Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Sesion 2 part Empatpuluh Enam


__ADS_3

Sang waktu berjalan begitu cepat, usia kehamilan istrinya sudah masuk bulan ketiga. Rasanya baru kemarin mereka menikah, tidak terasa dalam hitungan bulan istrinya sudah mengandung buah cintanya. Tidak henti-hentinya Tom bersyukur dengan anugerah terindah yang Allah berikan kepada hamba-Nya..


Dalam usia kandungan masuk bulan pertama, kedua, dan ketiga Intan begitu agresif meminta duluan. Terkadang juga Tom sangat kualahan memenuhi permintaan istrinya, meskipun terdengar konyol, tetapi bagi Tom itu sesuatu yang membahagiakan, seorang Tom tidak perlu merayu, atau merengek bila ingin menggarap sawahnya.


Di ruang yang berada di kantor, Tom tersenyum geli aksi istrinya yang semalam begitu sangat agresif. Berbagai gaya kuda-kuda Intan tunjukkan, Intan sangat apik memerankan perannya menjadi istri yang benar-bener haus akan hasratnya.


"Membayangkan saja sudah membuatnya berdiri tegak menjulang tinggi..." Ucapnya Tom sedikit terkekeh.


Berulang-ulang Tom ingin berkonsentrasi memeriksa berkas kantor yang masuk ke ruangannya, tetapi nihil tidak sama sekali Tom selesaikan, bayangan lekuk tubuh Intan membuat konsentrasinya terbelah menjadi dua bagian.


"Ahhhhkk Aku merindukankan-mu...." teriaknya Tom dengan sedikit menjambak rambutnya yang tidak gatal.


Menjelang jam makan siang, Tom memutuskan untuk pulang ke rumahnya berdalih ingin makan berdua dengan sang istri.


"Persetan dengan urusan kantor, yang penting dirinya cepat ketemu dengan candunya..." Ucap Tom merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.


Setelah berpamitan dengan sekertarisnya, Tommy melenggang pergi dengan lift khusus dirinya, dan orang-orang penting saja. Sampai di tempat parkir mobilnya, Tom melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena lalulintas begitu padat merayap menjelang makan siang.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Di dalam kamarnya, Intan sedang menutup wajahnya dengan selimut tebalnya, bila mengingat permintaannya semalam membuatnya sangat malu begitu agresif memimpin permainan.


Rasanya bukan seperti dirinya, Intan tidak terbiasa meminta duluan, tetapi semalam dirinya sungguh diluar ekspektasinya. Malu, dan bahagia yang Intan rasakan, semuanya tersalurkan secara apik.


"Inikan maunya si dedek, bukan Mama kan Dik..." Ucapnya Intan mengelus lembut perutnya yang sudah sedikit menonjol.


Puas berbicara dengan si kecil di dalam perutnya, Intan beranjak dari tempat tidurnya mulai merendam tubuhnya dengan bathub yang di isi air hangat beraroma wangi Citrus. Setelah berada di dalam bathub rasanya begitu menenangkan, lebih rileks, dan lebih nyaman pikirannya begitu sangat plong.


Intan memainkan busa-nya, dan meniupnya layaknya sebuah balon yang di tiup langsung menggembung. 15 menit berendam, Intan sedang menyiram tubuhnya di bawah pancuran air yang menggantung di dalam kamar mandinya.


Setelah mandi, dan berpakaian rapi. Intan keluar kamarnya menuju kamarnya Aira. Aira sudah mandi juga, dan sudah wangi dengan wangi khas anak kecil, membuat sang Mama sangat suka wanginya. Mereka berdua keluar dari kamar saling menautkan jarinya, di perjalanan ke taman belakang di selingi dengan candaan, dan tawanya yang cekikikan sampai terdengar dari arah dapur.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Intan memilih tidur kembali setelah sawahnya semalaman di garap suaminya, Intan melewatkan sarapan pagi bersama suami, dan putrinya.

__ADS_1


Sampainya di belakang, Intan mulai berkebun merawat berbagai tanaman, bunga yang sedang Aira sirami menggunakan media tanam khusus untuk menyirami tanaman. Mereka berdua sungguh bahagia menikmati mentari pagi bersamaan, tidak ada gurat kelelahan di keduanya, terpancar rasa bahagia sesungguhnya menyeruak di keduanya.


"**Krucuk.... krucuk...." bunyi perut Intan membuat keduanya tertawa membahana.


"Sudah lapel ya, Dik?" Ucapnya Aira mengusap-usap perut Mamanya.


"Iya Kaka..." Jawabnya Intan menirukan suara Anak kecil**.


Setelah berkebun, keduanya masuk ke dalam rumah. mereka berdua sedang duduk di meja makan, Intan begitu sangat kelaparan sampai nambah tiga kali. Aira yang menemani Mamanya makan menjadi geli sendiri, melihat Mamanya begitu sangat kelaparan menyantap makanan yang di hidangkan di depannya.


"**Mama mam-nya elan-elan, kasian Adik nanti kesesakan mam-nya..." Ucap Aira dengan sangat polosnya.


"Intan tersenyum tipis, dan melanjutkan makannya " nggak pa-pa, Adik nggak kenapa-kenapa..." Jawabnya Intan yang mulutnya penuh dengan makanan**.


Setelah menemani Mamanya makan, mereka berdua sedang duduk di ruang telivisi, Aira sibuk menonton kartun kesukaannya, sedang Intan sedikit bete karena remote-nya di kuasai putrinya.


