pulang ke rumah, di tunggu satu jam hujan tidak reda sama sekali. akhirnya nekat pulang dengan catatan harus hati-hati, dan pelan-pelan di jalan.
Yudha mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan, sesekali Yudha melihat di emperan toko banyak yang numpang berteduh, banyak penjual yang belum laku dagangannya.
Membuat Yudha tersenyum getir, mengingat Jakarta selalu terdampak banjir. Banyak menggantungkan hidupnya di Jakarta untuk mencari sesuap nasi, dan recehan rupiah untuk menghidupi keluarganya.
Satu jam perjalanan di lalui nya sangat lama, karena jalannya macet tergenang air hujan, Yudha tiba di rumah pukul 19.00 malam, rasa lelah letih nya terobati melihat istrinya membukakan pintu rumahnya dengan senyum hangatnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Sayang.... sapa Yudha yang berdiri di depan istrinya.
"Walaikumsalam, Sayang nya Bunda." Jawabnya Kania.
Kania mengambil tas yang berada di tangannya suaminya, dan membawanya ke dalam rumah, tidak lupa juga Kania mencium tangan suaminya.
"Mau minum apa, Mas?" tanya Kania.
"Mas, mau teh hangat saja." Jawabnya Yudha.
"Mas, tunggu disini! Kania buatkan dulu." Tutur Kania masuk ke dalam dapur.
Yudha duduk dengan memijat pelipisnya yang terasa pening, dan menyenderkan kepalanya di sofa.
Sesekali Yudha celingak-celinguk mencari keberadaan anaknya yang tidak terlihat Batang hidungnya semenjak pulang kerja.
"Sayang, Kenzi mana?" tanya Yudha sembari menyeruput teh yang di berikan istrinya.
Mengalirlah cerita Kania mulai Kenzi yang menangis menghawatirkan Daddy-nya, semuanya Kania ceritakan.
Mendengar cerita istrinya membuatnya tersenyum tipis, dan membayangkan wajah bakpao anaknya membuatnya tambah gemas.
Selesai mengobrol, dan membersihkan tubuhnya Yudha naik ke tempat tidurnya untuk menghampiri anaknya yang sangat pulas tidurnya.
Akhirnya mereka tidur bertiga dengan posisi berada di tengah Daddy, dan Bundanya. Mereka saling berpelukan untuk menghangatkan tubuh anaknya.
Satu minggu lagi acara 4 bulanan kehamilan Kania, di rumah sudah sangat ramai berbagai persiapan telah dilakukan oleh Yudha, dan Kania.
Terutama menghubungi kedua belah keluarga baik keluarga Yudha, dan keluarga Kania yang tinggal di Semarang.
__ADS_1
Flashback On
Kania mendial nomer budenya, untuk memberitahu berita kehamilannya, dan berita empat bulan kehamilan.
Kania sengaja mengabari keluarganya sekalian acara empat bulanan, karena keluarganya lagi musim panen pasti banyak pekerjaan yang harus di kerjakan di ladangnya.
Pada dering kedua budenya menerima panggilan Kania.
"Assalamu'alaikum, Nduk.... Sapa budenya di Semarang.
"WalaikumsalamBude! apa kabar keluarga di Semarang, Bude?" tanyanya Kania.
"Alhamdulillah sehat, Nduk." Jawabnya Budenya.
"Tumben, pagi-pagi sudah menelepon?" tanya budenya sedikit curiga, karena biasanya Kania menelepon pas jam sibuk, kalau itu tidak penting.
"Begini bude! 10 hari lagi Yudha, dan Kania akan mengadakan syukuran 4 bulanan kehamilan Kania, Bude." Tutur Kania yang sangat was-was, takut budenya marah tidak mau datang ke Jakarta.
"Lhooo piye to Nduk! ora omong-omong Nek wes hamil, Bude bisa datang pas trimester pertama kehamilanmu, Nduk!" Tutur budenya sangat panjang.
"Mboten nopo-nopo bude! Kania sehat, Debay juga sehat." Jawabnya Kania.
"Tolong ya Bude kabari keluarga yang di sana juga." Tutur Kania.
"Iyo-iyo Nduk." Jawab budenya.
"Sampun nggih bude! Kania mau lanjut masak dulu." Tutur Kania.
"Iyo Nduk! sehat-sehat Yo Nduk di sana!"
__ADS_1
Flashback Off