Tidak terasa mereka berdua menghabiskan paginya untuk berkebun, dan menonton televisi. Jam 11.00 Aira sudah berulang-ulang menguap, tetapi remote-nya tidak lepas dari gendongannya.


"**Kakak sudah ngantuk?" tanya Intan mengelus rambutnya.


"Aira menggeleng pelan, "Belum Mah..." Jawabnya**.


Tanpa menunggu jawaban Aira, Aira sudah menempel dengan Mamanya, kepalanya sudah di letakkan di pahanya, tidak butuh berjam-jam Aira sudah memejamkan kedua matanya dengan satu tangan masih memegang remote-nya.


"Gitu aja sudah molor, tadi bilangnya nggak ngantuk Kak..." guman Intan lirih sembari tangannya mengusap-usap rambut Aira. Sang kakak juga tidak terbangun, malah mencari posisi yang nyaman.


Setelah tertidur pulas, Intan membopong tubuh Aira untuk di letakkan di atas tempat tidurnya, dan menyelimutinya.


"Kaka makin besar, makin berat..." Ujar Intan sedikit terkekeh.


Selesai mengecup keningnya, dan menutup pintu kamarnya. Intan berlalu ke kamar pribadinya. Intan merebahkan tubuhnya, dan meringkuk seperti bayi di dalam perut.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Tak!.....Tak!....

__ADS_1


Suara langkah kaki suaminya tidak membuat sang istri terbangun, Intan malah semakin memeluk, dan meringkuk di dalam selimut tebalnya.


Tom duduk di sisi tempat tidurnya, tangannya terulur untuk membelai rambutnya, pipinya, dan terakhir mengusap bibirnya yang sudah menjadi candunya.


"Kamu bikin ngangenin terus...." Batinnya Tom. Tom menidurkan tubuhnya di sebelah Intan, tangannya memeluk tubuhnya sang posesif.


Intan menggeliat tubuhnya, dan kedua matanya terpejam kembali. Intan tidak menyadari bahwa yang memeluk dirinya adalah sang suami, Intan semakin nyaman berada dalam dekapan seseorang yang sangat menghangatkan. Intan semakin menelungkup kepalanya ke dalam dada bidang suaminya, semakin intens menghirup aroma yang di rindukan, dan sudah di kenali-nya.


"Tunggu sepertinya suamiku pulang, dari wangi tubuhnya seperti minyak wangi Suamiku ..." Ucap Intan di hatinya, tetapi kedua matanya masih terpejam.


Intan membelalakkan matanya, ternyata yang mendekapnya Tom, Intan berusaha melepas dari Kungkungan tangan suaminya, tetapi rasanya susah untuk di lepas. Pelukan Tom begitu sangat erat, di tambah kepalanya sudah berada di ceruk leher istrinya mulai memainkan sedikit menggigitnya meninggalkan jejak-jejak keunguan.


"Mas masih siang..." Ucap Intan yang sudah menggeliat tubuhnya tidak beraturan, di tambah suaminya begitu aktif menginvasi lehernya Intan.


"Nggak Pa-pa sayang, Mas kangen candu Mas yang ini, mas juga kangen yang ini juga..." tuturnya Tom yang mengecup seluruh titik tubuhnya Intan yang sekarang sudah menjadi candunya.


Akhirnya Intan hanya bisa pasrah menerima permainan suaminya, sebenarnya Intan juga menginginkan suaminya berada di dalam sawah miliknya.


"**Pelan-pelan Mas, takutnya si adik kenapa-napa?" Ujar Intan yang sedikit khawatir, karena semalam baru saja mereka berdua menggarap sawah.


"Mas tahu..." Jawabnya**


Mereka mengulang memori berkasih semalam, sepertinya keduanya tidak pernah puas, selalu ada setiap hari untuk menggarap sawah, Tom juga sangat bersemangat, Intan pun juga sama. Keduanya sama-sama menginginkan untuk berada di bawah tubuhnya, minta untuk di keluarkan di tempat yang tepat.


πŸ’šπŸ’šπŸ’š


Keluarga Pradipta


Beberapa Minggu pulang dari berlibur, anggota keluarga Pradipta semakin heboh untuk berlibur kembali, meskipun itu hanya sebentar, terpenting keluar dari rumah bisa menghirup udara segar seperti di puncak kemarin.


Semuanya tidak lantas di setujui oleh sang pemimpin dalam rumah tangga, kesibukan Yudha yang padat membuatnya tidak menuruti permintaan ke Lima Anak-anaknya. Bukan tanpa alasan, kesibukan pada proyek baru membuatnya harus lebih fokus dengan pekerjaan.


Kania juga sangat memahami kesibukan suaminya, Kania berusaha pelan-pelan menjelaskan ke Anak-anaknya tentang pekerjaan Daddy-nya. Awalnya pada cemberut, dan ingin protes. Dengan kelembutan dan kesabaran yang ekstra, akhirnya Anak-anak memakluminya.


Dengan iming-imingan es krim, dan mainan ke lima Anak-anaknya bisa tersenyum kembali, bisa ceria kembali seperti kemarin. Kania sangat bersyukur, sangat mudah sekali membuat moodnya kembali lagi.

__ADS_1


"Terimakasih istriku, tidak salah Mas memilihmu menjadi istriku, ibu dari Anak-anak-ku..." Ucapnya Yudha mengecup kening, pipi, dan bibirnya sangat intens.


Partnya gimana? seandainya Yudha Kania di gabung ke partnya Tom Intan? kasih krisannya dong😁😁😁


__ADS_2